Kamis, 08 Mei 2014

Kumohon Tetaplah Bersamaku...



Kapan aku mengenalmu?
Kapan pertama kali aku bertemu denganmu?
Kapan pertama kali kita berjabat tangan?
Kapan pertama kali kita saling bertegur sapa?
Aku mungkin sudah melupakannya...
Kapan pertama kali Allah mempertemukan kita...



Yang kutahu Allah mempertemukan kita di jalan cinta para pejuang...
Allah menyatukan kita dalam tali persahabatan ilahi...
Hingga akhirnya kita saling mengenal satu sama lain...
Setiap hari seperti ada sesuatu yang baru darimu...
Setiap hari selalu ada ilmu yang kudapatkan darimu...

Setiap kali berjumpa...
Selalu saling berbagi...
Berbagi rasa...
Bahagia...
Suka...
Duka...
Tawa...
Tangis...

Ahhhh...
Hingga akhirnya kita saling menguatkan...
Tatkala berjumpa denganmu...
Keluhan yang ingin keluar seolah tertahan...
Serasa semuanya berlalu begitu saja saat melihat senyumanmu...
Lewat senyummu yang meneduhkan seolah ingin berkata, “Ukhti, bersabarlah. Engkau tak pernah sendiri dalam ujian kehidupan ini...”

Dan ketika rasa itu tak lagi hadir dalam kebersamaan kita...
Sungguh bukan dirimu yang salah...
Hanya imanku yang lagi compang-camping...
Dan kumohon jangan tinggalkan aku...
Biarkan aku tetap berjalan di sampingmu...
Kumohon jangan lepaskan genggaman tanganmu...
Biarkan aku berusaha bangkit mengikuti langkahmu saudariku...
Meskipun aku harus tertatih-tatih mengikuti langkahmu...
Tak mengapa...
Asalkan bersama denganmu...
Karena aku ingin selalu bersama denganmu...
Di dunia...
Dan di surga-Nya...
Semoga...
Aaminn Ya Rabbal ‘alamin...

#Teruntuk saudariku yang pernah hadir dalam lingkaran kecilku...
Teruntuk saudariku yang selalu ada memberi warna dalam kehidupanku...
Teruntuk saudariku yang telah dikirimkan oleh Allah untukku dalam tali persahabatan ilahi...
Aku mencintaimu karena Allah... ^_^

"Edisi merindu dan kembali bersiap meninggalkan semuanya demi sebuah mimpi yang harus kuselesaikan..."

Rabu, 07 Mei 2014

Cinta Pertamaku...

Jika ada yang bertanya, "Siapa cinta pertamamu?"
Akan kujawab, "My Father"

Ya...
He is my first love...

Lelaki pertama yang kudengarkan suaranya saat dia mengumandangkan kalimat Allah di telingaku...
Lelaki pertama yang menggendongku saat lahir ke dunia ini...
Lelaki pertama yang menitikkan air matanya saat aku hadir di dunia ini...

Bagi anak perempuan, sudah seharusnya ayahnyalah yang menjadi cinta pertamanya. Pun begitu dengan anak laki-laki, Ibunyalah yang seharusnya menjadi cinta pertamanya.

Dan kali ini aku ingin bercerita tentang dia...
Sosok laki-laki yang sangat sederhana dan jauh dari kemewahan. Aku sangat mengenali kejujurannya. Bapak punya prinsip, tidak apa-apa sedikit yang penting berkah. Bapak juga selalu mengajari kami untuk mengembalikan setiap masalah kepada Allah. "Apapun masalah hidup yang engkau hadapi, kembalikan semuanya kepada Allah. Allah lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.Dimana pun kamu berada, apapun masalahmu, selalu ingat Allah." Itulah yang selalu dipesankannya untuk kami anak-anaknya.

Ketegasannya sudah tak dipertanyakan lagi, apalagi untuk urusan yang berhubungan dengan agama. Tak ada ruang toleransi bagi kami anak-anaknya. Ketika adzan berkumandang, maka semua harus ke masjid. Secara kakak-kakakku semuanya cowok. Bapak tak pernah memperlakukanku istimewa meskipun aku satu-satunya anak perempuan di rumah. Bapak tidak suka kalau aku manja. Bahkan Bapak over protective sama aku. Dan aku baru tahu alasan Bapak memperlakukanku seperti itu ketika aku merantau. Saat Bapak tak lagi ada di sampingku untuk menjagaku. Aku harus bisa menjaga diriku baik-baik.

Bapak...
Sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Beliau punya prinsip, "Anak-anaknya harus punya sekolah yang lebih tinggi daripada orang tuanya." Aku menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Bapak membiayai sekolah kakak-kakakku. Ya, masa kecilku banyak kuhabiskan dengan orang tuaku karena semua kakak sudah kuliah ke kota. Dan aku menjadi saksi perjuangan Bapak dalam memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.

Bapak...
Aku tak pernah melihatnya meninggalkan sholat lima waktu. Sholatnya pun selalu di masjid dekat rumah. Kalau pun Beliau ngga ke masjid, itu artinya Beliau lagi sakit. Bapak suka marah kalau anak-anaknya ngga sholat ke masjid. Apalagi kalau ngga sholat, jangan harap kami akan mendapat teguran darinya hari itu. Ada satu kenangan yang boleh dibilang sejak itulah aku mulai rajin sholat. Saat itu aku masih kelas 3 SD. Aku selalu tidur dekat Bapak karena Beliau suka mendongengkanku sebelum tidur dengan kisah-kisah Nabi dan Rasul. Saat tengah malam tiba, seperti biasa Beliau bangun untuk melaksanakan sholat tahajjud. Seusai sholat Beliau lalu berdoa dan di saat berdoa itulah aku mendengar doa-doanya. Bapak menyebut namaku dalam doanya. Aku tetap saja berpura-pura tidur sambil terus mendengarkan doa-doanya.

Ahhhh Bapak...
Saat itu aku hanya berkata pada diriku, "Aku jarang mendoakan Bapak. Kalau pun mendoakan, doanya pasti asal-asalan seperti anak-anak yang lain." Boleh dibilang kejadian itu menjadi bukti bagi diriku kalau Bapak sangat menyayangiku.

Ya...
Bapak bukan tipe orang yang romantis yang selalu mengatakan sayang kepada anak-anaknya. Bapak lebih banyak diam. Dan dalam diamnya itulah dia mengungkapkan rasa sayangnya. Semua itu baru kumengerti setelah aku beranjak dewasa.  

Bapak selalu berusaha untuk menepati janjinya. Janji yang selalu kuingat adalah ketika Beliau berjanji akan menemaniku dua tahun di Makassar. Setelah dua tahun, Beliau berjanji akan kembali ke kampung halamanku menikmati masa tuanya. Janji itu benar-benar dipenuhinya. Dua tahun Beliau menemaniku di Makassar saat kuliah dan kembali ke Sinjai untuk selamanya. Beliau benar-benar pulang ke kampung halamanku untuk beristirahat selamanya.

Dan sekarang tepat enam tahun kepergiannya...
Bapakku yang selalu dan akan selalu kucintai karena Allah...
Terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang telah engkau berikan untukku...
Terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah engkau berikan untukku...
Terima kasih telah memberikanku kenangan masa kecil yang indah...
Terima kasih untuk semuanya...
Aku masih ingat dengan keinginanmu melihatku saat diwisuda...
Mungkin semua itu tak bisa terwujud di dunia...
Semoga kelak aku bisa membuatmu bahagia dan bangga di hadapan Allah...

Ya Allah...
Ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku...
Berikanlah Ayahku tempat terbaik disisi-Mu...
Lapangkanlah tempatnya...
Terangilah tempatnya...
Dan kumpulkanlah kami di Surga-Mu kelak...
Ya Allah...
Jika ada kebaikan yang kulakukan dan bernilai pahala...
Kumohon alirkan pahalanya untuk kedua orang tuaku...
Yang telah membesarkanku, mengajariku, mendidikku untuk selalu menjadikan Engkau tujuan hidupku...
Ya Allah...
Kumohon jagalah keduanya dengan sebaik-baik penjagaan-Mu...
Aaminn Ya Rabbal 'alamin...

Makassar, 6 Mei 2008 - Makassar, 6 Mei 2014

Enam Tahun Merindukanmu...



Bapak...
Maafkan aku...
Aku belum bisa melupakanmu...
Aku belum bisa melupakan senyuman hangatmu...
Senyum yang selalu kurindukan...

Bapak...
Di ruangan yang bernuansa putih itu, engkau terbaring lemah tak sadarkan diri. Aku hanya bisa mendengar suara alat-alat yang tak pernah kutahu apa namanya. Aku hanya bisa mendengar hembusan nafasmu. Kutatap dalam-dalam garis wajahmu. Kugenggam tanganmu yang kulitnya semakin kasar. Betapa besar tanggung jawab yang engkau jalankan selama ini.

Bapak...
Apakah engkau tahu apa yang ada dalam pikiranku saat itu?
Aku hanya bisa berbicara dengan diriku sendiri...
Aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri...
Dan memohon kekuatan dari-Nya...
Saat mereka memintaku untuk mengikhlaskan apapun yang akan terjadi...
Aku hanya bisa terdiam sambil memandangi wajahmu...
Secepat itukah engkau akan meninggalkanku?
Aku belum bisa memberimu apa-apa...
Aku belum bisa membuatmu bangga...
Aku belum bisa membahagiakanmu...
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam dan berbicara pada diriku sendiri...
Satu-persatu bayangan masa kecil yang indah bersamamu kembali menghampiriku...
Mengantarku ke sekolah dengan berjalan kaki...
Engkau menggenggam tanganku sambil bercerita...
Cerita tentang sosok para nabi dan rasul yang waktu itu belum kukenal baik...
Menjemputku sepulang sekolah sambil memberiku sebungkus coklat...
Ahhh, engkau selalu tahu kesukaan putri kecilmu...

Mengajakku ke masjid setiap kali engkau ingin sholat...
Saat aku berbuat gaduh di masjid, engkau tak pernah memarahiku...
Engkau hanya menegurku saat pulang dan bercerita kalau masjid itu rumah Allah dan aku harus menjaga perilakuku saat berada di rumah-Nya...

Saat menemaniku ke dokter gigi...
Engkau sangat tahu kalau alat-alat dokter gigi itu selalu saja membuatku ketakutan...
Bahkan memelukku disaat aku harus berdamai dengan jarum suntik...
Aku ingat saat TK aku tak mau ke sekolah karena guruku yang tiba-tiba mencubitku tanpa alasan yang jelas...
Saat itulah aku melihatmu terdiam...
Engkau lalu membujukku dan menemui guruku agar memperlakukanku dengan baik...

Kapan pertama kali aku melihatmu marah kepadaku?
Hhheemmm, aku ingat waktu masih duduk di bangku SD...
Saat itu aku tak mau mengaji. Akhirnya engkau menyuruhku duduk dihadapanmu dan aku menuruti semua perintahmu. Aku pun mengaji dengan suara menangis...

Ya...
Aku tahu kalau semua hal yang berhubungan dengan agamamu engkau tak pernah memberiku toleransi. Sholat dan mengaji adalah dua hal yang bisa membuatmu marah kepadaku. Dan aku bersyukur engkau mengajariku semua itu. Aku tak pernah tahu akan seperti apa diriku andai engkau tak pernah mengajariku tentang agamaku.

Bapak...
Saat anakmu ini mulai beranjak remaja... 
Mungkin saat itu engkau kebingungan melihat perilaku anak perempuanmu ini...
Saat pertama kali aku pergi bersama dengan teman-temanku tanpa meminta izinmu...
Dan engkau menungguku di depan pintu dan mengajakku ngobrol...
Aku hanya bisa terdiam karena aku tahu kesalahanku...
Dan engkau hanya berkata, “kamu itu anak perempuan Bapak satu-satunya. Tanggung jawabnya jauh lebih besar dibanding menjaga anak laki-laki. Jadi, tolong bantu Bapak dengan tidak pergi sembarangan.”
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam...

Dan sekarang tepat enam tahun kepergianmu...
Aku merindukan semua itu...
Rindu dengan telponmu saat jam menunjukkan pukul 18.00 Wita, “Kamu dimana?”
“Saya masih di kampus Pak, sebentar lagi pulang,” jawabku saat itu.
“Perempuan ngga baik keluyuran malam-malam sendirian,” lagi-lagi teguran halus itu datang lagi dan aku tak boleh memberikan alasan lain.

Bapak...
Aku merindukan semua tentangmu...
Merindukan semua kebersamaan denganmu...
Merindukan nasehatmu disaat aku menghadapi masalah...
Merindukan pelukan hangatmu...
Terlalu banyak yang kurindukan darimu...

Dan kemarin...
Saat kupandangi tempat peristirahatan terakhirmu...
Aku hanya ingin berkata...
Terima kasih...
Terima kasih...
Terima kasih...
Untuk semuanya...
Banyak hal yang baru kumengerti disaat engkau tak lagi disampingmu...
Caramu menunjukkan cintamu...
Caramu mengungkapkan cintamu...
Caramu memberikanku kasih sayang...
Mungkin berbeda dengan cara yang diberikan Mama kepadaku...
Mencintai dalam diam...

Bapak...
Aku merindukanmu...
Sangat merindukanmu...
Dan lagi-lagi aku hanya bisa berkata...
Seperti yang kuungkapkan disaat terakhir kebersamaan kita...
“Boni sayang Bapak karena Allah...”
Selalu...
Dan selamanya...

# Makassar, 6 Mei 2008 – 6 Mei 2014...
Tepat enam tahun...
Engkau pergi meninggalkanku...
Engkau memberiku pelajaran cinta tertinggi...
Dan aku harus membuktikan cintaku kepada-Nya...

Tepat enam tahun...
Saat aku melihat dirimu kembali ke asalmu...
Di saat itulah aku tersadar...
Engkau benar-benar pergi meninggalkanku...
Aku tak bisa lagi memandang wajahmu...
Tak bisa lagi memelukmu dan mendengarkan nasehatmu...

Ya...
Hidup ini akan selalu memiliki akhir...
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti...

Senin, 05 Mei 2014

Rindu Sejenak...

Aku memandangi wajah polos dihadapanku...
Bocah imut ini tertidur di pangkuanku saat aku sibuk dengan tumpukan buku...
Kuhentikan sejenak aktivitasku dan kupandangi wajahnya...

Aku suka memandangi wajah anak kecil yang sedang terlelap tidur...
Aku suka memandanginya lama...
Sambil berbicara dengan diriku sendiri...

Terkadang aku merindukan masa kecilku...
Ada Mama...
Bapak...
Dan tentunya kakak-kakakku yang usilnya minta ampun...

Masa kecil yang indah...
Kulewati hanya dengan bermain...
Kulewati kebersamaanku dengan Mama dan Bapak...
Apalagi Bapak yang selalu memanjakanku...

Lagi-lagi kupandangi wajah polos dihadapanku...
Tidurnya terlihat nyenyak...
Tak ada beban...

Ahhhh...
Apakah aku terlalu lemah?
Entahlah...
Tiba-tiba aku hanya ingin mengenang masa kecilku...
Masa kecil yang kulewati di sebuah rumah penuh kenangan...
Bermain sepuasnya...
Menceritakan semua yang kurasakan kepada Mama dan Bapak...
Menceritakan apa yang ingin kulakukan dengan teman-temanku...
Menceritakan pengalamanku dengan teman-temanku di sekolah...

Kupandangi kembali wajah mungil dihadapanku...
Aku bukan lagi seperti anak yang ada di pangkuanku sekarang...
Sekarang...
Segala sesuatu harus kuputuskan sendiri...
Tak boleh lagi merengek...
Tak boleh lagi membagi beban ini pada malaikatku...
Semua harus bisa kuselesaikan sendiri...
Karena akulah yang bertanggung jawab atas kehidupanku sendiri...

Ya Allah...
Cukup bagiku Engkau...
Cukup bagiku Engkau...
Cukup bagiku Engkau...

Aku pernah melewati ujian yang jauh lebih berat...
Dan Engkau-lah satu-satunya alasanku bertahan hingga sekarang...
Bimbing hati ini ketika melangkah...
Aku ingin semua dalam keridhoan-Mu...
Ridho-Mu...
Ridho-Mu...
Ridho-Mu...

Dan ketika bocah kecil itu terbangun...
Dia pun menangis dan meminta agar digendong...
Ahhhh...
Anakku...
Kamu harus kuat...
Kelak kehidupan yang akan engkau jalani akan jauh lebih berat...
Dan kuharap Allah selalu menjaga dan membimbing setiap langkahmu...

#Teruntuk keponakanku, Azizah Amira Mahmud dan Aliya Azzahra Mahmud...
Entah mengapa...
Setiap kali memandangi kalian, aku selalu teringat dengan Bapak...
Mungkin karena kalian yang paling sering bertanya, "Kakek Mahmud itu seperti apa Tante Boni?"
Dan izinkan aku mengenang Bapak dengan memandangi wajah-wajah kalian...
Sejenak mengobati rindu...
Rindu pada My First Love... ^_^

Makassar, 6 Mei 2008 - 6 Mei 2014
Tepat enam tahun kepergianmu...

Sabtu, 05 April 2014

Aku Bukan Malaikat...

Ketika semua orang menuntutku menjadi yang sempurna...
Ketika semua orang berharap tak ada cacat dalam diriku...
Ketika semua orang menginginkan aku selalu menjadi kertas putih tak bernoda...

Dan akhirnya...
Ketika semua keinginan dan tuntutan kalian tak terpenuhi...
Beribu hujat engkau berikan padaku...
Beribu cacian engkau lemparkan padaku...
Yang jelek engkau ungkit-ungkit...
Yang benar engkau tutupi...
Setiap celah engkau jadikan bahan untuk menghukumku...
Tanpa pernah engkau mau bertanya dan mencari tahu dari sisi yang berbeda...
Seolah tak ada lagi kebaikan dalam diriku...

Sayangnya...
Aku bukan malaikat...
Aku hanya manusia biasa...
Yang tak luput dari khilaf dan dosa...
Aku hanya sekumpulan orang-orang yang selalu berusaha menjadi lebih baik...
Aku hanya sekumpulan orang-orang yang belajar menjadi hamba terbaik dihadapan-Nya...
Aku hanya sekumpulan orang-orang yang belajar untuk mencintai-Nya...
Aku hanya sekumpulan orang-orang yang berjuang menegakkan agama Allah di bumi cinta-Nya...

Ya...
Aku bukan malaikat...
Aku hanya manusia biasa...
Jika hal itu masih saja membuatmu marah dan kecewa...
Maka maafkanlah aku...
Maafkan aku yang tak bisa memenuhi semua harapanmu...

Tetapi...
Tahukah engkau kawan...
Aku selalu yakin akan satu hal...
Aku yakin kalau harapan itu masih ada...
Dan aku ingin mewujudkan harapan-harapan itu bersamamu...
Kita berjalan bersama, beriringan...
Saling menguatkan di jalan cinta para pejuang...
Karena musuh nyata itu sudah di depan mata...
Dan aku ingin bersamamu menghadapi mereka...
Bukankah bersama itu lebih baik?
Bersama dalam Cinta, kerja, dan harmoni...

#Terima kasih untuk sahabat-sahabatku yang sangat peduli dengan kami...
Cara sahabat semua mengungkit-ungkit setiap kesalahan kami, membuat kami belajar dan berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Sekali lagi, kami bukan jama'ah malaikat. Kami hanya sekumpulan manusia yang belajar dan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk negeri ini.
Karena Indonesia itu Punya Kita Semua...
Maka izinkan kami memberikan yang terbaik lewat kerja-kerja hati dengan Penuh Kasih Sayang... ^_^

Kamis, 03 April 2014

Ini ceritaku...#SM_III

Teman-teman Penerima Beasiswa Unggulan Dikti Nasional baru-baru ini telah menyelenggarakan acara Scientific Meeting III. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 28-29 Maret 2014 di Kampus Universitas Hasanuddin. Acara ini juga dihadiri oleh delegasi dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Ada beberapa wajah yang kukenali dan lebih banyak wajah-wajah baru yang kutemui. Sebagian teman sudah pernah kutemui saat acara SM II di Bogor tahun lalu dan sebagiannya lagi ternyata teman-teman angkatan 2013.


Hari pertama di acara ini diisi dengan kegiatan seminar. Materi pertama dalam acara seminar ini adalah "Penyebaran SDM Unggul untuk Menjawab Regenerasi Tenaga Pendidik Profesional dalam Upaya Meningkatkan Daya Saing Perguruan Tinggi". Adapun pemateri pada materi pertama adalah Prof. Dr. H. Guntur Yusuf, MS. Sementara materi kedua dalam seminar tersebut adalah "Mengembangkan Pendidik Berkarakter Demi Terwujudnya Generasi Emas Indonesia" oleh Prof. dr. Veni Hadju, M. Sc., Ph.d. Ada hal yang menarik yang disampaikan oleh Prof. Veni dalam sambutannya,"Bersyukurlah kita para penerima beasiswa unggulan. Betapa banyak orang-orang yang ingin merasakan dunia pendidikan, khususnya pada bangku perguruan tinggi. Tetapi mereka tidak bisa merasakannya karena mahalnya biaya pendidikan." Aku paling suka sama materi kedua ini, soalnya Beliau banyak menyinggung tentang cara menyiapkan generasi hebat dan berkarakter di masa depan. Cucok bangets deh sama ilmu yang sedang aku pelajari sekarang, anak usia dini... ^_^
Teman2 UNJ dan Panitia SM III
Malam harinya dilanjutkan dengan acara Kongres PPBU Nasional yang diisi dengan sesi sharing dari alumni PBU angkatan 2011, oleh K' Rais. Menurut beliau, "penerima beasiswa unggulan seharusnya kembali lagi pada konsep awal diadakannya program beasiswa unggulan ini, diantaranya pemerataan SDM di seluruh Indonesia". Beliau banyak memberi kami masukan plus nasehat agar kami tetap fokus saja menyelesaikan kuliah. Yaaa, seperti yang dikatakan oleh Om Dikti, "kuliah yang bener, selesai tepat waktu, dan siap ditempatkan". Insyaa Allah deh Om, kite-kite akan kuliah dengan baik :)
@ Pantai Losari

Hari kedua acara SM III dilanjutkan dengan agenda Field Trip ke beberapa tempat wisata di Makassar. Tempat pertama yang dikunjungi adalah pantai losari.Semangat teman-teman untuk mengabadikan setiap moment di tempat ini luar biasa. Teriknya matahari tak mengurangi semangat teman-teman untuk menyusuri jalan sepanjang pantai losari dan berfoto bersama dengan teman-teman PPBU Nasional. Selanjutnya kami mengunjungi pusat oleh-oleh di Makassar, tepatnya di daerah somba opu. Aku asyik memperhatikan teman-teman dari daerah lain yang sibuk membeli oleh-oleh. Ada kesenangan tersendiri saat aku menjelaskan kepada mereka ciri khas kota Makassar, khususnya oleh-oleh apa yang bagus buat mereka bawa. Kebanyakan dari mereka memilih untuk membeli cemilan khas Makassar.
Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Wisata Bantimurung. Bus yang aku tumpangi tidak berkunjung ke Benteng Rotterdam. Soalnya cuacanya udah panas banget, so kami memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Bantimurung. Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke tempat yang kami tuju. Beberapa teman langsung asyik berbelanja di sekitar tempat tersebut.
Bersama teman-teman LO untuk UNJ... ^_^
Ya...ciri khas Bantimurung adalah kupu-kupu. Kalau teman-teman berkunjung ke tempat ini, maka kalian akan melihat banyak kupu-kupu berwarna-warni. Oh ya, ada satu sahabat saya yang tidak mau membeli gantungan kunci atau pun hiasan  kupu-kupu. Mereka mikir kalau kupu-kupu itu dibunuh terus diawetkan lalu dibuat hiasan. Aku udah jelasin sih kalau kupu-kupu yang dibuat hiasan itu adalah kupu-kupu yang sudah mati, jadi bukan yang hidup. Setahuku, kupu-kupu punya siklus hidup yang hanya bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu. Kalau info ini sih aku juga cuma dengar dari teman-temanku, hehehehehe... Tetapi teman yang tadi tetap saja tidak mau membeli, katanya gak tega. Oh ya, selain jadi peserta SM III aku merangkap jadi tuan rumah juga. Secara ane bugis tulen, so menghormati dan menghargai tamu dari luar Makassar sudah menjadi kewajibanku. Tapi aku salut deh sama LO untuk teman-teman UNJ, saudara baruku Mba' Nurvhin dan Mas Safrin, meskipun kita-kita sudah bilang ngga usah ditemenin tetapi mereka tetap menjalankan tugasnya sebagai LO sampai akhir. Melalui tulisan ini, mewakili teman-teman UNJ mau bilang terima kasih yang tak terhingga buat kalian berdua. Suatu kesyukuran bisa dipertemukan dengan kalian... ^_^
Air Terjun Bantimurung dan Tangga Menuju Gua Mimpi

Saat berada di Bantimurung, niat awalnya sih pengen mandi di bawah air terjun. Tapi pas lihat airnya deras banget, semua rencana awalku gagal total. Kata orang-orang sih, waktu itu lagi banjir makanya banyak yang gak berani ke bawah air terjunnya. Terakhir kesana kayaknya waktu zaman S1 deh, tapi udah lupa. Sudah banyak yang berubah dari tempat wisata ini.

Finally, kami pun memutuskan mengunjungi Gua Mimpi. Jalannya lumayan jauh juga. Yaaaa, bisa turunin beberapa kilolah sekalian buat olah raga bagi yang jarang olah raga, hehehehe... Setelah berjalan mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah di sisi kananku (mirip soundtrack film kartun ya, hahahaha) akhirnya kami sampai di gua mimpi. Suasananya bener-bener gelap (Ya iyalah, namanya juga gua... ^_^). Kami berjalan beriringan dan berpegangan tangan. Sebenarnya aku gak takut-takut amat sih, cuma kurang berani, hehehehe. Berbekal senter kami pun melanjutkan perjalanan di Gua Mimpi. Meskipun dalam kegelapan, ternyata narsisnya teman-teman gak hilang. Setiap sudut tetep harus diabadikan. Yaaa, kapan lagi kita bisa ngumpul seperti ini...^_^
@ Gua Mimpi
Hanya ada satu pertanyaanku yang belum terjawab sampai sekarang, "Kenapa tempat itu dikatakan Gua Mimpi?". Kalau kata temanku sih, "kalau sudah berada di dalamnya katanya serasa berada dalam mimpi." Hhheeemmm, kalau aku sih emang kayak mimpi di dalam. Mimpi kejedot, huhuhuhu... Tetapi perjalanan hari itu tetap menyenangkan...

Perjalanan SM III hari itu berakhir di Bantimurung. Ini pengalaman aku yang kedua mengikuti kegiatan SM III dan semua punya cerita yang menarik. Ada satu hal yang sangat berbeda yang kami rasakan, khususnya kami yang dari Makassar. Saat SM II kemarin ada kebahagiaan tersendiri saat bertemu saudara sekampung di perantauan. Rasanya seperti bertemu saudara sendiri, apalagi buat kami yang punya jatah pulang hanya sekali atau dua kali dalam setahun. Kerinduan pada orang-orang terkasih di kampung halaman serasa terobati saat bertemu mereka di perantauan. Sementara di SM III ini, kami yang dari Makassar berusaha untuk menjadi tuan rumah yang baik. Memberikan pelayanan terbaik kepada saudara-saudara kami dari luar Makassar. Itulah sebabnya di SM III ini aku dan beberapa teman lebih banyak menikmati peran sebagai tuan rumah.
Tiga dari sekian banyak sahabat baru di SM III... ^_^

Di akhir tulisan ini, aku pengen bilang terima kasih yang sebesar-besarnya buat teman-teman yang sudah bersedia hadir dalam acara SM III ini. Kalian adalah guru-guru yang dikirimkan oleh Allah untukku. Aku banyak belajar dari teman-teman semua. Mohon maaf ya, jika kami belum bisa menjadi tuan rumah yang baik buat teman-teman semua. Dan tentunya terima kasih tak terhingga juga buat teman-teman panitia. Setiap kali mendengar cerita teman-teman panitia, aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan teman-teman panitia. Tak lupa juga Barakallahu fii buat K' Andi Hasriadi Hasyim (UNJ), K' Arif (UI), dan K' Dainur yang terpilih untuk melanjutkan amanah dari teman-teman kepengurusan PPBU sebelumnya.
Buat saudara-saudaraku, semoga kebersamaan kita tak berakhir sampai disini. Semoga Allah mempertemukan kita lagi, tentunya dalam kondisi yang lebih baik. Insyaa Allah sampai jumpa di Jakarta alias di Universitas Indonesia... ^_^

Buat teman-teman yang sudah penempatan, selamat berkarya!!! Tetap semangat Pejuang Pendidikan!!! Semoga Allah selalu menjaga dan memberi yang terbaik buat temam-teman...
Buat yang lagi nyusun tesis dan disertasi, semoga dimudahkan ya. Ingat pesan Om Dikti, "kuliah yang bener, lulus tepat waktu, lapor diri, dan siap ditempatkan."

Salam hormat dari Ana' dara Tho' Ugi, Bonita...
Semoga Makassar memberikan kesan yang indah buat teman-teman semua... ^_^
Makassar, 28-29 Maret 2014
SM III @ Unhas Makassar

Selasa, 01 April 2014

Untukmu Ayah Ideologisku...



Ayah...
Bagaimana kabarmu sekarang?
Apakah engkau baik-baik saja?
Bagaimana kabar imanmu?
Ahhh, aku yakin...
Imanmu jauh lebih baik disana...
Itu yang kudengar dari cerita orang-orang yang pernah menemuimu...

Ayah...
Bolehkah aku bercerita?
Aku ingin bercerita tentang kisahku...
Tentang kisah kita...

Ayah...
Tahukah engkau...
Setiap kali aku menemui orang-orang, mereka selalu menanyakan kabarmu...
Menanyakan kondisi terakhirmu...
Dan aku pun selalu menjawab, “Insyaa Allah Beliau baik-baik saja. Mohon doanya semoga Beliau selalu dalam lindungan Allah”...

Ayah...
Tahukah engkau apa yang kami dapatkan?
Cacian...
Makian...
Penolakan...

Ayah...
Bisa engkau bayangkan bagaimana perasaanku saat itu?
Saat mereka bercerita hal-hal yang sebenarnya tidak pernah engkau lakukan...
Saat mereka menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak seperti itu...
Saat mereka mengungkit-ungkit semua tentangmu...
Dan aku hanya bisa tersenyum sakit...
Karena ibu selalu berkata, “ketika mereka bercerita tentang ayahmu, tak perlu engkau bantah. Cukup dengarkan saja semua yang mereka sampaikan dan tetap tersenyum. Sampaikan permintaan maaf dari ayah kepada mereka”...

Ayah, tahukah engkau...
Aku sempat protes kepada ibu, “Mengapa kita harus diam? Kenapa kita tidak memberikan penjelasan kalau masalahnya tak seperti itu? Ayah hanya korban dari semua ini, tetapi kenapa kita tak bisa membela diri? Kenapa???”

Ayah, tahukah engkau...
Ibu lagi-lagi hanya tersenyum dan berkata, “Anakku, bersabarlah. Kelak Allah akan menunjukkan kalau yang benar itu pasti benar dan yang salah pasti salah. Tetap tersenyum dan dengarkan semua isi hati mereka. Mereka sudah lama tak menemukan pendengar yang baik. Dan engkaulah pendengar yang baik itu. Biarlah Allah yang menyelesaikan urusan ayahmu...”
Dan akhirnya...
Sekarang aku hanya bisa tersenyum...
Mendengarkan semua cerita mereka tentangmu...
Sakit...
Sangat sakit...
Tetapi aku harus tetap tersenyum, begitu kata ibu...

Dan ketika mereka telah selesai bercerita, aku kembali melakukan pesan ibu...
“Bapak, terima kasih untuk semua nasehatnya untuk kami. Saya mewakili ayah, menyampaikan minta maaf yang sebesar-besarnya. Beliau hanya manusia biasa yang pastinya tak luput dari kekhilafan. Sekali lagi, maafkan Beliau ya Pak kalau ayah sudah mengecewakan Bapak. Doakan kami agar kami bisa tetap istiqomah berjuang memperjuangkan aspirasi masyarakat.”
Akhirnya, kalimat itu meluncur dari bibirku dengan suara yang bergetar...
Aku rasanya ingin menangis dan berkata, “Tidak seperti itu Pak. Tolong beri saya waktu dan akan kujelaskan semuanya.”
Tetapi nasehat ibu masih selalu terngiang-ngiang...
Dan tahukah engkau ayah apa yang kudapatkan...
Bapak itu tiba-tiba meminta maaf kepadaku lalu bercerita tentang semua kebaikan yang pernah engkau lakukan...
Bapak itu tiba-tiba bercerita tentang kebaikan yang pernah dilakukan oleh teman-temanmu...
Dan dia pun mendoakanmu...
Ya... mendoakanmu agar engkau segera mendapatkan solusi dari semua masalah ini...

Ayah, maafkan aku...
Aku hanya baru mendapatkan cacian, makian, bahkan diusir tetapi sudah mengeluh...
Aku sadar semua itu belum seberapa dengan apa yang engkau dapatkan saat ini...
Dan seperti yang selalu engkau sampaikan, “ujian ini belum seberapa dibanding ujian yang telah didapatkan oleh Rasulullah saw. Maka bersabarlah, terus bekerja. Biarlah Allah dan orang-orang beriman yang melihat kerja-kerjamu...”

Ayah...
Lagi-lagi aku belajar darimu...
Belajar akan kekuatan dari sebuah kata “maaf”...
Meskipun kita tahu kebenaran itu...
Dan tetap tersenyum meskipun ujian datang bertubi-tubi...
Karena ujian adalah bukti bahwa Allah sayang kepada kita...
Ayah...
Terima kasih...
Semoga Allah selalu menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan-Nya...

# Tulisan sederhana untuk seorang lelaki yang tak pernah kutemui secara langsung. Aku hanya selalu belajar dari tulisan-tulisannya atau pun taujih-taujihnya yang biasa disampaikan oleh Murabbiku alias ibu ideologisku. Sejak itulah aku merasa dekat dengannya dan kusebut dia sebagai satu dari sekian banyak ayah ideologisku. Aku terkadang protes dengan keputusan yang diambilnya, tetapi ibu ideologisku selalu berkata, “Para qiyadah selalu punya alasan mengapa mereka mengambil semua keputusan itu dan kita tak perlu tahu akan semua alasan mereka. Insyaa Allah mereka sudah berusaha untuk selalu mengambil keputusan terbaik diantara yang terbaik. Doakan saja agar mereka selalu dijaga oleh Allah.”
Semoga wajah-wajah para qiyadah kita selalu menghiasi doa-doa kita...
Wallahu a’lam bi shawab...

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...