Sabtu, 24 Februari 2018

Kamu Boleh Nyasar Cari Alamat, Tetapi Jangan Nyasar Saat Mencari Cinta Allah



Assalamu ‘alaikum…
Lama gak nulis nih.. Saya pengen cerita pengalaman ketika berada di tempat yang baru sekarang. Ide tulisan ini muncul ketika saya bertemu seorang Bapak yang sudah membantu saya ketika menghadapi situasi di bawah ini. Selamat membaca dan semoga bermanfaat πŸ˜‰

Sore itu ketika pulang dari kampus, saya menyempatkan untuk ke supermarket yang sudah disebutkan oleh teman kampus. Katanya itulah supermarket yang paling lengkap. Setelah dari sana, saya memutuskan bertanya kepada kasir dimana lokasi pasar. Dia menyebutkan beberapa tempat dan jujur tak satu pun yang kutahu😭😭😭 Akhirnya saya ganti pertanyaan, dimana pasar terdekat dari supermarket tersebut. Dia pun menjelaskan rutenya dan seperti biasa saya lemah di urusan hafal jalan kalau saya belum melewati jalan itu. 

Ya sudah, modal nekat aja berbekal petunjuk dari kasir tadi. Tahu apa yang terjadi? Saya nyasar gannn. Akhirnya bertanya di pangkalan ojek yang ada di tempat tersebut dan ternyata sudah tidak terlalu jauh. Alhamdulillah akhirnya dapat dan masih ada beberapa penjual. Lumayanlah bisa beli beberapa bahan untuk keperluan dapur. 

Selanjutnya, saya memutuskan untuk memilih arah jalan yang berbeda untuk pulang. Hitung-hitung untuk belajar hafal jalan. Saya pun nanya ke penjual rutenya kalau mau pulang ke alamat rumah. Beliau pun menjelaskan dengan penjelasan yang panjang. Lagi-lagi saya ngga ngerti. Akhirnya saya putuskan jalan saja mengikuti petunjuk awal yang masih tersimpan di memori. Lagi-lagi apa yang terjadi? Saya salah arah gann. Setelah bertanya kepada seorang Bapak yang kelihatannya lagi nunggu, beliau pun menjelaskan rute yang harus saya tempuh. Alhamdulillah kali ini saya paham karena hanya sampai tiga belokan. Akhirnya, ketemu deh jalan utama. 

Pelajaran apa yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas? Cerita di atas hanya berkisar dalam urusan nyasar hanya untuk mencari jalan pulang. Teman-teman bisa bayangin kalau kita nyasar dalam menjalani hidup? Kita hidup tanpa arah dan tujuan yang jelas. Menjalani hidup begitu saja, makan, tidur, makan, tidur, lalu apa bedanya kita dengan hewan? Bukankah Allah sudah memberikan kita akal untuk berpikir? Saat mencari alamat kita boleh nyasar gaann, tetapi saat mencari cintanya Allah jangan sampai kita nyasar. Itu beraattt, kamu gak akan sanggup. Ini kalau ngikutin nasehatnya Dilan πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Jika dalam kondisi di atas kita bisa menggunakan berbagai aplikasi sebagai penunjuk arah, maka Allah sudah memberikan kita nikmat Al Qur’an untuk menjadi pedoman hidup kita. Jika kita bingung tentang cara mengaplikasikan semua yang ada dalam Al Qur’an, lagi-lagi Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan mengirimkan seorang manusia mulia untuk menjadi teladan kita, Rasulullah saw. Betapa indahnya Islam ini, mulai dari urusan kita bangun tidur hingga kita tidur lagi, semuanya sudah ada petunjuknya. 

Hanya satu sayangnya, kita masih malas untuk mempelajarinya. Kita masih merasa orang yang paling sibuk sehingga tak ada waktu untuk mempelajari isi Al Qur’an dan hadits. Kita masih malu untuk bertanya kepada orang-orang yang diberikan kelebihan ilmu agama, tetapi tidak pernah malu untuk berbuat maksiat dihadapan Allah. 

Setiap manusia diberikan waktu yang sama oleh Allah, 24 jam. Tetapi mengapa kita masih belum punya waktu untuk Allah? Satu jam saja untuk mempelajari surat cinta dari Allah dari semua waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita. Pulang kantor diajak teman untuk kajian, jawabannya lelah karena seharian kerja. Diajak ketika weekend, alasannya sibuk dan pengen menghabiskan waktu dengan keluarga. Seolah mereka yang selalu mengajakmu adalah orang-orang tak ada kerjaan.

Bersyukurlah jika ada temanmu yang rese dan selalu mengajakmu untuk datang ke taman surgaNya. Bersyukurlah ketika ada temanmu yang senantiasa rutin ngirim pesan kajian buat kamu. Bersykurlah ketika ada temanmu yang cerewet menegurmu ketika engkau melakukan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah. Boleh jadi itulah kasih sayang Allah untukmu. Allah merindukanmu gaann. Allah pengen lihat kamu menjadi manusia yang lebih baik hingga Dia mengirimkan orang-orang yang rese syar’i untuk mengajakmu kembali ke jalan AllahπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Jika untuk memudahkan semua urusan kerjaanmu, kamu rela menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari banyak cara untuk menyelesaikannya, lalu mengapa untuk menyelesaikan semua urusan hidupmu engkau tidak memberikan waktu untuk mempelajari tentang cara menjalaninya dan menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang di kehidupan selanjutnya hingga mengabaikan Dia yang sudah memberikanmu banyak kenikamatan? Maka jangan heran jika rezeki kita terasa hanya seperti sisa-sisa tak pernah merasa cukup, padahal kita sudah bekerja siang malam. Boleh jadi karena kita hanya memberikan sisa-sisa waktu kita untuk Allah, maka Allah pun hanya memberikan sisa-sisa.  

Wallahu a’lam bi shawab

 “Ya Allah janganlah Engkau berikan nikmat dunia terlalu banyak hingga aku terlena. Jangan juga terlalu sedikit hingga aku melupakannya. Sesungguhnya yang sedikit lagi cukup lebih baik untukku.”
(Doa Sayyidina Umar Bin KHattab ra)

Selasa, 30 Januari 2018

TOLONG SAMPAIKAN KE DILAN DAN MILEA



Tolong sampaikan ke Dilan…
Yang berat itu bukan rindu, tetapi konsekuensi dari rindu itu sendiri…
Ketika kamu berani ngomong rindu ke Milea, maka pada saat itu kamu harus siap bertemu dengan orang tuanya…
Mengapa?
Karena kalau hanya sekadar ngomong, anak kecil yang baru belajar ngomong juga bisa mengucapkan hal yang sama…
Dan kalau kamu belum siap, maka siap-siaplah pintu syaithon menantimu dengan godaan zina…

Maka yang berat itu adalah menjauhi zina
Dosanya berat…
Kamu gak akan kuat…
Meskipun hanya mikirin Milea yang belum halal untukmu, maka jatuhnya tetap zina hati…

Maka yang berat itu adalah menjaga hati dan pandangan…
Kamu gak akan kuat kalau tidak ada iman di dalam hatimu…

Maka yang berat itu adalah menghindari perilaku pacaran…
Kamu gak akan kuat kalau kamu gak yakin bahwa jodoh itu sudah diatur oleh Allah…

Dan yang berat dari semua itu adalah istiqomah…
Kamu gak akan kuat kalau kamu tidak berpegang teguh pada Al Qur’an dan sunnah…

Tolong sampaikan ke Milea…
Yang berat itu menjaga aurat…
Menjaga bukan sekadar menutup seluruh aurat, tetapi tetap menjaga izzah dan iffah ditengah banyaknya godaan hijrah zaman now…
Menjaga untuk tetap menahan diri tidak mengupload foto-foto hingga bisa dinikmati oleh mereka yang bukan mahrommu…
Menjaga hati dari godaan kaum Adam yang menawarkan banyak harapan tetapi ketika diminta menemui orang tuamu, tiba-tiba amnesia bahkan menghilang di telan bumi…
Karena kamu harus tahu bahwa laki-laki yang baik itu tidak akan menemuimu, tetapi akan menemui orang tuamu…
Maka sibukkan dirimu memantaskan diri, maka Dilan pun akan disibukkan oleh Allah untuk memantaskan diri…

Tolong sampaikan ke Dilan dan Milea…
Ada rindu yang berat tetapi akan membuatmu semakin kuat…
Rindu untuk berjumpa dengan Allah dan RasulNya…
Rindu untuk berkumpul dengan Rasulullah saw di jannahNya…
Dan kamu tahu kalau kerinduan itu akan membuatmu semakin bersemangat untuk senantiasa mendekatkan diri kepadaNya dan menjauhi segala laranganNya…

Dari Dilan dan Milea yang sudah hijrah serta sibuk memantaskan diri di hadapan Allah

#Tulisan ini hanya bagian dari ungkapan keresahan hati melihat bahwa ternyata film seperti ini masih mendapatkan peminat yang luar biasa. Sementara film Islam yang mengedukasi remaja untuk senantiasa menjaga diri dan dekat dengan Rabb-nya kudu harus diperjuangkan biar tayang.

Tugas kita sepertinya tidak mudah…
Tetapi teringat pesan Allah dalam QS Ali Imran: 200, “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu…)”

So, untuk adik-adikku yang sedang dalam proses hijrah, “Tetaplah istiqomah, karena istiqomah ini memang berat. Hingga Rasulullah saw gemetar dan rambutnya menjadi beruban ketika menerima wahyu tentang istiqomah turun…”

Lalu gimana caranya biar istiqomahnya gak berat?
Bayangkan Rasulullah saw ada dihadapanmu saat engkau akan melakukan kebaikan, maka Beliau akan tersenyum bahagia melihatmu…

Bayangkan Rasulullah saw ada dihadapanmu saat engkau akan melakukan kemaksiatan, maka Beliau akan tertunduk sedih melihat perilakumu. Relakah engkau membuat air mata kekasih Allah mengalir hanya karena sedih melihat kamu berbuat maksiat?

Wallahu a’lam bi shawab

Kamis, 18 Januari 2018

BELAJAR DARI SYAIKH KAMIL



Tulisan ini adalah untuk memenuhi janji kepada beberapa teman yang bertanya via japri tentang hasil pelatihan Metode Tabarok bersama Syaikh Kamil. Di tulisan ini saya mohon maaf karena tidak bisa berbagi tentang metodenya secara detail. Hal ini disebabkan karena kami sudah menandatangani surat perjanjian untuk tidak menshare kecuali kepada mereka yang memang sudah mengikuti pelatihannya. Menurut saya ini wajar jika mereka melakukan ini karena kalau pun saya share, khawatirnya malah teman-teman akan tambah bingung. Mohon doanya saja semoga Allah memampukan untuk segera membuka rumah tahfidz untuk Balita (kalau ini serius ngarep didoakan, hehehe…). Maka di tulisan ini saya akan menshare nasehat dari Syaikh Kamil beserta beberapa tips dari Beliau hingga berhasil membuat anaknya menjadi penghafal di usia 4,5 tahun dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Banyak orang yang sibuk berlomba-lomba untuk mencari kehidupan dunia. Mereka sibuk mencari kesejahteraan hidup. Padahal kehidupan yang baik itu adalah hidup sesuai dengan Al Qur’an. Cobalah hidup dengan Al Qur’an, maka dunia akan berada dalam genggamanmu. Silahkan teman-teman baca lagi shiroh para nabi dan rasul serta sahabat/sahabiyah, bagaimana mereka hidup dengan Al Qur’an dan sampai sekarang fakta-fakta itu masih ada tentang kejayaan peradaban Islam dahulu. Lalu apa yang harus kita lakukan agar bisa mencapai kesejahteraan hidup yang sebenarnya, yaitu Al Qur,an? Oke, saya paparkan yaaa…

Pertama, TARGET HARUS JELAS. Jika target Anda hanya “Saya mau menghafal Al Qur’an”, maka target ini belum jelas. Coba lebih dispesifikkan lagi menjadi semakin jelas, “Saya mau menghafal juz 30 dalam kurun waktu satu bulan”. Target yang jelas seperti ini (targetnya apa dan berapa lama jangka waktunya) akan membuat kita lebih mudah dalam menyusun perencanaan.

Kedua, HARUS SESUAI DAN BISA DIANALOGIKAN.  Target seperti “Saya mau menghafal juz 30 dalam kurun waktu satu bulan” ini sudah bisa dianalogikan targetnya apa dan jangka waktunya berapa lama. Mengenai sesuai atau tidak, maka silahkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Ketiga, HARUS DAPAT DICAPAI. Jadi, jangan menargetkan sesuatu yang mustahil karena kemampuan setiap orang beda-beda, maka silahkan diukur kemampuan dirinya. Tetapi yang saya dapat pesan dari sini adalah Al Qur’an ini diturunkan oleh Allah untuk mudah dihafalkan, maka jangan pernah merasa pesimis bahwa Anda tidak mampu. Yang membuat kita tidak mampu boleh jadi karena memang kita belum menjadikan Al Qur’an sebagai prioritas utama dalam hidup kita.

Keempat, TARGET BISA DICAPAI DENGAN PENGULANGAN. Ini adalah sesuatu yang tidak mudah bagi yang sudah menghafal, yaitu bagaimana agar hafalan tetap bertahan. Maka muroja’ah alias mengulang-ulang hafalan mesti kita lakukan

Kelima, TARGETNYA HARUS MEMILIKI BATAS WAKTU. Jangan seenaknya memasang target tetapi tidak jelas waktunya. Lagi-lagi ini untuk menjadi kontrol buat pribadi.

Keenam, TARGETNYA BISA DIKEMBANGKAN. Jadi, kalau sudah hafal juz 30 maka dilanjut lagi ke juz 29 dan seterusnya.

Nahhh, itu ada enam tips dari Syaikh Kamil. Koq tipsnya bukan untuk Balita? Teman-teman sebelum membuat anak-anak jadi penghafal, hayuuukkkk kita berlatih untuk membuat target akhirat untuk pribadi dulu. Jangan sampai kita memasang target untuk anak, tetapi tidak pernah membuat target untuk diri sendiri. So, disini Beliau memberikan nasehat tentang pintar-pintarlah membuat skala prioritas. Bagi yang terbiasa membuat ini, pasti sudah tahu pembagiannya:

Pertama, PENTING DAN MENDESAK
Kedua, PENTING, TETAPI TIDAK MENDESAK
Ketiga, TIDAK PENTING, TETAPI MENDESAK
Keempat, TIDAK PENTING, TIDAK MENDESAK

Naahhh, kira-kira kalau selama ini amalan-amalan kita yang langsung berinteraksi dengan Allah masuk di skala prioritas mana? Apakah sholat masih ditunda-tunda? Atau sholat masih di akhir waktu? Kalau masih seperti itu maka itu artinya sholat belum masuk dalam kategori penting dan mendesak. Padahal seharusnya sholat masuk dalam kategori pertama. Begitulah cara syaithon menggoda kita selama ini. Membuat yang seharusnya penting menjadi tidak penting di mata kita dan sebaliknya, sesuatu yang tidak penting menjadi sesuatu yang sangat penting. Contoh kasus, membalas komen-komen di gorup WA ketika adzan masjid sudah memanggil, biasanya mana yanng kita dahulukan? Silahkan dijawab sendiri. Salah satu kerjaan syaithon adalah mengutak-atik amalan kita, sehingga kita mengakhirkan yang wajib dan mendahulukan yang bukan skala prioritas.
Maka dunia ini terlaknat kecuali bagi orang yang berdzikir. Berdizikir disini bukan hanya sekedar yang mulutnya komat kamit berdzikir, tetapi setiap aktivitasnya adalah bentuk dzikirnya kepada Allah. Setiap aktivitasnya menambah kecintaan dan ketaatannya kepada Allah.  

Nahhhh, sekarang saya akan sharing untuk balitanya.

Pertama, MENJAGA MAKANANNYA. Sarapan ala Rasulullah saw adalah tujuh butir kurma ajwa, maka di tabarok ini pun dilakukan hal yang sama. Sarapan anak-anak hanya tiga, kurma, biskuit, dan susu. Susunya pun dianjurkan susu murni.

Kedua, teman-teman yang sedang hamil sangat bisa memulai ini. Jadi, putarkan Al Quran setiap hari dengan cara seperti ini: Misalnya selama bulan Januari, janin diperdengarkan murottal juz satu. Juz satu ini diputar sebanyak sembilan kali dalam sehari. Hal ini dilakukan di 15 hari pertama. Selanjutnya di 15 hari kedua putarkan juz kedua sebanyak sembilan kali dalam sehari. Selanjutnya 15 hari pertama di bulan Februari lakukan lagi dengan juz tiga, dan seterusnya.

Ketiga, bagi teman-teman yang sudah punya balita maka bisa dilakukan hal yang sama pada point yang kedua, hanya rentang waktunya yang berbeda. Misalnya pada bulan Januari, murottal juz satu selama sebulan penuh dimana dalam satu hari diputar sebanyak sembilan kali. Pada bulan Februari lanjut ke juz kedua dan begitu seterusnya. Jadi anak menyelesaikan mendengarkannya selama 30 bulan.

Keempat, MILIKI WAKTU KHUSUS DENGAN ANAK UNTUK MEMPELAJARI AL QUR’AN. Silahkan memilih waktu khusus dengan anak dimana tidak ada aktivitas lain selain dengan Al Quran. Yang saya salut dari metode ini adalah tidak boleh ada mainan dalam kelas sehingga anak betul-betul hanya berinteraksi dengan Al Quran. Jika anak punya waktu 24 jam, maka berikan waktu khusus untuk Al Quran. Tidak perlu merasa khawatir apakah anak akan bosan atau tidak. Jika anak sudah terbiasa, maka dia akan betah dengan sendirinya. Kalau di metode ini pilihan waktunya ada dua, yaitu 2 atau 4 jam dalam sehari. Kalau saya menyarankan untuk bunda yang belum mau memasukkan anaknya ke rumah tahfidz metode tabarok adalah dua jam dalam sehari. Anda sebagai orang tua pun tidak boleh menghadapi anak sambil melakukan aktivitas lain, balas WA misalnya. Betul-betul hanya Anda, anak, dan Al Qur’an.

Kelima, jika kita membaca bagaimana para sahabat berusaha belajar dan menghafalkan Al Quran, maka kita akan menemukan bagaimana mereka langsung mendengarkan dari Rasulullah saw atau dari para sahabat yang memang penghafal sepeninggal Rasulullahs saw. Maka hal ini juga yang kita terapkan kepada anak-anak kita, yaitu Metode TALQIN. Sebelum anak diperdengarkan murottalnya, maka Andalah yang harus memberikan contoh dihadapannya. Misalnya, mulai dari QS An Naba. Maka bacakan anak ayat pertama dihadapannya sebanyak mungkin, kalau ngga salah sebanyak sembilan atau lima belas kali. Setelah diberikan contoh, coba Anda bacakan kemudian diikuti oleh anak. Silahkan Anda membuat target mau berapa ayat dalam setiap satu kali pertemuan. Kalau di metode Tabarok ada target-targetnya sehingga dalam kurun waktu 60 kali pertemuan anak sudah hafal juz 30. Lagi-lagi saya mohon maaf tidak bisa menshare secara detail bagian ini.

Keenam, setelah mentalqin maka putarkan murottalnya agar anak terbiasa mendengarkannya.

Ketujuh, BERIKAN REWARD UNTUK SETIAP PENCAPAIAN ANAK. Saran saya, dalam memberikan reward usahakan untuk tidak memberikan dalam bentuk makanan. Kalau bagian ini saya selalu teringat pesan dari dosen di kampus bahwa memberi hadiah anak sebaiknya berikan hadiah untuk bagian perut ke atas, bukan ke bawah. Misalnya, buku komik islami, alat tulis, dan sebagainya.

Apakah dengan memberikan reward ini anak tidak akan tergantung? Anak akan menghafal karena hanya mengharapkan hadiah? Nahhh, cara terbaik mengatasi ini adalah menyampaikan kepada anak bahwa hadiah itu bukan dari Anda tetapi dari Allah dan jika dia berhasil berbuat yang lebih, maka Allah akan memberinya jauh lebih baik dari itu. Ternyata di zaman Rasulullah saw juga ada seorang anak yang selalu mendapat hadiah satu dirham setiap kali dia berhasil menghafalkan satu hadits.

Kedelapan, bagaimana jika anak mengalami kejenuhan atau menghadapi masalah yang membuatnya malas untuk menghafal? Maka BERKISAHLAH DIHADAPAN ANAK SESUAI DENGAN KONDISINYA. Apalagi sekarang banyak buku-buku shiroh khusus untuk anak. Ceritakan dihadapan anak, jadi Anda tak perlu lagi menasehatinya dengan cara mendikte.

Kesembilan, MENJAGA PERGAULAN ANAK. Berikan anak lingkungan yang bisa membantunya untuk menjadi seorang penghafal.

Kesepuluh, bagaimana dengan banyaknya penghafal tetapi ternyata akhlaknya belum menunjukkan bahwa dia seorang penghafal? Jawaban dari Syaikh Kamil, “Al Quran itu tempatnya di hati. Maka jika masih ada di sekitar kita yang dikenal sebagai penghafal tetapi akhlaknya masih jauh dari Al Qur’an, maka hafalannya itu hanya dibibirnya saja, belum sampai ke hatinya.” Tetapi kondisi ini tidak boleh membuat kita mundur untuk mempelajari dan mengahafalkan Al Quran. Inilah cara syaithon untuk membuat kita mundur. Maka tetap lanjutkan ikhtiarnya dan senantiasa mendoakan saudara yang kita maksud tadi.

Kesebelas, MENGONTROL AKTIVITAS ANAK DENGAN GADGET. Baiknya berikan batasan waktu dalam menggunakan gadget. Kalau dari Beliau memang tidak menyarankan untuk memberikan gadget kepada anak.

Keduabelas, MENGONTROL WAKTU ISTIRAHAT ANAK. Waktu tidur anak harus cukup dan tidak boleh tidur larut malam karena hal ini akan mempengaruhi aktivitasnya di pagi hari.
Alhamdulillah, hanya itu yang bisa saya share ke teman-teman pembaca. Pesan beliau yang terakhir dalam sesi pelatihan adalah lakukanlah empat tahapan berikut:
Pertama, perbanyak tilawah Al Qur’an
Kedua, perbanyak mentadabburi Al Qur’an
Ketiga, amalkan semua yang ada dalam Al Qur’an
Keempat, ajarkan semua yang ada dalam Al Qur’an kepada orang lain

Dan pelajaran yang paling berkesan buat saya pribadi adalah saya menyesal kenapa baru tahun kemarin hati saya tergerak untuk belajar bahasa Arab. Ketika mendapat kesempatan untuk presentasi dihadapan Syaikh Kamil dan peserta pelatihan, serasa ujian akhir. Saat saya mempresentasikan hasil review,  tiba-tiba syaikh memotong presentasi saya tiba-tiba disitu jantung berdetak lebih cepat dan berkata dalam hati, “Ya Rabbi, apa ada yang salah dari materi saya?” Sambil menatap dengan wajah memelas ke arah penerjemahnya seolah ingin berkata, “Ustadz, tolong ditranslate cepat itu artinya apaaaa!!!” Dan kesempatan ini yang paling kusyukuri untuk menjadi motivasi saya pribadi untuk serius belajar bahasa Arab. Nasehat Syaikh Kamil seperti ini, “Belajar bahasa Arab niatkan agar bisa lebih mudah memahami Al Quran. Jangan berpikir bahwa orang-orang di Arab Saudi sana sudah paham semua isi Al Quran karena menggunakan bahasa mereka? Belum tentu. Jadi, kita semua punya kesempatan yang sama.”

Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman pembaca. Seperti biasa, saya selalu menyelipkan doa dalam setiap tulisan. Mohon doanya agar diri ini senantiasa istiqomah hingga di akhir hayat, semoga Allah menyibukkan saya dalam kebaikan, dan semoga Allah memberikan saya kemampuan untuk membuat Rumah Tahfidz Tabarok. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bi shawab

Sinjai, 18 Januari 2018

Rabu, 10 Januari 2018

RESOLUSI 2018

BISMILLAH…

Mengawali tulisan di blog ini, saya berharap teman-teman dalam kondisi sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah swt. Ini tulisan pertama saya di blog di tahun 2018. So, untuk itu saya ingin memulainya dengan sebuah tulisan resolusi 2018.

Sebelum menuliskan resolusi tahun ini, saya ingin bercerita tentang tahun 2017. Tahun 2017 adalah tahun penuh dengan kenikmatan dari Allah swt. Bahkan ujian yang Allah berikan di tahun kemarin adalah sebuah kenikmatan yang patut saya syukuri. Bukankah ujian adalah bentuk kasih sayang Allah?


Selalu bersyukur bahwa di tahun kemarin Allah mengizinkan saya untuk melakukan sebuah perjalanan ruhiyah. Perjalanan yang dulunya hanya sebuah mimpi, ternyata Allah wujudkan di bulan Februari. Allah mengizinkan saya untuk melakukan perjalanan ibadah umroh bersama keluarga. Kenangan yang paling berkesan adalah ketika duduk bersimpuh dihadapan Ka’bah merasakan kehadiran Allah swt. Saya masih bisa merasakan kenikmatannya pada saat membuat tulisan ini. Dihadapan ka’bah benar-benar menjadi hamba yang tidak ada apa-apanya, membayangkan semua kenikmatan dari Allah dan dosa-dosa yang pernah kulakukan. Memohon ampunan dan cintaNya, semoga Allah ridho atas hidupku. Hal lain yang kuminta adalah kelapangan hati untuk memaafkan diri sendiri dan orang-orang yang Allah kirimkan untuk memberiku pelajaran hidup. Tak banyak yang tahu hal-hal berat yang telah kulalui dan di depan Ka’bah itulah akhirnya semua tumpah dan hilang begitu saja. Di saat itu saya semakin menyadari mengapa Allah memberiku ujian yang bertubi-tubi dan kusyukuri adalah Allah membuatku mampu berhasil melewati semuanya.

Masih banyak yang ingin kutuliskan kenangan di tahun 2017, tentang orang-orang yang dikirmkan oleh Allah untuk menjadi saudara baruku, merawat mama yang sempat sakit, hingga Allah memberiku kesempatan untuk lulus CPNS dosen di Kabupaten Bone. Ini adalah salah satu nikmat terbesar tahun kemarin. Mengapa? Karena ini hadiah untuk Mamaku. Mama sangat berharap saya bisa lulus disana agar dia bisa menghabiskan masa tuanya di Sinjai. Ketika saya membaca pengumuman, saya hanya terbayang wajah Bapak. Entah apa reaksinya ketika tahu anaknya lulus. Saya lulus SPMB saja Bapak nangis sambil meluk anak perempuannya. Saya teringat akan cita-cita zaman kuliah di Jakarta. Saya pernah berdoa untuk kembali ke kampung halaman untuk mengabdi. Saya cemburu melihat banyaknya hal bermanfaat yang bisa didapatkan oleh orang-orang kota karena informasi yang gampang diakses, maka sejak itu saya bertekad untuk mengembangkan kampung halaman saya. Setelah kemarin pernah mencoba di Sinjai, ternyata Allah menakdirkan saya pulang ke kampung halaman Bapak. Yaaa, Bapak banyak menghabiskan hidupnya di sana. Mungkin karena saya anak Bapak, maka Allah pun menakdirkan saya pulang ke kampung halaman Bapak. Untuk semua pencapaian di tahun 2017, terima kasih Ya Rabbana untuk semuanya. Dan saya ingin memperbaiki semua kekurangan tahun kemarin di tahun ini, in syaa Allah.

Lewat tulisan ini juga saya ingin berterima kasih untuk orang-orang yang Allah kirimkan untuk memberi warna dalam kehidupanku. Teman-teman melingkar, adik-adik dalam lingkaran, sahabat yang selalu jadi teman diskusi hingga yang hanya sempat saya kenal beberapa saat. Siapa pun yang hadir dalam hidupku untuk memberi warna dalam kehidupanku adalah guru kehidupan dari Allah yang wajib saya syukuri. Terima kasih untuk semua kebersamaan selama ini. Spesial untuk adik-adikku yang sudah tiga tahun, dua tahun, bahkan satu tahun ini menemani perjalananku. Kalian adalah salah satu yang paling berat untuk kutinggalkan. Tetapi saya tak pernah mau mengatakan selamat tinggal karena saya ingin berjumpa kalian di surgaNya. Seperti mimpi-mimpi yang selalu kita bangun saat melingkar, semoga kelak kita menjadi hamba pilihan Allah yang bisa memandang wajahNya. Saya masih membutuhkan doa dari kalian. Mohon doanya agar saya bisa istiqomah di mana pun berada. Dan jaga baik-baik hidayah  yang telah Allah berikan. Terakhir saya hanya ingin mengatakan betapa saya mencintai kalian karena Allah.

2018…
Pertama target ruhiyah, berharap tahun ini ada peningkatan dalam hal kualitas dan kuantitas ibadah. Saya tidak akan memaparkannya secara detail disini karena sebenarnya sudah tertempel cantik. Banyak yang ingin saya perbaiki dari segi kualitas ruhiyah, khususnya tentang urusan interaksi dengan Al Qur’an. Alhamdulillah kemarin sudah terlaksana satu target, yaitu ikut pelatihan Tabarok bersama Syaikh Kamil. Ini adalah target saya sejak tahun lalu. Sejak pulang umroh saya selalu terbayang dengan seorang perempuan tua penduduk kota Mekkah yang tilawah di samping saya. Tilawahnya nikmaaattt sekali karena dia paham maknanya. Sejak itu saya bertekad ingin belajar bahasa Arab. Berbagai kelas saya ikuti tapi ujung-ujungnya selalu dikick karena ngga ngerjain tugas. Saya jadi suka stalking akun-akun teman-teman yang lagi kuliah di Arab Saudi. Semua itu untuk menjaga semangat dan saya massih menyimpan cita-cita saya belajar kesana. Ternyata Allah menjawab doa saya dengan cara mendatangkan Syaikh Kamil ke Makassar. Saya ngga perlu ngeluarin uang tiket, cukup uang pelatihannya saja. Yaaa, jangan pernah memandang remeh sebuah doa meskipun hanya terbersit di dalam hatimu.

Kedua, target untuk keluarga. Saya ingin lebih dekat dengan keluarga. Tahun kemarin saya terlalu sibuk di luar. Tahun ini saya ingin lebih banyak menikmati waktuku dengan Mama dan keluarga.

Ketiga, target karir. Bagian ini in syaa Allah saya akan hijrah ke tempat yang baru. Berharap saya bisa cepat beradaptasi dan membangun karir saya disana. Saya ingin lebih banyak bermanfaat untuk orang banyak. Dan terget besar tahun ini adalah membuat rumah tahfidz untuk balita. Mohon doanya teman-teman semoga Allah memberikan kemampuan dan kelapangan rezeki serta waktu untuk mewujudkan cita-cita ini.

Sebenarnya masih banyak resolusi tahun ini, tetapi saya tidak akan menceritakan semuanya disini. Saya hanya memohon doa dari teman-teman semua, semoga tahun ini Allah senantiasa menuntun setiap langkahku untuk selalu mendekat kepadaNya. Semoga Allah selalu mengirimkan orang-orang baik untuk menemani perjalanan di jalan cinta para pejuang. Kalau pun ada yang berniat kurang baik, semoga Allah melembutkan hatinya dan memberinya hidayah. Semoga Allah memberikan kelapangan dalam urusan rezeki agar saya bisa lebih banyak berbagi lagi kepada orang-orang yang tidak mampu. Semoga Allah memberikan kesehatan agar saya tetap bisa beraktivitas yang bermanfaat untuk orang banyak. Dan yang terpenting semoga tahun ini iman saya meningkat, semakin taat dan cinta kepada Allah dan RasulNya. Jika ini menjadi tahun terakhir saya, semoga tiap hari yang kulewati adalah keberkahan dan senantiasa dalam keridho’anNya serta bisa kembali dalam keadaan khusnul khotimah dan syahid di jalan Allah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin

Oh ya, ada yang bertanya apakah saya tidak ada target untuk menikah? Jangan tanya tentang ini ya gaannn. Target ini sudah saya tuliskan dari sejak zaman kuliah, tetapi kata Allah belum waktunya. So, mari menikmati apa yang Allah berikan saat ini karena kita tak pernah tahu apakah jodoh yang duluan datang atau Malaikat Maut? Jodoh dan rezeki biarlah menjadi urusan Allah karena semuanya sudah tertulis rapi di Lauh Mahfudz jauh sebelum kita hadir di muka bumi ini. Tugas kita hanyalah memantaskan diri dengan senantiasa memperbaiki kualitas diri sehingga siapa pun yang datang duluan, apakah jodoh atau malaikat maut maka kita sudah siap.

Wallahu a'lam bi shawab

Minggu, 03 Desember 2017

CAPAIAN KESUKSESAN

Bismillah…

“Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 15)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa Sufyan Ibnu Uyaynah mengatakan bahwa hal yang paling mengerikan bagi seseorang adalah dalam tiga keadaan, yaitu saat dia dilahirkan karena dia melihat dirinya keluar dari tempat pertamanya. Saat dia mati, maka dia melihat kaum yang belum pernah disaksikannya. Dan saat dia dibangkitkan hidup kembali, maka dia melihat dirinya berada di padang masyhar yang luas.

Saya membuat tulisan ini sebagai pengingat untuk buat diri saya pribadi tentang makna sebuah kesuksesan. Ketika bertanya ke sebagian orang apa itu kesuksesan? Sebagian menjawab ketika mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka impikan di dunia ini, seperti jabatan, harta kekayaan, dan semua hal yang kebanyakan berorientasi dunia. Pertanyaan selanjutnya, “Pernahkah kita bertanya pada diri kita sudahkah kita menyiapkan diri ini untuk sukses di alam kubur? Sudahkah kita menyiapkan diri untuk meraih kesuksesan di akhirat kelak? Sementara ada kehidupan yang abadi setelah kehidupan di dunia ini.”

Maka di dalam surah Maryam di atas Allah telah mengajari kita tentang pencapaian kesuksesan yang berlangsung di tiga alam, yaitu
1. Saat di dunia, betapa banyak orang-orang terdahulu yang hanya sekedar sukses di dunia. Sebut saja salah satunya Fir’aun. Bagaimana Fir’aun dengan semua kekayaan dan kekuasaannya sampai menyebut dirinya Tuhan. Disini Allah ingin kita belajar untuk tidak meniru apa yang sudah dilakukan oleh Fir’aun. Jika kita meniru, maka balasannya pun sudah jelas. Silahkan pelajari lagi Al Qur’an yang mengisahkan kisah Nabi Musa as dan Nabi Harun as ketika menghadapi Fir’aun. Lalu apakah kita tak boleh sukses di dunia? Sangat boleh. Salah satu contoh yang bisa kita teladani adalah Nabi Sulaiman as yang dengan kekayaannya namun tetap zuhud kepada dunia.

2. Sukses di alam kubur. Kesuksesan  di dunia mengantarkan mereka pada kesuksesan selanjutnya, yaitu di alam kubur.

Dalam QS Ali Imran: 171 dikatakan bahwa “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”

Disini saya teringat dengan kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Utsman bin Affan, “Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat pekuburan?”
Beliau menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda ‘Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari siksaannya, maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun, jika ia tidak selamat dari siksaannya, maka siksaan selanjutnya akan lebih kejam’” (HR. Tirmidzi)

Semoga kelak Allah menganugerahi kita tempat peristirahatan, tempat penantian dari taman-taman surgaNya. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin

3. Sukses saat dibangkitkan di akhirat dimana kita akan mendapatkan kebahagiaan lebih dari apa yang sudah kita dapatkan di alam kubur.

Disini saya mengutip QS Al Qiyamah: 22-23 yang artinya, “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, MEMANDANG TUHANNYA.”

Kenikamatan apa lagi yang kita harapakan jika Allah memilih kita untuk memandang wajahNya?

Hadits yanng bersumber dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah yang keduanya ada di dalam kitab Sahih disebutkan bahwa sejumlah orang bertanya, “Wahai Rasulullah apakah kita dapat melihat Tuhan kita di hari kiamat nanti?” Rasulullah saw balik bertanya, “Apakah kamu berdesak-desakan saat melihat matahari dan bulan di hari yang tak berawan?” Mereka menjawab, “Tidak.” Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu.”

Di dalam kitab sahihain disebutkan melalui Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada dua surga yang semua wadahnya dan segala isinya dari emas dan ada pula dua surga yang semua wadahnya dan segala isinya dari perak. Sedangkan tiada penghalang antara kaum (penghuni surga) dan kesempatan mereka untuk melihat Allah swt, melainkan hanya selendang Keagungan-Nya yang menghijab Zat-Nya di dalam surga Adn.”

Di dalam hadits Ifrad Imam Musllim disebutkan melalui Suhaib dari Nabi saw yang bersabda, “Apabila ahli surga telah masuk surga, Nabi saw melanjutkan, Allah swt berfirman, ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu tambahan yang Aku akan berikan kepadamu?’ Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah menjadikan wajah kami putih bercahaya dan bukankah Engkau telah memasukkan kami di dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Nabi saw melanjutkan, ‘bahwa lalu Allah membuka tirai hijab-Nya, maka tiada sesuatu nikmat pun yang diberikan kepada mereka selain memandang kepada Zat Tuhan mereka. Inilah yang dimaksud dengan tambahan.’”

Dalil dan hadits-hadits di atas menguatkan bahwa kelak orang-orang mukmin akan mendapatkan kenikmatan untuk memandang wajah Allah. Dan inilah kesuksesan yang sejati. Ketika semua lelah karena Lillah kita terbayar lunas di surga FirdausNya dan Allah memilih kita untuk mendapatkan kenikmatan tambahan untuk memandang wajah Allah.

Semoga Allah senantiasa menuntun langkah kaki kita untuk senantiasa berada dalam ketaatan hingga kelak kita bisa meraih khusnul khatimah dan mencapai kesuksesan di surga FirdausNya...
Semoga Allah senantiasa menjaga keyakinan kita bahwa perjumpaan denganNya adalah sesuatu yang  nyata, lebih nyata dari semua yang kita lihat di dunia ini...
Semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita di jalanNya dan tidak lagi mengembalikan kita pada kejahiliyahan setelah diberi hidayah olehNya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bi shawab

Referensi
1. Al Qur’an
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Beberapa catatan yang dikumpulkan dari beberapa kajian

Semoga bermanfaat  ^_^

Jumat, 25 Agustus 2017

TANTANGAN PENGASUHAN DI ERA DIGITAL #LOMBA BLOG

Orang-orang tak bisa lagi menutup mata dari perkembangan zaman yang ada. Salah satu diantaranya adalah perkembangan era digital dalam kehidupan manusia. Jika dulu kita harus ke pasar untuk membeli sesuatu, maka sekarang sudah tak perlu lagi. Cukup ambil handphone (HP), klik satu aplikasi, maka tunggulah beberapa menit pesanan Anda akan datang. Tak hanya itu, jika selama ini kita harus membeli koran untuk mengetahui berita tentang negeri ini, sekarang Anda cukup membuka satu aplikasi berita di HP maka semua berita akan muncul. Jika dulu kita harus mengirim surat untuk memberikan kabar ke sanak saudara di luar kota bahkan sampai harus menunggu berhari-hari, maka sekarang kita bisa berkomunikasi via telepon kapan saja. Bahkan sudah sampai pada komunikasi via videocall.

Begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh era digital saat ini. Namun, era digital yang kita hadapi saat ini ternyata juga ikut mempengaruhi kondisi beberapa keluarga di Indonesia. Keluarga yang sedang makan bersama di restoran bukannya saling ngobrol, malah kebanyakan sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Sesekali berfoto bersama untuk kepentingan media sosial kemudian kembali asyik dengan HP di tangan masing-masing. 

Tak hanya sampai disitu, terkadang kondisi di rumah tak jauh berbeda. Anak yang datang merengek-rengek meminta untuk ditemani bermain, malah diberikan gadget kemudian dibiarkan main game online. Alasannya sederhana, mereka memberikan gadget kepada anak karena tidak ingin diganggu. Kelelahan sehabis bekerja seharian membuat mereka butuh istirahat yang cukup dan ajakan anak untuk bermain hanya akan menambah kelelahannya. Di kondisi lain ditemukan ibu yang asyik berteleponan dengan teman-temannya sehingga anak pun hanya sibuk menonton, tak ada aturan tontonan yang boleh dan tidak boleh ditontonnya.

Pemberian gadget kepada anak seakan-akan dijadikan sebagai pengganti dari kehadiran orang tua. Setiap kali anak menangis, maka yang datang dihadapannya bukan orang tuanya tetapi game online atau tontonan kartun yang tersedia di HP. Ketika anak sedang bersedih karena kehilangan barang kesayangannya, maka yang dihadirkan untuknya adalah berbagai aplikasi yang bisa mengalihkan perhatiannya. Boleh jadi saat itu anak mungkin diam dan memainkan aplikasi di HP yang diberikan kepadanya, tetapi tanpa Anda sadari ada yang tidak didapatkan oleh anak. Anak tak mendapatkan kasih sayang ketika dia sedang membutuhkannya. Jadi jangan heran ketika suatu waktu anak melakukan sesuatu diluar kebiasaannya. Jangan heran jika ada laporan dari guru bahwa anak Anda berperilaku yang mengganggu jalannya proses pembelajaran. Boleh jadi semua itu adalah bagian dari caranya untuk mencari perhatian orang tuanya.

Ketika anak sedang mencari perhatian dan mereka tidak mendapatkannya dari orang tuanya, maka bisa jadi orang lainlah yang memberikannya. Suatu kesyukuran jika anak mendapatkan lingkungan yang baik di luar rumah. Sebagai contoh, anak mendapatkan teman-teman yang aktif ikut kajian-kajian yang bermanfaat atau terlibat dalam pengajian di sekolah. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada anak karena lingkungannya bisa membantu dalam mengarahkan pembentukan karakternya. Lain lagi ceritanya jika anak malah mendapatkan lingkungan yang buruk, misalnya mereka bergaul dengan teman-temannya yang suka menghabiskan waktu di warnet. Kita tak pernah tahu apa yang mereka tonton dengan teman-temannya. Hal ini juga akan ikut mempengaruhi prestasi belajar anak di sekolah.

Kondisi-kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua di Indonesia sudah melupakan perannya sebagai ayah dan ibu di rumah. Ayah kebanyakan beranggapan bahwa tanggung jawab pengasuhan sepenuhnya ada di tangan ibu dan dia hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Padahal kebutuhan anak tak sekadar materi, tetapi mereka juga butuh kasih sayang dan perhatian. Tak berbeda jauh dengan ayah, sebagian besar ibu pun melupakan tanggung jawabnya. Ibu juga tak mau kalah untuk mengejar karir di luar hingga melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu bagi anaknya. 

Perubahan peran yang terjadi di sebagian besar keluarga di Indonesia ini kembali mengingatkan kita bahwa keluarga adalah organisasi terkecil dalam masyarakat. Pendidikan karakter kepada anak seharusnya dimulai dari keluarga. Hal ini disebabkan karena rumah ibarat sekolah. Di sekolah pertamanya inilah seharusnya anak mendapatkan pendidikan dan pengasuhan terbaik sehingga mereka siap menghadapi semua tantangan di luar rumahnya. Ibaratnya di sekolah pertama ini anak mendapatkan sistem imun yang baik agar ketika keluar dari rumah mereka tidak mudah diserang oleh virus-virus yang berniat jahat kepadanya. Sejahat apapun virus di luar rumah, maka anak tidak akan mudah terpengaruh karena sistem imun dari rumah yang sudah kuat berupa nilai-nilai positif yang membentuk karakternya.

Sekolah pertama ini juga seharusnya menjadi tempat yang paling menyenangkan bagi anak. Setiap kali anak menghadapi masalah di luar rumahnya, maka mereka ingin segera pulang ke rumah. Hal ini disebabkan karena disanalah mereka menemukan rasa aman dan nyaman. Justru mengherankan ketika ada anak yang lebih nyaman di sekolahnya daripada di rumahnya. Hal ini berarti bahwa ada sesuatu yang tidak membuat mereka betah di rumah. Boleh jadi karena kehadiran orang tua tidak lagi berarti buat mereka. Gadget yang diberikan oleh orang tuanya sudah menjadi pengganti yang menemani mereka melewati hari-harinya.  

Sebuah sekolah pasti punya kepala sekolah, guru, dan kurikulum. Kepala sekolahnya adalah ayah yang bertanggung jawab sepenuhnya agar sekolahnya bisa berjalan baik dan aman. Ibu adalah guru atau madrasah utama bagi anak. Kepala sekolah dan guru harusnya memiliki kesepakatan yang berkaitan dengan kurikulum yang akan diterapkan dalam keluarga mereka berupa pola asuh yang akan diterapkan bersama, termasuk di dalamnya aturan dalam penggunaan gadget.

Mengapa harus ada aturan dalam penggunaan gadget? Karena gadget ibarat mata pisau, dia bisa bermanfaat tetapi juga bisa menikam penggunanya kapan saja. Ketika anak diajari dan diberikan aturan dalam penggunaan gadget, maka benda tersebut bisa bermanfaat untuk dirinya. Sebagai contoh, anak diberikan aturan tentang konten yang boleh dan tidak boleh mereka akses serta lamanya waktu yang digunakan untuk menggunakan gadget tersebut. Jika aturan tersebut jelas dan pengawasan dari orang tua tetap ada, maka gadget tersebut akan bermanfaat untuk anak. Namun sebaliknya, jika anak tak diberikan aturan dan batasan dalam penggunaannya, maka gadget ini bisa menikam otak anak-anak kita. Ditambah lagi tak adanya pengawasan dari orang tua, maka tanpa disadari kita sendirilah yang telah merusak mereka.

Di era digital ini kita tak bisa memungkiri bahwa gadget menjadi salah satu tantangan dalam pengasuhan, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita sudah siap menjadi orang tua? Ketika kita sudah siap untuk menjadi orang tua, maka pilihannya ada di tangan kita apakah mau menjadikan gadget sebagai mata pisau yang bermanfaat atau malah menikam anak kita sendiri? 

Oleh karena itu, penanaman iman kepada anak sejak dini melalui pembiasaan positif harusnya dimulai dari rumah. Penanaman iman sejak dini adalah bagian dari upaya untuk membentuk sistem imun anak agar mereka siap menghadapi zamannya. Anak adalah bintang-bintang di masa depan yang harus kita siapkan sejak dini agar kelak mereka bisa menjadi pemimpin dunia yang akan membawa negeri ini menjadi lebih baik. Hingga kelak mereka tak hanya membuat kita tersenyum bahagia dihadapan manusia, tetapi juga dihadapan Allah karena mereka menjadi anak-anak sholeh yang mengantarkan ayah dan ibunya ke jannahNya. 

Wallahu a’lam bi shawab

Bonita Mahmud

Rabu, 09 Agustus 2017

PEREMPUAN WAJAR & TIDAK WAJAR VERSI EMAKKU

Nak,  jadi perempuan yang wajar-wajar aja. Teman-teman jalanmu dulu bajunya biasa aja. Ngga selonggar pakaian kamu apalagi kalau kamu pake gamis, jadinya kayak emak-emak dan itu ngga wajar.

Nak,  jadi perempuan yang wajar-wajar aja. Sesekali modellah jilbabmu seperti teman-temanmu itu dulu. Ngga perlu panjang dan lebar begitu. Ntar kamu jadi ribet banget beraktivitasnya. Model jilbabmu itu membuat kamu koq jadi kelihatan cupu sekali dan itu ngga wajar.

Nak, jadi perempuan yang wajar-wajar aja. Sesekali jalanlah ke mall, bioskop,  nongkrong dengan teman-temanmu itu dulu. Koq setiap kali ditanya darimana, jawabmu hanya dua. Kalau bukan rapat, yaa kajian. Kegiatanmu koq itu-itu aja nak dan itu ngga wajar.

Nak,  jadi perempuan yang wajar-wajar aja. Teman sekolahmu dulu koq sudah punya pacar, kamu jangan terlalu berlebihan dgn prinsipmu itu dan itu ngga wajar.

Nak,  jadi perempuan yang wajar-wajar aja. Ngomong sama laki-laki tuh suaranya jangan tegas begitu,  ntar kamu dikiranya ngga ada lembut2nya dan itu ngga wajar.

Nak,  jadi perempuan yang wajar-wajar aja.  Itu matamu sampai jadi mata panda gitu. Sesekali pikirkan tentang dirimu, berikan waktu untuk dirimu, kenapa selalu masalah teman-temanmu yang terlontar dari lisanmu dan itu ngga wajar.

Emakku yang kucintai karena Allah...

Mak,  pakaian yang engkau lihat tak wajar,  seperti pakaian orang tua,  kuno,  dan berbagai anggapan dari orang lain abaikan saja. Karena ini perintah Rabb-ku Mak. Anakmu ingin belajar menjadi hamba yang taat dalam urusan pakaian. Dan sebaik-baik pakaian adalah taqwa. Karena itu Mak,  kita harus sama-sama belajar untuk selalu menggunakan pakaian taqwa. Jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar di hadapan Allah.

Mak, jilbab yang engkau lihat ribet ini adalah cara Allah untuk menjaga anakmu. Jilbab yang engkau lihat seolah menghambat aktivitasku adalah ikhtiarku agar kelak kita bersama-sama berjalan menuju jannahNya. Jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar di hadapan Allah.

Mak, rapat atau pun  kajian semuanya adalah caraku untuk menambah ilmu karena anakmu ini masih haus ilmu Mak dan link menuju ke jannahNya karena anakmu ini hanyalah manusia pendosa. Rapat dan kajian itu agar anakmu senantiasa berada di sekitar orang-orang yang bisa menambah keimanannya kepada Allah. Anakmu juga harus ikut rapat Mak karena banyak yang tidak senang ketika umat ini meRAPATkan barisan. Jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar dihadapan Allah Mak.

Mak, dulu emak pacaran ngga sama abah?  Tidak kan? Terus kenapa bisa menikah?  Inilah jodoh Mak. Mau dengan cara apapun,  maka jodohnya tetap sama. Maka izinkan anakmu melewatinya dengan cara yang diberkahiNya. Jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar di hadapan Allah.

Mak,  suaraku ini bisa mengantarkanku ke nerakaNya jika anakmu ini tak pandai bersikap. Maka ketegasan itu agar anakmu ini tak menjadi penyebab orang lain berbuat dosa.  Jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar di hadapan Allah.

Mak, setiap waktu yang kulewati adalah untuk Rabb-ku. Ketika anakmu melewati waktu-waktu itu,  maka itulah waktu untuk diriku juga Mak. Karena bahagia itu kalau kelelahan itu lillah Mak. Jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar di hadapan Allah.

Mak, anakmu ini sedang berhadapan dengan waktu. Entah berapa lama lagi sisa waktuku Mak.  Sementara dosaku setiap hari bertambah,  amalanku tak juga bertambah. Sementara aku ingin membuatmu bangga di hadapan Allah,  bukan di mata manusia.

Mak,  semoga engkau Ridho jika anakmu mendapat gelar perempuan tak wajar. Maafkan anakmu karena membuatmu harus menghadapi cerita tentang perempuan tak wajar. Tapi  Mak,  bukankah hidup itu untuk mencari ridho Allah, bukan ridho manusia? Semoga kita bisa melangkah bersama menggapai itu semua Mak. Biarkan jika itu tak wajar di mata manusia,  semoga wajar di hadapan Allah.

Teruntuk seorang perempuan yang senantiasa ikhlas memberikan izinnya untuk anak perempuannya. Semoga di setiap izin itu tercatat sebagai pahala disisi Allah untuknya....

Makassar,  9 Agustus 2017
Ketika cerita tentang Si Cupu,  cacing kepanasan, dan kucing bertemu 😂😂😂

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...