Bismillah...
Kehidupan kota Jakarta kadang membuatku
merasa cukup kelelahan setelah beraktivitas karena sebagian besar waktuku
banyak kuhabiskan di jalan. Menghadapi kemacetan berjam-jam di jalanan adalah
satu kondisi yang sangat baru bagiku. Dulunya saya bisa mengatur waktuku
sendiri karena saya bisa mengendarai motor kemana-mana. Sekarang saya tak bisa
lagi berangkat seenaknya karena tak bisa lagi ngebut di jalanan. Sekarang saya
harus menikmati macet berkepanjangan dan menunggu angkot atau pun busway yang
lumayan lama. Itulah sebabnya penyesuaian diri yang paling sulit kulakukan
diawal-awal adalah “manajemen waktu”. Setiap kali akan beraktivitas, harus
berangkat satu atau dua jam sebelum kegiatan dimulai karena harus menyediakan
waktu untuk bermacet-macet ria atau pun menunggu angkot yang lama. Hingga ketika
tiba di kostan, hanya ingin segera beristirahat. Hal ini tentunya berpengaruh
pada tilawah saya tiap pekan yang tak bisa mencapai target.
Kondisi di atas hanya satu dari
beberapa hal yang harus kuhadapi untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dan
suasana yang baru. Hingga suatu waktu ketika saya sedang berada di kereta,
Allah mempertemukanku dengan seorang akhwat. Dilihat dari ekspresi wajahnya
yang terlihat kelelahan, sepertianya dia baru pulang kerja. Dia memilih tempat
duduk di pojok. Pikirku “mungkin dia mau tidur sepanjang jalan, seperti yang
dilakukan oleh beberapa penumpang yang lain”. Tiba-tiba dia membuka tasnya dan
mengeluarkan Al Qur’an-nya. Dia pun mulai tilawah di sepanjang jalan hingga tiba
di tempat tujuannya. Pengalaman ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi saya
untuk melatih sebuah kebiasaan baik ditengah kondisi dimana saya harus bisa
beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru. Karena buat saya pribadi
bukan hal yang mudah untuk bisa membaca di kendaraan yang sedang melaju. Hal ini
terkadang membuatku pusing dan saya butuh waktu untuk melatih kebiasaan ini.
Sejak saat itulah saya lagi-lagi
belajar bahwa tak selamanya kita akan berada dalam lingkungan yang kondusif.
Terkadang kita akan berhadapan dengan orang-orang atau pun kondisi yang menguji keimanan kita. Teringat
nasehat dari Sang Murabbi bahwa salah satu kendala yang kadang dihadapi oleh
mahasiswa yang hanya sibuk bersosialisasi di kampus adalah mereka akan
mengalami “shock culture” ketika terjun ke masyarakat. Hal ini disebabkan
karena kondisi kampus sangat jauh berbeda dengan masyarakat.
Sejak itulah saya berusaha untuk
menjaga kondisi ruhiyah agar bisa menjadi tameng menghadapi pengaruh-pengaruh
negatif di sekitarku. Salah satu cara yang saya lakukan adalah bergabung di Komunitas
Odoj. Tujuan saya sederhana, hanya ingin menjaga diri saya untuk selalu berada
di komunitas yang selalu mengingatkanku pada kebaikan. Selain itu, komunitas
ini juga melatih kebiasaan tilawah one day one juz. Mungkin bagi teman-teman
yang belum terbiasa akan merasakan perjuangan yang sangat berat. Bahkan butuh
perjuangan untuk melatih suatu kebiasaan baik hingga menjadi sebuah kebutuhan. Tetapi
saya selalu berusaha untuk menikmati prosesnya. Kelak ketika bisa melewati
masa-masa sulit, maka kita akan tersenyum jika mengenang kembali semua proses
yang telah dilewati.
Komunitas ini telah
mempertemukanku dengan saudari-saudari baru dari berbagai daerah dan aktivitas.
Komunitas ini juga membuatku kagum pada beberapa teman yang harus mengurus
keluarganya, mengantar anaknya ke sekolah, mengurus kerjaan di kantor, bahkan
disaat anaknya sedang sakit pun mereka masih berkomitmen untuk menjaga agar
bisa tilawah one day one juz. Hal ini menjadi sebuah teguran buatku pribadi,
“mereka aja yang punya segudang aktivitas bahkan harus mengurusi keluarganya
masih bisa odoj, apalagi saya yang hanya mengurusi kuliah alias belum
berkeluarga”. Selain itu, saya juga bisa merasakan semangat untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan. Apalagi ketika malam hari ternyata sudah ada
yang kholas untuk menu Odoj berikutnya. Seperti berbicara pada diri sendiri, “Hei
Bonita, sampai dimana tilawahmu? Sudahkah engkau menyentuh Al-Qur’anmu hari
ini? Kebaikan apa yang sudah engkau lakukan hari ini?”
Dan Alhamdulillah 30 hari sudah saya
merasakan sensasi bergabung di Komunitas One Day One Juz, khususnya di group
1163. Merasakan sensasinya saling
mengingatkan dan menyemangati untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Awalnya saya jarang nimbrung di group untuk menyemangati teman-teman yang lain.
Apalagi jika seharian beraktivitas di luar, saya hanya menjadi anggota yang
pasif alias hanya melihat perkembangan di group melihat siapa aja yang belum
kholas. Hanya sesekali memberi mereka semangat untuk menyelesaikan tilawahnya.
Hingga akhirnya saya kebagian menjadi PJ dan disitulah Allah memberiku
pelajaran berharga. Saya belajar bahwa sesibuk apapun diriku, saudaraku masih
punya hak atas diriku. Ketika kita sudah berkomitmen bahwa diri ini sudah
sepenuhnya kita serahkan untuk Allah, maka saat itulah diri kita tak lagi
menjadi milik kita. Diri ini sudah menjadi milik jalan dakwah ini. Menebar
kebaikan, memberikan semangat kepada saudara-saudara kita yang sedang berusaha
untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
Buat saudari-saudariku di Group
Odoj 1163, “Terima Kasih untuk semua pelajaran berharga selama satu bulan ini.
Terima kasih untuk semua teman-teman yang selalu menyemangati untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita belum pernah betatap muka, hanya bisa
saling mengenal dari foto dan komentar-komentar di group. Tetapi saya selalu
berharap semoga ukhuwah kita tak hanya di group ini, semoga ukhuwah kita tak
hanya di dunia, tetapi hingga di surga-Nya kelak. Saudariku, semoga tak ada
lelang diantara kita. Komitmen untuk menjaga semangat tilawah one day one juz
dan saling menyemangati harus dijaga. Karena Allah sudah mempertemukan kita
dalam group ini, maka kita sudah bersaudara dan sudah menjadi kewajiban kita
untuk saling mengingatkan dan menyemangati dalam kebaikan. Tentunya semata-mata
untuk terus menjaga kedekatan kita dengan Allah dan menjadikan Al Qur’an
sebagai sebuah kebutuhan dalam hidup kita. Di akhir tulisan ini izinkan saya
menyampaikan, sungguh saya mencintaimu karena Allah dan semoga Allah
mempersaudarakan kita hingga di surga-Nya kelak. Aaminn Ya Rabbal ‘alamin ”
Salam Odoj, Bonita Mahmud (Anggota
Group Odoj 1163)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar