Rabu, 09 Juli 2014

Bumbu-bumbu Ramadhan

Bismillah...

Apa kabar saudaraku? Bagaiman kabar imanmu? Bagaimana kabar ramadhanmu?
Semoga hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Karena sungguh merugi jika hari kita sama saja dengan yang kemarin-kemarin, tidak ada perubahan yang lebih baik.

Melalui tulisan sederhana ini, izinkan saya sedikit berbagi tentang ramadhan tahun ini. Semoga bermanfaat buat teman-teman semua.

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti salah satu kajian ramadhan di kampus. Ada hal yang menarik ketika Sang ustadz menyampaikan taujihnya. Saya tertarik dengan kalimatnya, " akan banyak bumbu-bumbu yang disajikan di bulan ramadhan ini".

Sahabatku...
Bulan ramadhan tahun ini memang terasa special, kayak martabak special aja ya. Hehehe...
Gimana gak special, bulan ramadhan tahun ini bertepatan dengan dua moment yang paling ditunggu oleh orang-orang, khususnya di Indonesia. Pertama, agenda pemilihan calon pemimpin negara kita. Buat teman-teman yang jadi tim sukses atau pun aktif di dunia politik, pastinya akan terbagi pikirannya. Para simpatisan kedua calon pun harus bisa mengendalikan diri di sosmed. Banyak postingan yang bisa membuat kita terpancing, bahkan sampai harus memutuskan tali silaturahim dengan saudara atau teman. Jangan sampai hal ini terjadi di bulan ramadhan ini. Bukankah ramadhan mengajarkan kepada kita untuk lebih peduli dengan orang-orang sekitar, termasuk menjalin silaturahim dengan saudara.

Moment kedua yang paling ditunggu adalah piala dunia. Moment inilah yang paling ditunggu oleh para pencinta bola. Orang-orang yang menanti kehadirannya bukan hanya kaum adam, kaum hawa pun tidak mau ketinggalan. Bahkan orang-orang yang tadinya tidak suka bola, tiba-tiba jadi suka bola. Dan lagi-lagi moment ini hadir di bulan ramadhan. Orang-orang yang tadinya gak pernah tahajjud, tiba-tiba bisa bangun tengah malam. Tapi niatnya untuk nonton bola. Ada juga yang sudah niat bangun tengah malam, tetapi niatnya tetap untuk nonton bola. Lebih parah lagi, gara-gara nonton bola tengah malam sampai-sampai sholat shubuhnya kebablasan alias lewat. Bukan cuma sholat shubuhnya yang lewat, siangnya pun menjadi tidak produktif. Lebih banyak diisi dengan tidur hingga yang sunnah pun tak bisa dilakukan. Gimana mau melakukan yang sunnah, yang wajib aja lewat.

Kalau buat mahasiswa tingkat akhir, ada lagi bumbu ramadhan yang lain, Si Mr.T alias tesis. Kehadirannya sungguh membuat hampir semua perhatian kita tertuju kepadanya. Malam hari harus begadang kerjain revisi, siangnya kejar-kejaran dengan dosen. Alhamdulillah kalau langsung ACC, tapi kalau minta revisi lagi siap-siap dah begadang lagi. Saat ngerjain tesis, mikirin belum tilawah. Saat tilawah, mikirin tesis. Serba salah kan. Janjian dengan dosen pun kadang menjadi ujian tersendiri. Sudah bela-belain datang, malah dibatalin. Mau marah, lagi puasa. Lagi-lagi hanya bisa mengelus dada, bersabar, bersabar, dan bersabar. Yaaa, ramadhan ini bisa jadi sarana latihan buat teman-teman pejuang tugas akhir untuk menambah stok kesabarannya.
Bukankah kesabaran itu ada batasnya?
Ya, kesabaran emang ada batasnya. Batasnya adalah langit dan langit itu gak ada batasnya gan... ^_^

Masih ada nih bumbu lain di bulan ramadhan. Kalau bumbu yang satu ini biasanya disajikan buat teman-teman atau ibu-ibu yang suka nonton. Semua stasiun TV berlomba-lomba menayangkan acara-acara yang bisa menemani para penontonya berbuka dan bersantap sahur. Dari acara tabligh akbar, sinetron, hingga acara lawakan. Ada yang mengganjal di hati ane nih gan. Miris banget melihat teman-teman yang menghabiskan waktunya menonton acara-acara yang sama sekali gak ada manfaatnya. Setelah sahur dan menanti adzan shubuh, banyak yang mengisinya dengan menonton acara lawakan yang kadang menjadikan kekurangan orang sebagai bahan tertawaan. Mereka lupa bahwa dalam sahur itu ada keberkahan. Andai kita bisa mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti tilawah atau membaca buku-buku yang bisa menambah keilmuan dan rasa cinta kita kepada Allah. Bukan cuma saat sahur, menjelang berbuka pun kejadian tersebut kembali terulang. Ada lagi nih yang doyan nonton sinetron hingga berjam-jam. Saya jadi mikir aja nih kalau sinetronnya tayangnya 2 jam, lalu kita bisa mengisinya dengan tilawah. Teman-teman pasti bisa khatam dalam sebulan ini. Bukannya ane melarang teman-teman buat nonton, tetapi pintar-pintarlah memilih tontonan. Pilihlah tontonan bermanfaat yang bisa menambah wawasan dan rasa cinta kita kepada Allah.

Sahabatku yang kucintai karena Allah...
Tatkala ramadhan belum datang, kita begitu merindukan kehadirannya.
Dan ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk berjumpa, justru kita melewatkannya begitu saja.
Cobalah engkau ingat saudara-saudaramu yang pernah menemanimu di ramadhan tahun lalu?
Masihkah dia ada menemanimu saat ini?
Ataukah dia sudah tak ada karena Allah lebih dahulu memanggilnya dibanding dirimu?
Cobalah ingat kembali wajah orang-orang yang masih bisa engkau jumpai di ramadhan tahun kemarin dan sekarang tak bisa lagi bersamanya...
Mungkinkah dia orang tuamu...
Mungkinkah dia saudaramu...
Dan Allah masih memberi kita kesempatan untuk bertemu bulan yang penuh berkah ini.
Sudahkah kita mensyukuri nikmat kesempatan ini?
Lalu masih patutkah kita kufur terhadap nikmatnya?

Sahabatku yang kucintai karena Allah...
Masih ada kesempatan untuk memperbaiki ramadhan kita. Masih ada kesempatan untuk memaksimalkan ibadah-ibadah kita di bulan ramadhan ini. Manfaatkan waktu dengan banyak melakukan hal-hal yang disukai-Nya.

Ketika ada yang mengeluh, "Mengapa saya begitu susah melakukan ibadah di bulan ramadhan? Pengennya tidur terus!"
Sahabatku, sudahkah engkau meminta agar diberi kemudahan untuk beribadah? Sudahkah engkau meminta agar diberi kemudahan untuk melakukan kebaikan?
Terkadang kita melupakan bahwa Allah-lah Sang Pemilik hati dan raga kita. Allah-lah yang menggerakkan hati-hati kita untuk melakukan kebaikan. Allah jugalah yang mengatur setiap urusan kita. Jika engkau sudah meminta, maka paksalah dirimu untuk melakukan kebaikan. Yaaa, terkadang kita harus menyakiti diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Bukan hal yang mudah melawan kemalasan, apalagi jika disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Ketika keterpaksaan itu telah engkau lakukan, lama kelamaan akan lahir suatu kebiasaan. Kebiasaan inilah yang akan menumbuhkan rasa cinta, hingga terasa ada yang hilang jika kita tak melakukannya. Dan semua ini bisa kita latih di bulan ramadhan ini agar kita siap menghadapi 11 bulan berikutnya. Saya teringat dengan nasehat guru saya, "Jika engkau ingin mengetahui seperti apa kehidupanmu di 11 bulan berikutnya, maka lihatlah aktivitasmu di bulan ramadhan. Jika engkau berhasil mentarbiyah dirimu dengan banyak beribadah, maka in syaa Allah engkau bisa melewati 11 bulan berikutnya."

Alhamdulillah, hari ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati ramadhan bersama keluarga. Masih bisa menikmati ramadhan bersama orang-orang yang kita cintai. Masih bisa beribadah dengan tenang dan nyaman di bulan ramadhan. Pernahkah teman-teman memikirkan nasib saudara-saudara kita di Palestina? Mereka melewati ramadhan dalam suasana mencekam. Makanan untuk sahur dan berbuka pun seadanya, bahkan mungkin tak ada. Berkumpul dengan orang-orang yang dicintai pun tak bisa karena sudah ada yang syahid. Lalu bagaimana dengan kita yang diberikan banyak kemudahan untuk memanfaatkan moment ramadhan, tetapi malah membiarkannya berlalu begitu saja?

Sahabatku yang kucintai karena Allah...
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang menyenangkan. Tulisan ini adalah teguran buat saya pribadi dan saya bersyukur jika bisa juga bermanfaat buat teman-teman. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita kembali betapa berharganya bulan ramadhan ini. Jangan sampai dia terlewat begitu saja dan kita tak bisa mendapatkan apa-apa. Dia berlalu begitu saja sama seperti bulan-bulan lainnya.

Wallahu a'lam bi shawab...
Maafkan Bonita yang masih terus belajar menjadi lebih baik...

#Jakarta, 9 Juli 2014

Senin, 07 Juli 2014

Manusia Biasa...

Bismillah...

Aku hanya manusia biasa...
Yang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana yang sangat peduli dengan kedekatanku dengan Tuhanku...
Aku hanya manusia biasa...
Yang tumbuh dalam keluarga yang sangat peduli dengan sopan santun dan tata krama...

Aku hanyalah seorang anak yang juga ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya...
Aku hanyalah seorang adik yang juga ingin belajar menjadi adik yang baik...

Aku hanyalah seorang perempuan yang ingin belajar menjadi muslimah yang taat...
Aku hanyalah seorang perempuan yang ingin belajar menjadi muslimah sholehah...
Aku hanyalah seorang perempuan yang kelak ingin menjadi penghuni syurga-Nya...

Lagi-lagi aku hanya manusia biasa...
Kamu tahu kan apa itu manusia biasa?
Manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa...
Manusia yang kadang bahkan sering melakukan kekhilafan...
Manusia yang lebih banyak lupanya daripada ingatnya...

Satu hal yang kusyukuri...
Aku punya Allah, Sang Maha Pengampun...
Allah, yang memaafkan setiap kekhilafan hamba-Nya...
Dan memberikanku kesempatan untuk menjadi lebih baik...

Jika yang engkau lihat hanya kesempurnaan, sungguh engkau sudah tertipu...
Sungguh semua itu hanya karena Allah masih menyayangiku dengan menutup aib-aibku...
Sekali saja aib itu terbuka dihadapanmu, mungkin engkau tak mau lagi bertemu denganku...
Melihat wajahku pun engkau sudah tak sudi...

Lagi-lagi aku hanya manusia biasa...
Manusia biasa yang sedang belajar cara mencintai Tuhan-nya...
Manusia biasa yang sedang belajar menjadi muslimah yang taat...
Manusia biasa yang sedang belajar menggapai ridho-Nya...

Aku tetap hanyalah seorang manusia biasa...
Manusia biasa yang lebih banyak khilafnya...
Namun ingin terus belajar untuk lebih baik dihadapan-Nya...
Apakah itu tak cukup?
Entahlah...

#Jakarta, 6 Juli 2014
Banyak orang yang suka menilai hanya dari apa yang dilihatnya dari luar...
Menilai dari apa yang tampak dihadapannya...
Mereka tak pernah tahu usaha yang dilakukan orang tersebut untuk menjadi seperti apa yang dilihatnya...
Memberikan penilaian sesuka hati...
Tanpa pernah tahu perjuangan yang telah dilewatinya untuk menjadi seperti sekarang...
Toh aku tak perlu peduli...
Karena aku tak akan pernah sanggup membuat orang suka dengan tindakan, keputusan atau pun prinsipku...

Teringat saat pertama kali hidayah itu datang menyapaku...
Memutuskan meninggalkan semuanya dan memulai dari awal...
Dan saat itulah sujud-sujud panjang menjadi sebuah kenikmatan tersendiri...
Menikmati saat mengadu kepada-Nya...
Kadang ingin mundur dan berhenti di tengah jalan...
Dan DIA mengirimkan orang-orang untuk menguatkanku...

Jumat, 04 Juli 2014

Tahun Ketiga...

Bismillah...

Tahun ini adalah tahun ketiga menikmati bulan Ramadhan di perantauan. Tak perlu lagi engkau tanyakan bagaimana rasanya.

Rasanya campur aduk. Di satu sisi merasa sedih. Pertama kalinya menikmati ramadhan tidak bersama dengan keluarga. Makan sahur pun dinikmati dengan berusaha menelan makanan karena harus menahan air mata. Apalagi ketika mengingat moment kebersamaan dengan mama dan bapak. Rasanya.... :'(
Di sisi lain ada perasaan bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu bulan ramadhan.

Dan sekarang sudah tahun ketiga...
Mendengar cerita teman-temanku yang melewati hari pertama ramadhannya yang penuh dengan air mata, membuatku senyum-senyum sendiri. Teringat dengan pengalaman sendiri saat 3 tahun lalu. Kondisiku hampir sama dengan mereka.

Sekarang semuanya sudah bisa kunikmati...
Dan aku harus belajar menikmati semuanya...
Tak selamanya aku akan terus berada dengan keluargaku...
Tak selamanya aku akan terus berada di tengah-tengah mereka...

Semua butuh proses...
Dan inilah proses tarbiyah yang diberikan Allah untukku...
Proses untuk belajar menjadi lebih baik, lebih mandiri, lebih dewasa...
Dan tentunya proses belajar akan kehidupan...

Setiap kondisi biasanya akan memiliki dua sisi...
Menyenangkan atau menyedihkan...
Bahagia atau sedih...
Semua kembali pada pilihanmu, engkau mau memilih yang mana...

Apakah akan terus menangisi keadaanmu?
Atau memilih untuk menerima semuanya dengan berdamai?

Dan aku memilih BERSYUKUR...
Itulah pelajaran berharga yang kudapatkan dalam tiga tahun belakangan ini...
Betapa banyak nikmat yang diberikan oleh Allah untukku...
Bertemu bulan ramadhan adalah satu kesyukuran terbesar untukku...
Betapa banyak orang-orang yang kusayangi telah tiada dan tak bisa lagi menikmati ramadhan, bulan yang penuh berkah...
Bulan dimana tidur pun bernilai ibadah...
Bulan dimana setiap saat adalah waktu mustajab untuk berdoa...

Jika aku memilih menangisi kondisiku yang jauh dari keluarga, lalu kapan aku akan bersyukur?
Betapa banyak orang-orang yang melewati ramadhan tanpa sanak keluarganya...
Mereka tak memiliki ayah dan ibu...
Dan aku masih memiliki Ibu yang selalu menelpon dan menanyakan kabarku...
Aku masih memiliki saudara yang memberikanku semangat untuk bertahan di rantau...
Apalagi yang tak bisa membuatku untuk belajar bersyukur?

BERSYUKUR...
BERSABAR...
Dua pelajaran yang diberikan oleh Allah untukku selama menjalani jihad ilmu ini. Setiap kali ingin mengeluh, aku selalu teringat wajah Ibu, kakak, dan sahabat-sahabatku. Nasehat mereka hampir sama, " orang-orang yang sukses saat ini juga melewati apa yang kujalani sekarang. Semua butuh proses, maka bersabarlah. Karena kelak engkau akan tersenyum jika mengenang semuanya. Belajarlah untuk bersyukur. Mensyukuri setiap kondisi karena kasih sayang Allah tak pernah lepas darimu dalam setiap langkahmu."

Terima kasih ya Allah untuk semuanya...
Izinkan aku menikmati Ramadhan-Mu dengan memberikan yang terbaik untuk-Mu...
Aku tak pernah tahu, apakah ini ramadhan terakhirku?
Apakah Engkau masih mengizinkanku menikmati ramadhan ini hingga hari kemenangan tiba?

Wallahu a'lam bi shawab...

#Jakarta, 4 Juli 2014
Edisi muhasabah diri...

Selasa, 17 Juni 2014

Jaga Dia, Dia pun Akan Menjagamu...

Aku teringat masa kecilku. Kenangan yang selalu membuatku tersenyum-senyum sendiri. Mengingat bagaimana Allah mengajariku hal-hal yang sederhana lewat tangan-tangan Mama dan Bapak.

Ketika itu aku hanya percaya pada mereka berdua. Ketika kulihat orang-orang di sekitarku mengancam ketenanganku, maka aku akan berlari pada ibuku. Ketika jarum suntik dokter itu mulai beraksi, aku menangis di pelukan ibuku. Ketika aku menginginkan sebatang coklat yang ada di warung dekat rumahku, aku merengek meminta untuk dibelikan kepada ibuku.

Hingga aku dewasa, aku masih saja suka berlari ke ibuku. Ketika merasa tak sanggup lagi, aku berlari ke pelukan ibuku. Ketika semua orang meninggalkanku, aku berlari ke pangkuan ibuku.

Aku hanya percaya pada ibuku. Aku yakin ibuku tak akan menyakitiku sedikit pun. Aku yakin ibuku akan memberikan sejuta kasih sayang untukku, bahkan lebih.

Mungkin seperti itulah kepercayaanku kepada ibuku.

Ilustrasi di atas mungkin kurang pas untuk menggambarkan bahwa seharusnya keyakinan kita kepada Allah sama seperti keyakinan anak kecil tadi. Anak kecil itu yakin dan percaya kalau ibunya akan selau menjaga, menyayangi, dan melindunginya dari hal-hal yang membahayakan dirinya.

Penjagaan Allah jauh lebih dahsyat dari penjagaan seorang ibu kepada anaknya. Karena sungguh Allah-lah sebaik-baik penjaga.
Kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Karena Dia-lah Sang Maha Kasih Sayang.

Allah selalu tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah lebih tahu waktu terbaik untuk hamba-Nya. Allah lebih tahu kebutuhan hamba-Nya.
Itulah mengapa Allah yang lebih berhak mengatur hidupmu...

Jika engkau mempercayakan kehidupanmu kepada Allah, sungguh tak ada lagi yang perlu engkau khawatirkan. Jika engkau yakin hanya Allah yang lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, engkau akan berdoa dan berusaha sebaik mungkin. Karena engkau yakin Allah sudah menyiapkan rencana yang indah untukmu.

Ketika merasa sendiri, engkau akan tetap merasa tenang. Karena engkau yakin kalau Allah akan selalu bersamamu.
Ketika tak ada yang bisa menjagamu, maka engkau yakin Allah-lah sebaik-baik penjaga.
Ketika semua orang berkata "tak mungkin", engkau tetap melangkah optimis karena kamu yakin kalau Allah akan selalu membersamai setiap langkahmu selama itu adalah jalan kebaikan.

Dan semua keyakinan itu akan terbangun dari empat huruf.
Dialah IMAN yang ada di dalam hatimu.

Karena itu jaga dia dengan senantiasa mengingat-Nya...
Jaga dia dengan selalu berkumpul dengan orang-orang shaleh...
Jaga Allah, maka Allah pun akan selalu menjagamu...
Dan mintalah kepada Allah untuk terus menjaga keyakinanmu...
Mintalah kepada Allah untuk terus menjaga hatimu untuk terus istiqomah di jalan-Nya...
Karena Dia-lah pemilik hati-hati kita...
Wallahu a'lam bi shawab...

#Jakarta, 16 Juni 2014
Disela-sela mengerjakan revisi proposal tugas akhir...... ^_^

Kamis, 12 Juni 2014

Mengapa?

Aku mungkin pernah bertanya...
Aku bahkan selalu bertanya...
Mengapa...
Mengapa...
Mengapa...

Dan Engkau menjawab semuanya...
Menjawabnya pada waktu yang tepat...
Dan tak pernah kuduga sebelumnya...

Ya...
Jawaban itu masih saja selalu kudapatkan...
Mungkin diri ini yang salah...
Tak pernah mau belajar akan arti sebuah kesabaran...
Tak pernah mau belajar untuk bersyukur...

Dan sekarang...
Ketika semua orang bertanya kepadaku...
Mengapa...
Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman...

Engkau tahu kenapa?
Karena kini aku yakin...
Aku percaya...
Engkau selalu ada untukku...
Dan aku tak mau lagi bertanya "mengapa"...
Karena aku yakin...
Jawaban itu akan datang...
Entah sekarang...
Esok...
Lusa...
Tahun depan...
Atau memang tak pernah ada jawaban...

Yang kutahu...
Engkau selalu memberiku semua tepat waktu...
Yang kutahu...
RencanaMu selalu lebih indah dari apa yang kubayangkan...

Ya Allah...
Tahukah Engkau...
Hanya Engkau yang kupunya...
Hanya Engkau tempatku bersandar...
Hanya Engkau tempatku kembali...
Karena itu...
Ajari aku ya Rabbi...
Ajariku untuk menjadi hamba yang bersyukur...
Ajariki untuk menjadi hamba yang selalu bersabar...
Ajariku untuk menjadi hamba yang hanya mencintaiMu...

#Refleksi Tahun ----...
Ketika hanya bisa berkata "Mengapa... Mengapa...Mengapa..."
Dan Dia menjawabnya...
Menyapaku dengan hidayah-Nya...
Dan semua berubah...
Dan tak ada lagi kata "Mengapa"...
Yang ada hanyalah "Terima Kasih Ya Allah"... ^_^

Rabu, 11 Juni 2014

Tanpa Judul

Tak akan ada yang bisa mengerti...
Tidak juga kamu...

Aku hanya bisa terdiam...
Menjadi seorang penonton...
Ya...
Seperti seorang penonton...
Tapi aku tak mau menjadi komentator sepak bola...
Karena aku memilih untuk diam...
Dan berbicara dengan diriku sendiri...

Kalau kata orang-orang, "biarlah waktu yang menjawab"...
Maaf...
Maaf jika aku kembali pada Sang Waktu...
Karena hanya Sang Waktu yang bisa menjawab semuanya...

Dan aku kembali hanya bisa terdiam...
Diam...
Dan berbicara dengan diriku sendiri...
Maka biarkan saja semua begini apa adanya...
Mengalir seperti air...
Tanpa pernah kutahu di laut mana dia akan bermuara...

Minggu, 08 Juni 2014

Aku, Si Manusia Khilaf...

Sepasang mata itu menatapku tajam...
Seperti ada yang aneh pada diriku...
Dia tak henti memandangku...
Aku bahkan tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya sekarang...
Dan kalimat itu pun terlontar dari bibirnya...
"Kakak telah berubah..."
"Aku seperti tak menemukan dirimu lagi..."

Aku tersenyum...
Ternyata itu jawabannya...
Sekarang giliranku yang memandang wajahnya...
Melihat perubahan ekspresinya...

Ahhh waktu...
Aku seperti menemukan diriku beberapa tahun yang silam...
Saat si "kakak" kembali dan aku pun mengungkapkan kalimat yang sama...
Dan dia tak pernah memberiku jawaban sedikit pun...
Si 'kakak' hanya berkata, "waktu yang akan menjawabnya"...
Dan sekarang aku menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri...

Kami kembali saling bertatapan dalam diam...
Aku tahu...
Jawabanku tak akan pernah menjawab pertanyaanmu...
Biarlah waktu yang menjawabnya...

Adikku...
Aku bukan manusia yang sempurna...
Aku hanya si makhluk khilaf...
Yang bahkan terlalu sering khilaf...

Aku tak pernah tahu seperti apa yang engkau inginkan dariku...
Tapi ketahuilah...
Aku tak akan pernah bisa menjadi seperti orang yang sempurna di hadapanmu...
Jika engkau menuntut kesempurnaan...
Tengoklah Rasulullah saw...
Sungguh Beliaulah sebaik-baik teladan...

Adikku yang selalu kucintai karena Allah...
Tahukah engkau...
Tak ada yang berubah...
Aku tetap diriku yang dulu...
Yang selalu merindukanmu...
Yang selalu bahagia melihat perubahanmu...
Yang tersenyum bahagia mendengar perubahanmu...
Yang selalu mencintaimu dan berharap berkumpul denganmu di surga-Nya...

Adikku yang selalu kurindukan karena Allah...
Tak ada yang berubah...
Aku hanya belajar mencoba melihat dunia dari sudut pandang yang lain...
Dan aku belajar dari Sang Waktu...

Ahhhh...
Andai kujelaskan padamu
Mungkin engkau tak akan pernah mengerti...
Atau mungkin engkau tak akan mau mengerti...
Semuanya bisa kulihat dari tatapan matamu...
Seolah tak mau menerima diriku yang sekarang...

Tak mengapa...
Biarlah waktu yang menjawabnya...
Dan aku hanya bisa berkata...
Waktu bisa mengubah segalanya...
Pengalaman bisa mengubah segalanya...
Bertemu orang-orang baru bisa mengubah caramu melihat dunia...
Karena itu...
Keluarlah dari duniamu...
Lihat orang-orang baru disekitarmu...
Jelajahi dunia di sekitarmu...
Hingga engkau mengerti...
Dan menemukan jawaban untuk pertanyaanmu...

Adikku yang selalu kucintai karena Allah...
Jika engkau bertanya apa yang berubah?
Tak ada yang berubah...
Rasa sayangku padamu tak berkurang sedikit pun...
Dan tahukah engkau apa yang membuatku tersenyum bahagia saat melihatmu?
Engkau lebih dari apa yang sering kudengar tentangmu...
Bayangan saat pertama kali kita berjumpa...
Merajut cinta dalam ukhuwah...
Mengikat tali persahabatan ilahi...
Hingga akhirnya harus berpisah...

Dan lagi-lagi...
Aku hanya Si Manusia Khilaf...
Jadi berhentilah mengharapkan sosok yang sempurna dariku...
Semua itu hanya akan membuatku sakit...
Karena gagal menjadikan Rasulullah teladanmu...

Adikku...
Maafkan aku yang tak akan pernah bisa menjadi seperti yang engkau harapkan...
Karena aku hanya Si Manusia Khilaf...
Yang terus belajar dari Sang Waktu...

Jakarta, 8 Juni 2014

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...