Rabu, 07 Januari 2015

Jagalah Rumahmu

Bismillah...

Aku berdiri di salah satu sudut mall. Aku menunggu teman-teman yang akan reunian. Janjiannya sih pukul 04.00 Wita. Tetapi satu orang pun belum ada yang datang. Hingga akhirnya aku meneruskan kebiasaanku ketika menunggu, mengamati dan menulis.

Yaa, mengamati aktivitas orang-orang di sekitarku. Ada yang jalan sendiri dengan wajah tanpa senyum. Ada yang berjalan sambil membawa barang belanjaannya. Ada juga sekelompok remaja yang berjalan dengan teman-temannya sambil tertawa. Hingga akhirnya aku menemukan ide tulisan ini. Semoga bermanfaat... ^_^

Melihat orang-orang yang hadir dihadapanku saat menunggu, aku berpikir bahwa seperti inilah kehidupan. Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang hanya sekedar lewat saja, ada yang ditakdirkan denganmu untuk berinteraksi sejenak, ada yang akan menjadi kawanmu lalu dia akan pergi, bahkan ada yang akan berdiri di sampingmu menemanimu melewati setiap kejadian. Bahkan orang yang lewat dihadapanku lalu membalas senyumku, hal itu pun sudah diatur oleh Allah.  Tak ada yang luput dari Sang Maha Pengatur Kehidupan.

Sahabatku...
Engkau pasti punya rumah kan?
Pastinya engkau akan menjaga baik-baik rumahmu agar tidak kemalingan. Hanya orang-orang tertentu yang engkau izinkan masuk ke dalam rumahmu. Ibu, ayah, saudara, paman, bibi, dan orang-orang terdekatmu pastinya akan ikut menjaga rumahmu. Jika ada orang yang datang dan engkau tidak mengenalnya, maka pastinya engkau tak akan mengizinkannya masuk begitu saja. Kecuali dia adalah teman dari orang tuamu atau saudaramu yang mungkin datang untuk bertamu.

Banyak orang yang melewati rumahmu. Ada yang hanya sekedar lewat saja. Ada yang hanya mampir sebentar untuk menanyakan alamat atau numpang berteduh. Ada yang memang datang bertamu karena dia adalah sahabatmu atau teman dari orang terdekatmu.

Jika engkau punya rumah yang akan selalu kau jaga baik-baik agar tidak kemalingan, maka sejatinya engkau pun punya sebuah rumah dalam dirimu.
Rumah yang harus engkau jaga baik-baik...
Rumah yang pintunya hanya akan engkau buka jika waktunya telah tiba...
Rumah yang kuncinya akan engkau berikan pada seseorang yang dipilihkan oleh Allah untukmu...
Rumah yang akan engkau isi dengan seseorang yang akan semakin membuatmu semakin mencintai Sang Pemilik rumahmu...
Rumah itu adalah "hatimu"...
Yaaa...
Hatimu...
Jagalah dia baik-baik...
Hingga benar-benar tiba saatnya engkau memberikan kuncinya kepada seseorang yang dipilihkan oleh Allah untukmu...
Dan pastinya mintalah kepada-Nya...
Mintalah agar Dia senantiasa menjaga hatimu...
Karena sejatinya, Dia-lah Sang Pemilik Hati...

Wallahu a'lam bi shawab...

# 7 Januari 2015
Di salah satu sudut perenungan...
Memaknai kehadiran orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku...
Terima kasih telah menjadi guru kehidupanku...
Terima kasih untuk orang-orang yang selalu membantu dan mengingatkanku untuk menjaga rumahku...
Terima kasih untuk orang-orang yang sudah mau menerima prinsip hidupku...
Terima kasih untuk orang-orang yang sudah mau menerimaku apa adanya... ^_^

Kamis, 01 Januari 2015

Ketika Aku Bisa Menerima...

Bismillah...

Ide tulisan ini muncul saat aku sedang menunggu hujan reda. Aku tadi keluar sebentar untuk memenuhi permintaan kakak. Aku sengaja tidak membawa HP atau pun buku bacaan yang selalu kusediakan jika aku harus menunggu. Aku pikir hanya sebentar, ternyata hujan memaksaku untuk berdiri di antara orang-orang yang sedang menanti hujan reda.

HP gak ada, buku gak ada. Mengutuk keadaan pun tak ada gunanya. Hingga akhirnya kuputuskan untuk menikmati semua kondisi tersebut. Aku berdiri menatap hujan yang belum juga ada niat untuk berhenti. Aku melirik jam tanganku. Jarumnya sudah menunjukkan pukul 08.30 Wita.

"Semua akan baik-baik saja Boni".

Aku menenangkan diriku sendiri. Aku kepikiran Mama yang kutinggal sendiri di rumah. Semoga dia tak khawatir karena aku tidak membawa handphone.

Menikmati hujan turun dan ditemani oleh sang waktu. Hingga akhirnya aku menemukan satu kata yang membuatku tersenyum-senyum sendiri.

MENERIMA...

Satu kata yang kedengarannya mudah, tetapi kadang tak mudah untuk melakukannya. Aku belajar menerima kondisi saat itu tanpa harus mengutuk keadaan.

Aku tak tahu apakah ini benar atau salah. Aku menemukan definisi kebahagiaan menurut pemahamanku sendiri.

"Bahagia itu Menerima"...

Menerima setiap kondisi yang kita hadapi...
Menerima setiap pemberian Allah, banyak atau sedikit...
Menerima setiap skenario yang telah dituliskan Allah untukmu...
Menerima kehidupan yang telah diberikan oleh Allah...

Satu kata itu tiba-tiba muncul di benakku...
Hujan tadi mengingatkanku pada cerita sahabat-sahabatku yang masih saja mempercayaiku menjadi "tempat sampahnya". Mungkin ini salah satu hal yang harus kuterima sebagai anak psikologi. Harus selalu siap menjadi pendengar yang baik, hehehe...

Aku teringat pada cerita sahabatku yang menyesali beberapa keputusan hidupnya. Aku hanya berpikir, "berapa lama mereka akan menghabiskan waktunya untuk sebuah penyesalan?"

Bukankah seorang lelaki sangat bahagia ketika wali perempuan menerima lamarannya?
Atau seorang laki-laki yang akan memulai kehidupan barunya dengan mengatakan, "saya terima nikahnya...."
Atau saat pemilik perusahaan berkata, "Saya terima kamu bekerja disini..."
Atau saat ibu mengatakan, "Ibu terima keputusan kamu..."

Mungkin pemahamanku ini masih dangkal. Tetapi satu pelajaran moral yang bisa kuambil dari semua cerita mereka adalah terkadang kita sulit menerima suatu kondisi karena si pelaku sendiri yang tidak mau menerima. Sebagian besar hanya sibuk berandai-andai. Padahal sudah jelas bahwa perbuatan berandai-andai adalah perbuatan syaithon.

Ya...
Belajar menerima setiap kondisi dengan lapang dada...
Belajar menerima setiap skenario Allah dengan tetap berprsangka baik kepada-Nya...
Belajar menerima setiap pemberian rezeki dari Allah, banyak atau sedikit harus tetap disyukuri...
Belajar menerima setiap ketetapan-Nya yang tak sejalan dengan keinginan kita...

Lalu bagaimana aku harus menerima kondisi yang tak sejalan dengan keinginanku?
Yaaa, terimalah semua kondisi tersebut. Kondisi yang kamu hadapi saat ini adalah sebuah konsekuensi dari sebuah keputusan yang pernah engkau ambil. Dalam kondisi seperti ini mungkin akan lebih membutuhkan waktu yang banyak. Waktu untuk menerima semua kondisi tersebut. Perlahan-lahan waktu yang akan mengajarimu untuk menerima semuanya.

Yakinlah bahwa Allah adalah sebaik-baik sutradara kehidupan...
Dia telah mengatur kehidupanmu dengan sebaik mungkin...
Karena Dia lebih tahu yang terbaik untukmu...
Karena hanya Dia yang lebih berhak mengatur hidupmu...

Saat engkau bisa menerima semuanya...
Hatimu akan terasa lapang...
Dan katakanlah pada dirimu, "Cukup bagiku Allah"...
Bibirmu akan tersenyum dengan sendirinya...
Karena saat itu hatimu sudah melepaskan semua fatamorgana dunia...
Dan engkau menerima setiap ketetapan yang telah dituliskanNya untukmu...
Engkau ridho dengan semua hal yang telah dituliskan olehNya untukmu...

Wallahu a'lam bi shawab...

# 1 Januari 2015
Di sebuah tempat yang tenang...
Ditemani oleh suara hujan...
Dan senyum simpul penuh kebahagiaan... ^_^

Rabu, 31 Desember 2014

Refleksi 2014...

Bismillah...

31 Desember 2014...
Sebenarnya tak ada yang special. Aku hanya ingin menulis. Hanya itu. Jika kelak aku membaca tulisan ini lagi, setidaknya menjadi pengingat buat diriku. Pengingat untuk selalu mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah untukku.

Tahun 2014 adalah tahun yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal yang kualami tahun ini dan memberiku banyak pelajaran moral. Aku seperti berada dalam sebuah permainan roller coaster. Penuh dengan kejadian-kejadian yang tak terduga.

Tahun 2014...
Masa-masa yang berat pernah kualami di tahun ini. Masa ketika aku berada di sebuah titik ingin menyerah pada keadaan dan aku merasa tak sanggup lagi menyelesaikan semuanya. Tetapi kehadiran orang-orang di sekitarku yang selalu mendukung dan mendoakanku membuatku kuat dan berusaha untuk terus bertahan. Bertahan untuk melanjutkan dan menyelesaikan semuanya. Hingga akhirnya aku bisa menghadapi dan melewatinya.

Tahun 2014...
Mimpi untuk kuliah dengan beasiswa tanpa membebani mamaku alhamdulillah bisa terwujud. Dan yang pastinya janji untuk selesai tepat waktu bisa kupenuhi dengan hasil yang sangat memuaskan. Setiap kali melihat tesisku, aku teringat pada orang-orang yang selalu mendukungku dalam menyelesaikan tugas akhir tersebut. Mama yang selalu menyemangati dan mendoakanku. Kakak-kakak yang selalu mendukung dan mendoakanku. Sahabat yang menemaniku begadang tiap malam karena dikejar oleh waktu. Sahabat yang selalu mendengarkan setiap curhat untuk rindu yang tak tersampaikan pada keluarga yang jauh. Yaa, kami sudah berjanji untuk tidak menangis setiap kali menelpon dengan keluarga. Mereka hanya boleh tahu kalau kami baik-baik saja di perantauan. Besse, Supi, Neni, Dini, K'Tri, aku merindukan kalian. Ada lagi satu orang yang tak terlupakan, adikku Neni yang selalu bertanya, "kakak-kakak mauki makan apa? Jangan meki tinggalkan laptopta', nanti saya saja yang keluar beli makan." Ahhh, bagaimana kabarmu sekarang dek? Semoga tesismu pun berjalan lancar dan bisa selesai tepat waktu.

Tahun 2014...
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah untuk keluargaku. Kakak-kakak yang bisa kembali berkumpul dengan keluarganya setelah ditugaskan di daerah lain. Kakak yang lulus PNS dan masih banyak lagi berkah di tahun ini. Sungguh setiap nikmat yang diberikan oleh Allah adalah sebuah ujian. Apakah kita menjadi hamba yang bersyukur atau malah sebaliknya? Semoga Allah senantiasa menuntun hati-hati kami untuk selalu mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Tahun 2014...
Alhamdulillah, banyak hal yang bisa kucapai tahun ini. Mimpi empat tahun lalu akhirnya bisa tercapai juga. Lagi-lagi semua atas kehendak Allah. Aku hanya belajar untuk terus berani bermimpi jika mimpi itu adalah sebuah kebaikan. Bagaimana caranya bisa terwujud? Biarlah Allah yang mengatur semuanya. Biarlah Allah yang menuntun langkah-langkahmu karena Allah lebih tahu yang terbaik dan kapan waktu yang tepat untukmu. Tugas kita hanya berusaha, berdoa, dan selalu berprasangka baik kepada Allah. Ketika ada yang tidak sesuai dengan rencanamu, maka sungguh rencana Allah jauh lebih indah untukmu. Hingga akhirnya engkau hanya bisa terkagum-kagum dengan semua rencana indah dari-Nya.

Tahun 2014...
Ketika aku menginginkan sesuatu dan orang-orang di sekitarku mengatakan, "Kamu tidak akan bisa! Kamu tidak akan mampu!". Terkadang untuk sebuah kebaikan, kita harus menjadi orang tuli. Tuli terhadap hal-hal negatif yang bisa mematahkan keyakinan kita. Dan Alhamdulillah aku bisa mencapainya. Aku mendapatkan apa yang dikatakan orang-orang tak akan pernah bisa kudapatkan. Dari pengalaman ini, aku belajar satu hal, "Niatkan semua hal untuk Allah. Termasuk dalam hal pekerjaan. Ketika engkau menolong agama Allah, maka Allah yang akan menolongmu." Yaa, apapun yang kulakukan saat ini semua semata-mata untuk-Nya. Aku teringat dengan sahabat-sahabat dalam lingkaran kecilku, "Sekarang kita berpisah untuk menjadi lebih baik. Kelak kita harus kembali ke kampus yang telah membuat kita bertemu di jalan ini." Saat itu kami hanya bermimpi dan aku bisa mewujudkan mimpi kami. Yaaa, aku menyebutnya "mimpi kami". Karena semua itu adalah mimpi-mimpi kami. Entah siapa yang duluan, entah siapa yang akan kembali, tetapi kami harus berusaha untuk mewujudkannya. Aku berharap ketika mereka kembali dari rantau, kita bisa kembali berkumpul dalam taman-taman surga-Nya dan kembali merangkai mimpi-mimpi kita. Duhai kawan, bagaimana kabar imanmu disana? Semoga Allah selalu mengikat hati-hati kita dalam cinta-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Tahun 2014...
Aku mendapatkan pelajaran akan arti sebuah keluarga. Aku pernah berada di satu titik ketika aku bingung harus mengambil sebuah keputusan. Titik dimana mimpimu tak sejalan dengan harapan ibumu. Dan di saat itulah engkau harus memilih, antara mempertahankan egomu atau memenuhi harapan ibumu. Memenuhi harapan ibumu sama saja dengan mengubur dalam-dalam semua mimpi yang pernah engkau bangun. Hingga akhirnya aku memutuskan memilih ibuku. Mungkin inilah hal yang paling berat untuk bisa kulewati tahun ini. Melawan egoku yang terus saja berontak. Dan perlahan-lahan mengajaknya untuk berdamai. Hingga waktu jualah yang akhirnya menjawab semuanya.

Saat itu aku hanya meyakini satu hal, "Ridho Ibumu berarti ridhonya Allah". Aku tak mungkin melangkah tanpa keridhoan dari mamaku. Toh saat ini aku hanya punya mama dan surgaku ada padanya. Aku yakin, kelak Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Aku tak pernah tahu seperti apa, tetapi hanya ini yang bisa kuberikan untuk mamaku. Mamaku yang telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untukku. Mamaku yang senantiasa menyebut namaku dalam doa-doanya tanpa pernah kuminta. Mamaku yang senantiasa hadir saat aku terjatuh dan membantuku bangkit kembali. Apa yang kuberikan belum ada apa-apanya dibanding apa yang telah diberikannya untukku.

Ahhh Mamaku sayang...
Setiap kali menulis tentangmu, aku tak pernah bisa menahan air mata yang terus saja memaksa untuk keluar. Saat ini aku hanya ingin membahagiakanmu. Aku ingin selalu membuatmu tersenyum. Akhir-akhir ini aku menyadari bahwa kondisi kesehatanmu semakin menurun. Dan aku ingin terus mendampingimu di masa-masa tuamu. Berusaha untuk selalu menggoreskan senyuman di wajahmu. Meskipun aku tahu keinginan terbesarmu saat ini adalah melihatku menyempurnakan setengah dien-ku. Ahhh Mama, topik yang selalu menghiasi obrolan kita. Aku bersyukur karena Mama tak seperti orang-orang di sekitarku yang selalu memintaku untuk pacaran. Mama selalu percaya pada setiap keputusanku, termasuk prinsipku yang satu ini. Jodoh, rezeki, dan usia semua sudah diatur. Dan izinkan aku menyempurnakan setengah dien-ku dengan cara yang diberkahi dan diridhoi oleh Allah. "Jika waktunya tiba, Allah yang akan menuntunnya dan menghadirkan dia untukmu." Kalimat itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak nasehatnya.

"Mamaku sayang, ketika semua orang berkomentar tentang hidupku, asalkan engkau percaya padaku, itu sudah cukup bagiku. Cukup engkau percaya padaku, aku akan selalu kuat menghadapi semuanya."

Ya Allah...
Terima kasih untuk semuanya...
Setiap nikmat yang Engkau berikan untukku, kumohon ajari hamba untuk selalu bersyukur...
Jadikan hamba ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mensyukuri nikmatMu...
Setiap ujian yang Engkau berikan, kumohon ajari hamba untuk selalu bersabar...
Hamba yakin bahwa semua itu adalah wujud kasih sayangMu untukku...
Jadikan hamba ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersabar dalam ketaatan...
Aamiin Ya Rabbal 'alamin...

#Makassar, 31 Desember 2014
Dalam Ruang Perenungan...
Saat engkau mensyukuri nikmat Allah, maka Dia akan menambah nikmat yang lain untukmu...
Belajarlah untuk terus berprasangka baik kepada Allah...
Tuliskan mimpi-mimpimu...
Berusaha dan berdoalah untuk mewujudkannya...
Jangan sampai semuanya hanya menjadi sebuah angan-angan...
Dan libatkan Allah dalam mewujudkannya... ^_^
Selamat Datang 2015!!!
Selamat Datang Mimpi-mimpiku!!! ^_^

Minggu, 28 Desember 2014

Long Weekend

Jam menunjukkan pukul 02.54 Wita. Semua orang di rumah masih terlelap, termasuk bocah-bocah yang menemaniku seharian. Sementara aku masih setia dengan novelnya Bang Tere.

Sebenarnya belum ada ide untuk menulis, tapi aku pengen coret-coret aja di blog ini. Tiga hari ini aku merasa sangat bahagia. Bisa berkumpul lagi dengan keluarga adalah sesuatu yang mahal buatku. Susah sekali menemukan waktu yang pas buat ngumpul bersama. Alhamdulillah, ada long weekend dan semua bisa pulang. Pulang ke rumah tempat kami tumbuh bersama.

Sebenarnya hal yang paling membahagiakan adalah melihat wajah bahagia Mamaku. Aku tahu hal inilah yang paling dirindukannya. Berkumpul dengan anak-anaknya yang sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku suka melihat senyum bahagianya ketika melihat kami makan masakannya. Aku suka melihat matanya yang berbinar saat melihat cucunya menikmati masakannya.

Long weekend yang hanya dihabiskan di rumah sudah sangat membuat kami bahagia. Ada satu hal yang kusyukuri. Mama dan Bapak membuat kami selalu betah di rumah sejak kecil. Mungkin ini salah satu penyebabnya aku lebih suka di rumah. Minum teh ditambah pisang goreng sebagai pendampingnya sudah membuat aku bahagia asalkan bisa kunikmati dengan orang-orang yang kusayang.

Yaaa, bukan soal apa tetapi dengan siapa engkau melewati semuanya. Meskipun aku kembali jadi bulan-bulanan mereka, tak mengapa. Aku menyadari posisiku sebagai si bungsu yang jadi trending topic di keluarga akhir-akhir ini. Hehehehe... Bukannya ke-GR-an gan, tapi memang seperti itulah faktanya. Aku tahu keinginan mereka yang sudah ingin melihatku punya kehidupan sendiri. Aku hanya bisa jadi pendengar yang baik saat mereka membahas topik yang sama. Begitulah cara mereka menyayangiku. Aku lagi-lagi hanya punya Allah untuk urusan hal itu. Allah sudah mengatur semuanya, makanya gak perlu pusing memikirkannya. Seperti nasehat kakakku, "sibukkan dirimu dalam hal kebaikan, maka kebaikan pun akan mendatangimu".

Ya Allah...
Jagalah keluargaku dengan sebaik-baik penjagaan-Mu...
Jagalah Mamaku dan sayangilah dia sebagaimana dia menyayangiku...
Jagalah kakak-kakakku dan keluarganya...
Kumpulkanlah kami di surgaMu kelak ya Rabb...
Aamiin ya Rabbal 'alamin...

#Sinjai, 28 Desember 2014
Long weekend telah berakhir...
Kembali menikmati aktivitas pengabdian kepada Sang Maha Pemberi Rezki... ^_^

Long Weekend

Jam menunjukkan pukul 02.54 Wita. Semua orang di rumah masih terlelap, termasuk bocah-bocah yang menemaniku seharian. Semwntara aku masih setia dengan novelnya Bang Tere.

Sebenarnya belum ada ide untuk menulis, tapi aku pengen coret-coret aja di blog ini. Tiga hari ini aku merasa sangat bahagia. Bisa berkumpul lagi dengan keluarga adalah sesuatu yang mahal buatku. Susah sekali menemukan waktu yang pas buat ngumpul bersama. Alhamdulillah, ada long weekend dan semua bisa pulang. Pulang ke rumah tempat kami tumbuh bersama.

Sebenarnya hal yang paling membahagiakan adalah melihat wajah bahagia Mamaku. Aku tahu hal inilah yang paling dirindukannya. Berkumpul dengan anak-anaknya yang sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku suka melihat senyum bahagianya ketika melihat kami makan masakannya. Aku suka melihat matanya yang berbinar saat melihat cucunya menikmati masakannya.

Long weekend yang hanya dihabiskan di rumah sudah sangat membuat kami bahagia. Ada satu hal yang kusyukuri. Mama dan Bapak membuat kami selalu betah di rumah sejak kecil. Mungkin ini salah satu penyebabnya aku lebih suka di rumah. Minum teh ditambah pisang goreng sebagai pendampingnya sudah membuat aku bahagia asalkan bisa kunikmati dengan orang-orang yang kusayang.

Yaaa, bukan soal apa tetapi dengan siapa engkau melewati semuanya. Meskipun aku kembali jadi bulan-bulanan mereka, tak mengapa. Aku menyadari posisiku sebagai si bungsu yang jadi trending topic di keluarga akhir-akhir ini. Hehehehe... Bukannya ke-GR-an gan, tapi memang seperti itulah faktanya. Aku tahu keinginan mereka yang sudah ingin melihatku punya kehidupan sendiri. Aku hanya bisa jadi pendengar yang baik saat mereka membahas topik yang sama. Begitulah cara mereka menyayangiku. Aku lagi-lagi hanya punya Allah untuk urusan hal itu. Allah sudah mengatur semuanya, makanya gak perlu pusing memikirkannya. Seperti nasehat kakakku, "sibukkan dirimu dalam hal kebaikan, maka kebaikan pun akan mendatangimu".

Ya Allah...
Jagalah keluargaku dengan sebaik-baik penjagaan-Mu...
Jagalah Mamaku dan sayangilah dia sebagaimana dia menyayangiku...
Jagalah kakak-kakakku dan keluarganya...
Kumpulkanlah kami di surgaMu kelak ya Rabb...
Aamiin ya Rabbal 'alamin...

#Sinjai, 28 Desember 2014
Long weekend telah berakhir...
Kembali menikmati aktivitas pengabdian kepada Sang Maha Pemberi Rezki... ^_^

Selasa, 23 Desember 2014

Bersyukur Atas Pilihan Hidup

Tak terasa sudah hampir tiga bulan aku kembali dari perantauan. Dua tahun bukan waktu yang singkat buat aku yang baru merasakan jauh dari keluarga. Dua tahun telah memberiku banyak pelajaran moral untuk menjalani sekolah di Universitas Kehidupan.

Terkadang rasa rindu itu datang menghampiriku. Rindu pengen jadi mahasiswa lagi. Rindu dengan aktivitas sabtu-minggu, buka twitter, dan cari info di masjid mana lagi yang ada kajian bagus. Rindu dengan orang-orang yang telah dikirimkan oleh Allah untuk menjadi guru dalam kehidupanku.

Dua bulan terakhir ini aku kembali belajar beradaptasi. Menjalani kembali kehidupanku seperti sebelum aku meninggalkan semuanya. Tentunya dengan orang-orang baru dan suasana baru. Meskipun aktivitasku masih tetap sama, mengajar. Kalau dulu ngajarnya anak-anak, sekarang aku harus menghadapi mahasiswa. Dunia anak-anak dan orang dewasa tentunya sangat berbeda untuk bisa memahaminya. Dan jujur, aku lebih menyukai mengajar anak-anak. Mengajari anak-anak membuat hari-hariku selalu penuh warna. Cerita hari ini pasti akan berbeda dengan cerita esok hari karena dunia mereka yang tidak mudah untuk ditebak.

Kembali ke dunia kampus membuat waktuku jauh lebih fleksibel. Jadwal mengajar yang tidak tiap hari, membuat waktuku lebih banyak kuhabiskan di rumah. Dan inilah hal yang baru kembali kurasakan, menjalani aktivitas ibu rumah tangga. Mengapa aku menyebutnya seperti itu?

Dua tahun menjadi seorang mahasiswa tentunya membuat aktivitasku lebih banyak di kampus. Perpustakaan, depan laptop, membaca buku-buku, dan makan seadanya menjadi aktivitas rutinku. Maklumlah anak beasiswa, jadi harus kejar-kejaran dengan waktu biar bisa selesai tepat waktu... heheehehe...

Dan sekarang aku harus kembali mengatur waktu, antara pekerjaan dan rumah. Ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa menjalani semuanya.

Baru-baru ini aku punya pengalaman yang membuatku semakin mencintai ibuku. Pengalaman yang membuatku tersadar betapa beratnya tugas ibuku selama ini. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya untuk suami dan anak-anaknya. Aku bahkan meragukan kemampuanku, apakah aku bisa seperti dia. Tetapi satu hal yang kutanamkan pada diriku, "Aku ingin belajar seperti ibuku!"

Beberapa hari yang lalu, kakak lagi ada kerjaan. Aku yang lagi gak ngajar hari itu menawarkan diri untuk menjaga anaknya. Daripada aku sendirian di rumah, alhamdulillah ada bocah yang bisa kuajak bercerita. Jadilah seharian itu aku bersama Azizah. Salah satu keponakanku yang super duper cerewet dan usianya baru mau empat tahun.

Seharian bersamanya memberiku banyak pelajaran betapa tak mudahnya menjadi seorang ibu. Belajar mengelola emosi, lebih banyak bersabar, dan tak boleh mengeluh. Apalagi buat aku yang sudah terlanjur tahu teori-teori perkembangan anak, harus bisa menerapkannya dan tidak hanya menjadi sekedar jago berteori. Saat aku harus melakukan aktivitas di dapur, dia mulai banyak bertanya.

"Apa dikerja Tante Boni?"
"Apa itu yang kita pegang?"
"Boleh saya bantu?"
"Kenapa dikasi begitu?"

Dan masih banyak lagi daftar pertanyaannya. Sebenarnya mudah sekali membuat dia diam dan berhenti bertanya. Tetapi betapa jahatnya diriku jika aku melakukan semua itu. Tidak menjawab pertanyaannya sama saja aku mematikan rasa ingin tahunya dan aku pun membuat dia tak mau belajar lagi nantinya.

Belajar mengelola waktu, antara mengurus pekerjaan rumah dan memenuhi setiap kebutuhannya, bukanlah pekerjaan yang mudah. Harus punya banyak stok kesabaran untuk menyelesaikan semuanya. Hingga akhirnya aku menyadari betapa tak mudahnya ibuku menjalani tugasnya selama ini. Aku juga semakin paham akan kisah beberapa temanku yang pernah curhat. Mereka bingung harus memilih, antara menjadi seorang wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga.

Aku tak pernah meminta mereka untuk memilih. Aku hanya mengingatkan mereka akan tugas utamanya setelah menikah. Meskipun aku belum tahu seperti apa kehidupan mereka, tetapi penglaman kemarin telah memberiku pelajaran bahwa menjalani dua hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Dan boleh dibilang, inilah salah satu alasanku memilih menjadi seorang pendidik.

Aku jadi teringat dengan salah satu sahabatku ketika aku bertanya, "Mengapa kamu memilih menjadi seorang guru?". Jawabannya saat itu sederhana, "Aku perempuan Boni dan kelak aku akan menjadi seorang Ibu." Saat itu aku belum memahami jawabannya. Dan sekarang aku baru memahami pilihan hidupnya yang kini menjadi pilihan hidupku juga.

Buat teman-temanku yang memilih menjadi ibu rumah tangga...
Syukurilah apa yang menjadi pilihan hidup kalian. Tak perlu engkau banding-bandingkan hidupmu dengan orang lain. Cobalah buka mata hatimu dan lihatlah betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah untukmu.

Buat teman-temanku yang memilih menjadi wanita karir...
Syukurilah apa yang menjadi pilihan hidupmu. Engkau pasti sudah tahu konsekuensi dari pilihan hidupmu. Engkau pun pasti punya alasan dengan pilihan hidupmu saat ini. Maka jalanilah pilihanmu dengan konsekuensi tersebut. Titipkan anakmu pada Allah. Karena hanya Dia-lah sebaik-baik penjaga.
Wallahu a'lam bi shawab...

#Makassar, 23 Desember 2014

Senin, 22 Desember 2014

Mamaku Sayang...

Saat aku bertanya, "Apakah Mama sudah makan?"
Dia akan menjawab, "Sudah".
Padahal sebenarnya dia belum makan...

Saat aku bertanya, "Apakah Mama sehat?"
Dia akan menjawab,"Alhamdulillah, Mama selalu sehat. Jangan khawatirkan Mama."
Padahal sebenarnya dia sedang tidak sehat...
Dia tak ingin membuat anak-anaknya khawatir...

Saat aku berkata,"Mama, maaf aku belum bisa pulang."
Dia akan berkata, "Tidak apa-apa. Lakukan saja pekerjaanmu nak. Kamu bisa pulang nanti kan?"
Padahal dalam hatinya dia sangat menginginkan anaknya pulang...
Dia ingin sekali memandang wajah anaknya meskipun hanya sebentar...

Saat aku berkata,"Mama, aku sedang punya masalah."
Dia akan berkata,"Sabarlah nak, Mama akan selalu mendoakanmu semoga masalahmu cepat selesai."
Bahkan disaat kita tak pernah meminta, dia tetap selalu mendoakan anak-anaknya...

Saat aku berkata, "Mama, besok aku pulang. Mama gak usah repot-repot ya."
Dia akan berkata,"Alhamdulillah, pulanglah nak."
Saat mendengar anaknya akan datang, dia akan bergegas ke dapur memasak makanan kesukaan anaknya...
Meskipun dia sudah tak sekuat dulu, dia akan tetap berusaha menyiapkan makanan kesukaan anaknya...

Mama...
Aku bingung harus menuliskan apa lagi tentangmu...
Terlalu banyak keindahan yang telah kulewati bersamamu...

Mama...
Tahukah engkau...
Engkaulah alasanku hingga aku masih bisa berada disini...
Apapun yang dikatakan orang-orang tentangku...
Apapun komentar orang-orang tentangku...
Asalkan engkau percaya padaku...
Itu sudah cukup bagiku...

Mama...
Sebesar apapun ujian yang kuhadapi...
Seberat apapun masalah yang kuhadapi...
Asalkan engkau bersamaku...
In syaa Allah aku kuat melewati semuanya...
Karena aku yakin...
Doa-doamulah yang telah mengantarkanku...
Hingga aku bisa berdiri di titik ini...

Mama...
Terima kasih telah menerimaku apa adanya...
Terima kasih telah menerima segala kekuranganku...
Terima kasih telah mendengarkan semua cerita tidak penting anakmu...
Terima kasih telah menguatkanku di saat aku sedang terjatuh...
Terima kasih telah memberikan semua waktumu untukku...

Mama Tiaku sayang...
Memelukmu...
Menciummu...
Berbaring di pangkuanmu...
Menggenggam tanganmu...
Bercerita denganmu...
Setiap moment bersamamu adalah keindahan...
Semoga Allah selalu menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan-Nya...
Aamiin ya Rabbal 'alamin...

#Makassar, 22 Desember 2014
@ Ruang Kerinduan...
Edisi sudah tak sabar menanti hari libur...
Pengen pulang ketemu Mama...

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...