Selasa, 18 Juli 2017

RUMAHKU MASIH NGONTRAK


Judul                    : Rumahku Masih Ngontrak
Penulis                : Dr. Syafiq bin  Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah, MA
Penerbit              : Rumah Ilmu
Jumlah Halaman: 83 halaman

Berawal dari mendengar cerita teman-teman yang sibuk mencari rumah hingga kisah seorang teman yang memutuskan untuk meninggalkan aktivitas yang bisa menjeratnya pada riba, membuat saya banyak mencari pelajaran tentang rumah. Saya hanya teringat pesan dari seorang ustadz, “Banyak yang sibuk membangun rumahnya di dunia, tetapi lupa membangun rumahnya di akhirat.” Sejak itu saya selalu bertanya, “Bagaimana cara membangun rumah di surga?” Iseng buat status, Alhamdulillah rezeki anak sholehah. Seorang teman di Komunitas Menulis Online (KMO), Kang Tiesna Sutisna, membaca status tersebut dan beliau menghadiahkan bukunya yang berjudul “Rumahku Masih Ngontrak”. Semoga Allah membalas kebaikan Beliau dengan penjagaan dari Allah untuk keluarga kecilnya. Saya tertarik untuk membuat resume buku ini dengan niat semoga banyak yang mengetahui manfaat dari buku ini dan sebagai ikhtiar untuk memperbanyak link meraih surgaNya Allah. Aaminn Ya Rabbal ‘alamin

Buku ini diawali dengan bab Kampanye Shalawat. Penulis ingin mengajak para pembaca untuk selalu bershalawat kepada Rasulullah saw lewat beberapa kisah. Salah satu kisahnya yaitu ketika Nabi saw menceritakan tentang Al Baitul Ma’mur di atas langit sana yang beliau lihat pada saat peristiwa Isra ‘Mi’raj. Beliau berkata: “Kemudian ditunjukkan kepadaku baitul ma’mur. Akupun bertanya kepada JIbril, beliau menjawab, “Ini Baitul Ma’mur, setiap hari ada 70.000 malaikat yang sholat di dalamnya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan kembali lagi dan itu menjadi kesempatan terakhir baginya.” (HR. Bukhari 3207, Muslim 164, Nasai 448 dan lainnya)”.  Jika malaikat saja bershalawat kepada Rasulullah saw, lalu bagaimana dengan kita? Seberapa banyak shawalat kita kepada Rasulullah saw?

Pada bab-bab selanjutnya, penulis banyak menceritakan tentang nikmatnya memiliki sebuah rumah. Dimana dalam surah An Nahl : 80 dikatakan bahwa “dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.” Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir berkata bahwa kesempurnaan nikmat dari Allah kepada hambaNya yaitu Allah menjadikan rumah-rumah sebagai tempat berlindung, bernaung, dan memperoleh segala macam manfaat dengannya (Tafsir Ibnu Katsir 4/590). Selain itu dari sahabat Nabi saw, Sa’ad bin Abi Waqqash ra, Rasulullah saw bersabda: “Empat hal yang menjadi sumber kebahagiaan: isteri shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan tunggangan yang nyaman. Empat hal sumber kesengsaraan: tetangga yang buruk, isteri yang durhaka, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang tidak nyaman. (HR. Ibn Hibban 4032 Shahihah 282)”

Penulis juga memaparkan beberapa kisah yang sudah Allah tuliskan dalam Al Qur’an tentang kesudahan orang dahulu yang ditimpa azab karena kesombongan memiliki bangunan-bangunan yang mewah, seperti kisah Kaum Tsamud, Kaum ‘Aad, hingga kerajaan Fir’aun. Di dalam Al Qur’an telah tergambar jelas bagaimana mereka pada akhirnya meninggalkan bangunan-bangunan yang mereka bangga-banggakan selama hidupnya dan membuat mereka lupa kepada Allah. 

Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi kaum yang mengetahui
(QS. An Naml: 52)

Di sisi lain, Allah juga memberikan contoh dari kisah Nabi Sulaiman as. Nabi dan raja yang shaleh dan tersohor, namun keshalehan dan kenabiannya tidak dapat menjadikannya kekal dan abadi tinggal di istana dan kerajaan yang dibangunnya, bahkan beliau telah diberi berbagai karunia yang tidak diberikan kepada selain beliau (Shaad: 35-40). Ternyata Nabi Sulaiman pun juga harus keluar meninggalkan istananya dan singgasana ratu Balqis yang spektakuler.

So, Sejatinya semuanya hanya mengontrak!!! Sebagus apapun rumah yang dimiliki, maka ia tetap saja rumah kontrakan. Sehebat apapun ketaqwaan dan keshalihan hamba, ia pada sejatinya juga mengontrak. Karena akan datang suatu hari yang memaksa kita untuk keluar dari rumah kita. Tidak kenal, raja, nabi, presiden, atau siapa saja. Sampai mati ia ngontrak di muka bumi ini. Bila masa kontrakan habis maka harus keluar, mau tidak mau! Suka tidakl suka!


Penulis juga menuliskan beberapa kisah inspiratif dari perempuan-perempuan sholehah terdahulu untuk menjadi teladan kita. Diantaranya kisah Khadijah ra, isteri Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits diceritakan, “Jibril mendatangi Nabi saw lalu berkata: “Ya Rasulullah, Khadijah telah datang membawa tempayan berisi kuah atau makanan atau minuman, maka jika ia tiba sampaikanlah kepadanya salam dari Rabbnya (La Ilaha Illa Allah, Allah yang menciptakan makhluk, yang menciptakan surga dan neraka, kirim salam buat Khadijah. Betapa mulianya dan dicintainya Khadijah oleh Allah swt) dan aku juga kirim salam – kata malaikat Jibril, serta berikan kabar gembira kepada Khadijah dengan sebuah rumah yang terbuat dari mutiara yang tidak ada suara keras (hiruk pikuk) di dalamnya dan juga tidak ada keletihan” (HR. Bukhari No 3820 dan Muslim No 2432).

Kisah lain yang sangat menggugah hati adalah Isteri Fir’aun, Asiah. Asiah yang tinggal di istana kerajaan berbalut segala kemewahan, namun ketika iman masuk ke dalam hatinya, beliau pun meminta sebuah rumah kepada Allah. Kisah ini diabadikan dalam Al Qur’an surah At Tahrim: 11: “Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika itu berkata: ‘Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum zhalim.’ Indah sekali doa itu. Asiah berdoa agar bisa bertetangga dengan Allah. Seperti dikatakan dalam sebuah peribahasa Arab, “Pilih tetangga terlebih dahulu sebelum pilih rumah.” Seperti itulah islam mengajari kita dalam memilih rumah, pilihlah tetangga terlebih dahulu karena kita tidak akan tinggal satu atau dua tahun di rumah tersebut, tetapi akan tinggal bertahun-tahun. Point ini juga dibahas dalam ilmu parenting tentang bagaimana lokasi rumah sangat mempengaruhi proses pengasuhan pada anak.

Lalu bagaimana cara memiliki rumah di surga?
Berikut saya paparkan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membangun rumah kita di surga yang dibahas dalam buku ini:

1.    Shalat sunnah 12 rakaat dalam sehari semalam
Tidaklah seorang muslim melaksanakan sholat sunnah untuk Allah pada setiap harinya sebanyak 12 raka’at selain shalat fardhunya, melainkan Allah akan membangunkan baginya rumah di surga”. (Shahih Muslim Juz 1 hal. 502).

2.    Membangun masjid
Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang membangunkan sebuah masjid karena Allah, walaupun sekecil tempat bertelurnya burung Dara pasir atau yang lebih kecil, niscaya Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Albani, Shahih Jami’ No 6128).

3.    Membaca surah Al Ikhlas 10 kali
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang membaca surah Qul Quwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, niscaya Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga”. (HR. Ahmad, dishahihkan Albani, Shahih Jami’ No 6472).

4.    Bersabar dan memuji Allah tatkala mendapat musibah meninggalnya buah hati
Rasulullah saw bersabda:
Jika anak seorang hamba Allah swt meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya: “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?”, maka mereka berkata: “Iya benar”.
Kemudian Allah berkata: “Kalian telah mengambil buah hatinya?, maka para malaikat berkata: “Iya benar”.
Allah bertanya lagi: “Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?”
“Dia memuji-Mu dan berkata “Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un (Sesunggunya kami miliki Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan kembali)”,jawab para malaikat.
Allah pun berfirman: “Dirikanlah sebuah rumah untuk hamba-Ku di surga dan namakan rumah itu RUMAH PUJIAN”. (HR. Tirmidzi, dihasankan Albani, Shahihul Jami’ No 795).

5.    Membaca doa tatkala masuk pasar
Barangsiapa yang masuk ke pasar dan berkata: “Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan hanya Allah yang Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, milliki-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala pujian, Dia yang menghidupkan dan Dia yang mematikan, dan Dia Maha Hidup, tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Maka Allah akan menuliskan baginya seribu dikali seribu kebaikan, dihapuskan darinya seribu kali seribu dosa, dan diangkat untuknya seribu kali seribu derajat dan Allah akan membanguinkan baginya rumah di surga. (HR Ahmad, Tirmidzi, dihasankan oleh Albani – Shahihul Jami’ No 6231).

6.    Meninggalkan kebiasaan berdusta, walaupun hanya sedang bergurau
Aku menjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga, bagi yang meninggalkan dusta, walaupun hanya bergurau”. (Hr Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Shohihah No 273).

7.    Meninggalkan segala bentuk perdebatan walau merasa penda[patnya adalah yang paling benar
Rasulullah saw bersabda: “Aku menjaminkan sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan pertengakaran walaupun ia dipihak yang benar”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasanjkan oleh Albani dalam Shohih Targhib 3/6).

8.    Menutup celah diantara shaf sholat
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menutup celah di shaf niscaya Allah akan mengangkat baginya satu derajat dan membangunkannya rumah di surga”. (HR. Thabrani, dishahihkan Albani, Shohihah No 1892).

9.    Berhijrah
Rasulullah saw bersabda: “Aku menjaminkan sebuah rumah di bagian pinggiran surga, di tengah surga yang tertinggi dari kamar-kamar surga bagi yang beriman kepadaku dan masuk islam serta berhijrah”. (HR. Nasai, Shohih Jami’ No 1465).

10.  Berjihad di jalan Allah
Rasulullah saw bersabda: “Aku menjaminkan bagi yang beriman kepadaku, aku menjaminkan bagi yang beriman kepadaku, dia memeluk islam dan berjihad di jalan Allah, dengan sebuah rumah di pinggiran surga, satu buah rumah di tengah surga, dan satu buah rumah di surga yang tertinggi”. (Hr Nasai, Shohih Jami’ No 1465).

Ada yang spesial di point ini, tiga rumah spesial ini dikhususkan bagi mereka yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

11.  Khusnul Khuluq (Akhlak yang Baik)
Bila engkau mengharapkan sebuah rumah yang indah di surga, maka perbaikilah akhlakmu. Rasulullah saw bersabda: “Subhanallah aku menjaminkan rumah di surga tertinggi bagi siapa yang akhlaknya baik”. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Albani dalam Shahih Targhib 3/6)


Alhamdulillah, selsai juga membuat review buku ini. Semoga bermanfaat teman-teman dan teruslah menebar manfaat di muka bumi Allah. Semoga kelak Allah menghadiahkan kita sebuah rumah disisiNya, aamiin ya Rabbal ‘alamin


Makassar, 18 Juli 2017
#InstitutIbu Profesional
#RumbelIIP
#RumahBelajarMenulilsIIP

Senin, 17 Juli 2017

SETIAP ANAK ADALAH BINTANG



Sebelum memulai materi, saya ingin mengajak bunda-bunda “SholCan” (Sholeh dan Cantik) untuk melakukan kegiatan di bawah ini.

  1. Tuliskan atau cobalah mengingat KEKURANGAN dari anak Anda 
  2.  Tuliskan atau cobalah mengingat KELEBIHAN anak Anda
  3. Tuliskan atau cobalah mengingat pengalaman yang pernah membuat Anda marah/jengkel/kecewa yang berhubungan dengan anak Anda 
  4.  Tuliskan pengalaman atau cobalah mengingat yang pernah membuat Anda bahagia yang berhubungan dengan anak Anda.

Bagaimana bunda? Jika saya boleh mengajukan pertanyaan kembali, mohon dijawab pertanyaan di bawah ini:
  1. Lebih mudah mana, mengingat kelebihan atau kekurangan anak Anda? 
  2. Lebih mudah mana, mengingat kejadian yang membuat Anda tersenyum atau marah kepada anak Anda?

Jika lebih mudah mengingat kelebihan-kelebihan dibanding kekurangannya dan lebih mudah mengingat kejadian yang menyenangkan dibanding yang membuat Anda marah, maka bersyukurlah.Berarti Anda sudah bisa fokus pada kelebihan anak Anda. Tetapi jika lebih mudah mengingat semua kekurangannya, apalagi hal-hal yang membuat Anda sampai marah, maka mari kita sama-sama belajar untuk melihat anak-anak kita dari sisi yang lain.


10 TANDA KEHANCURAN SEBUAH BANGSA“Penelitian Dr. Thomas Lickona”

Berikut ini saya paparkan terlebih dahulu tentang sepuluh tanda kehancuran sebuah bangsa  dari hasil penelitian Dr. Thomas Lickona yang saya kutip dari buku “Fitrah Based Education” karya Ustadz harry Santosa.
1.      Meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan pelajar
2.      Penggunaan bahasa yg buruk (ejekan, celaan)
3.      Pengaruh teman lebih kuat dibanding orang tua & guru
4.      Perilaku free sex, merokok, & narkoba
5.      Merosotnya perilaku moral / pribadi egois
6.      Rendahnya rasa hormat pada orang tua, guru, & orang lain
7.      Menurunnya patriotisme
8.      Meningkatnya perilaku merusak kepentingan publik
9.      Ketidakjujuran terjadi dimana-mana
10.    Berkembangnya rasa saling curiga & memusuhi (SARA)


Apakah dari sepuluh tanda tersebut sudah ada di sekitar kita bunda?Jika jawabannya tidak, maka bersykurlah Allah masih menjaga anak-anak kita.Akan tetapi, kondisi ini tidak membuat bahwa tugas kita berhenti.Sungguh tugas kita masih banyak, maka senantiasalah bertawakal kepada Allah. Lalu jika jawabannya ya, maka mari kita perbanyak doa-doa kita agar Allah senantiasa menjaga anak-anak kita karena hanya DIA-lah sebaik-baik penjaga.


KODRAT YANG HILANG PADA DIRI ANAK
Setelah mengetahui sepuluh tanda kehancuran sebuah bangsa, maka sekarang kita akan telusuri apa penyebabnya. Ada yang pernah membaca teori tabularasa yang mengatakan bahwa “anak itu seperti kertas putih, maka akan jadi apa dia kelak itu karena coretan orang tuanya di atas kertas tersebut”.Ini adalah teori lama dan lagi-lagi dikemukakan oleh orang Barat.Saatnya kita kembali kepada Al Qur’an dan hadits termasuk dalam urusan mendidik anak-anak kita.Ketika urusan hari-hari kita selalu berdasarkan tuntunan Al Qur’an dan hadits, lalu mengapa ketika ingin mencari solusi tentang persoalan anak-anak kita sibuk mencari teori-teori lain dan melupakan Al Qur’an?


Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas)fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya
(QS. Ar Rum (30) : 30)


Selain itu dalam saebuah hadits juga dikatakan bahwa
Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah raberkata Nabi saw bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani, atau Majusi sebagaimana binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (HR. Bukhari)


Dari kedua sumber di atas, maka sudah jelas bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.Pemaknaan “fitrah” disini ada dua, berdasarkan dari beberapa ulama.Pertama, fitrah artinya anak sudah dilahirkan dalam kondisi Islam, maka yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nashrani, atau Majusi adalah orang tuanya.Kedua, fitrah disini diartikan bahwa anak dilahirkan sudah membawa potensi-potensi kebaikan dalam dirinya.Allah sudah memberikan bekal kepada setiap anak dengan potensi kebaikan.Yang menjadikan potensi tersebut tidak muncul adalah karena orang tuanya atau lingkungan sekitarnya dimana dia tinggal.Apakah Anda sudah yakin bahwa anak lahir sudah membawa potensi kebaikan?Sesekali coba perhatikan bayi yang sedang menangis. Kira-kira apakah seorang ibu pernah mengajari anaknya ketika baru lahir tentang bagaimana cara menangis? Bagaimana cara tersenyum, tertawa, dsb? Bukankah semua bekal itu sudah dimiliki anak sejak lahir dan orang tua tak pernah mengajarinya?Maka yakinlah bahwa Allah sudah memberikan “bekal” ke dalam diri setiap anak dengan potensi-potensi kebaikan berupa minat, bakat, dan kecerdasan.Tugas kitalah sebagai orang tua untuk menumbuhkan semua potensi tersebut, bukan mematikannya. Lalu apa saja fitrah tersebut? Berikut ada delapan fitrah yang dibahas oleh Ustadz Harry Santosa dalam bukunya “Fitrah Based Education” atau Pendidikan Berbasis Fitrah.


1.    FITRAH BERAGAMA
Banyak orang tua atau pun pendidik yang masih memisahkan kehidupan sehari-hari dari agama. Seolah-olah agama hanyalah berisi ritual ibadah. Sebagai contoh, ketika di sekolah menjelang ujian, anak malah dibantu untuk menyontek.Seolah-olah menyontek bukan bagian dari yang diatur oleh agama kita.Padahala jelas-jelas bahwa menyontek adalah salah satu contoh mencuri di dunia pendidikan.Maka apapun aktivitas anak-anak kita, pasti selalu berhubungan dengan agama kita.Islam sudah mengatur segalanya dengan sedemikian rupa untuk menjadi jalan kita agar selamat dunia dan akhirat.


2.    FITRAH BELAJAR
Akademik is number one!!!Hingga ADAB TERLUPAKAN. Inilah yang paling sering ditemukan.Orang tua hanya menghargai anak-anaknya yang rangkingnya masuk tiga besar.Anak yang tidak rangking di kelasnya, maka ditekan untuk belajar hingga diikutkan berbagai macam kursus yang belum tentu diminati oleh anak.Orang tua sibuk meningkatkan kemampuan akademik anaknya, hingga lupa mengajari tentang adab.Maka tanpa disadari kitalah yang sebenarnya mematikan fitrah belajar anak.


3.    FITRAH BAKAT
Anak tidak diberikan kesempatan mengembangkan bakatnya. Anak yang dihargai hanya yang RANGKING!!!Orang tualah yang menentukan profesi anaknya kelak.


4.    FITRAH PERKEMBANGAN
Sebagian besar orang tua, khususnya yang memiliki anak yang duduk di bangku TK dipaksakan untuk bisa CALISTUNG.Padahal secara psikis, usianya belum siap untuk menguasai kemampuan tersebut.Ada juga yang menerapkan pola asuh yang memanjakan anak-anaknya sehingga membuat anak terlambat dewasa.Inilah yang menyebabkan lahirnya “generasi galau”.


5.    FITRAH SEKSUALITAS
Pola asuh yang tidak mempertegas tentang jenis kelamin anak, ayah yang hanya sibuk mencari nafkah hingga lupa bahwa dia juga punya tanggung jawab mendidik anak-anaknya, hingga ibu yang melupakan perannya sebagai MADRASAH PERTAMAbisa menyebabkan anak mengalami kasus LGBT.


6.    FITRAH ALAM
Setiap tahun universitas meluluskan mahasiswanya. Sayangnnya, banyak alumni yang tidak tahu harus kemana setelah lulus kuliah. Bahkan tidak tahu bagaimana membangun kampung halamannya.Maka jangan heran jika setiap tahun jumlah pengangguran meningkat.


7.    FITRAH KEARIFAN & REALITAS MASYARAKAT
Pengasuhan yang tak lagi bisa mampu menjawab permasalahan sosial karena lupa dengan peran masing-masing. Anak-anak juga tumbuh mernjadi pribadi yang anti sosial, tidak peka dengan kondisi yang terjadi di lingkungan masyarakat.Hal ini bisa disebabkan karena pola asuh keluarga atau anak jarang dibawa berwisata ke panti asuhan atau panti jompo.Tempat hiburan yang dikenal anak-anak adalah mall atau pun bioskop.Orang tua jarang membawa anak-anaknya untuk berwisata hati.


8.    FITRAH ZAMAN
Pengaruh gadget yang membuat anak lupa waktu hingga tanpa kita sadari sampai merusak fitrah anak.Gadget bukannya menjadi teman dalam pengasuhan, malah menjadi musuh.Gadget bukannya malah menumbuhkan fitrah anak, tetapi malah merusak fitrah anak. Contoh kasuus, anak yang diberikan kebebasan dalam bermain gadget hingga dia bisa menonton apa saja yang tak pantas untuk dia.


MASA GOLDEN AGE YANG TERABAIKAN

Setelah memahami delapan fitrah perkembangan pada anak, maka sudah seharusnya tumbuh keyakinan dalam diri kita bahwa setiap anak sudah memiliki potensinya masing-masing.Setiap anak adalah bintang di bidangnya masing-masing.Tugas kita adalah menumbuhkan fitrah tersebut dengan memberikannya banyak kesempatan yang bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.Benih padi tidak bisa menjadi tanaman jagung, benih jagung tidak bisa menjadi tanaman padi. Orang tua bisa menuntun, tetapi tidak bisa mendikte apa yang sudah menjadi KODRAT ANAK. Karena itu, anak sudah memiliki fitrahnya, orang tua-lah yang harus banyak bersabar dalam menumbuhkan fitrahnya.


Sekarang kita bahas tentang cara menumbuhkan fitrah tersebut. Caranya dengan memberikan banyak stimulasi, khususnya ketika anak dalam masa-masa keemaasan perkembangannya. Masa golden age tersebut di usia sejak lahir sampai 8 tahun. Pada saat itu otak anak seperti spons.Pernah melihat spons yang disiram air? Ketika spons tersbeut diperas, maka banyak air yang keluar. Seperti itulah otak anak.Apa yang dilihat, didengar, hingga yangn dirasakannya diserap oleh otaknya. Oleh karena itu, berikanlah teladan yang baik karena anak adalah peniru yang ulung.Anak bukan pendengar yang baik. 1000 kali Anda menyuruh dia sholat tidak akan mempan dibanding dengan Anda memberikan contohnya langsung dengan mengajak dia sholat berjama’ah.


PENDIDIKAN YANG MENANAMKAN ATAU MENUMBUHKAN?

Ini pertanyaan terakhir dari saya, mau menerapkan pendidikan yang menanamkan atau menumbuhkan?
Pendidikan yang menanamkan adalah pendidikan yangn dikendalikan oleh orang tua. Anak mengikuti semua obsesi orang tua, tanpa pernah bertanya kepada mereka tentangapa yang mereka minati atau apa yang mereka tidak sukai. Sementara pendidikan yang menumbuhkan adalah orang tua memberikan banyak kesempatan kepada anak untuk menumbuhkan fitrah anak yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka.Membantu anak untuk menemukan minat dan bakat mereka hingga mereka tumbuh menjadi bintang di bidangnya masing-masing. Hingga tak ada lagi kalimat yang terlontar bahwa Si A lebih hebat dari Si B, tetapi yang ada adalah Si A ahli di bidang IT sementara si B ahli di bidang olahraga. Tak ada lagi orang tua yang sibuk menutup lubang, tetapi lebih sibuk menggali lubang.Artinya, tak ada lagi orang tua yang sibuk mencari-cari kekurangan anaknya dan berusaha menutupinya.Tetapi yang ada adalah orang tua sibuk menggali terus potensi-potensi kebaikan dari anak yang boleh saja masih tertutupi atau belum kelihatan karena anak belum diberikan kesempatan untuk mencoba.Karena pendidikan seharusnya tidakmenyamaratakan anak, tetapi memahami keistimewaan anak dan mengembangkannya.

Wallahu a’lam bi shawab

DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an
Santosa, Harry. Fitrah Based Education. Bekasi: Yayasan Cahaya Mutiara Timur, 2016.
Setiawan, Bukik. Anak Bukan Kertas Kosong. Jakarta: PandaMedia, 2015.

Sabtu, 08 Juli 2017

HARI PATAH HATI NASIONAL VS HARI PATAH HATI INTERNASIONAL



Apa yang terlintas pertama kali di pikiran teman-teman saat membaca judul tulisan ini? Percaya tidak percaya, saya mendapatkan ide judul tulisan ini dari status seorang akhwat. Dan yang cukup membuat saya sedih adalah akhwat yang menuliskannya adalah akhwat ngaji. Sebelumnya saya mohon maaf jika tulisan kali ini sedikit frontal. Saya mulai khawatir dengan kondisi “negara api” yang mulai menyerang sehingga mulai menggoyahkan kekuatan para akhwat yang senantiasa berikhtiar menjaga izzahnya.
Setelah beberapa hari status yang berhubungan dengan judul di atas berseliweran di beberapa sosmed. Reaksi teman-teman netizen dengan pernikahan seorang pemuda hafidz dan juga rencana pernikahan Song Couple, lumayan menyita perhatian netizen di beberapa sosmed. Ada beberapa point yang bisa kita petik pelajarannya.


Pertama, ketika pertama kali Si Ikhwan yang di sosmednya kebanyakan tentang rekaman hafalannya tiba-tiba langsung nge-share undangan.  Belajarlah dari kisah mereka sob. Tiap hari nge-share kebaikan langsung kasi undangan, ngga ada yang diumbar. Kisah ini semoga bisa menjadi inspirasi untuk pemuda zaman sekarang tentang bagaimana anak muda harusnya mengisi waktunya dengan kebaikan-kebaikan, bukan dengan pacaran yang jelas-jelas melanggar perintah Allah. Kalau mau belajar lebih banyak lagi,maka belajarlah dari kisah Rasulullah saw dan para sahabat. Belajarnya dimana kak? Ayooo,kita ngaji bareng. Kalau mau belajar  yang banyak lagi  tentang islam, boleh komen disini. Entar saya cariin ustadz atau ustadzah yang bisa berbagi dengan kalian. Tenanggg mereka anak muda juga loo, gaul juga. Tapi in syaa Allah gaulnya di Masjid yang selalu belajar tentang Al Qur’an dan Sunnah.


Nah kembali ke judul di atas, buat para akhwat, jagalah hatimu seperti Fatimah yang senantiasa menjaga hatinya bahkan sampai syaithon tak tahu perasaannya. Semua hanya disampaikannya kepada Allah, bukannya malah mengumbar semua isi hatimu di sosmed. Bayangin aja, sekarang aja kamu ngga bisa menjaga apa yang seharusnya tidak diketahui publik, bagaimana nanti kalau sudah menikah.  Bisa jadi semua masalah rumah tanggamu akan jadi konsumsi teman2 sosmedmu. Maka belajarlah dari sekarang untuk memantaskan diri menjadi calon isteri dan calon ibu yang senantiasa menjaga izzahnya. Dan untuk kaum Adam,ngga usah ngomong suka kalau memang belum siap menikahi. Mending siapin diri menjadi calon imam dan calon ayah yang baik. Kalau merasa malu dianggap ngga bisa punya pacar, ngga apa-apalah. Pilih mana, malu dihadapan manusia atau malu dihadapan Allah? “Tapi kita pacaran islami koq kak? Setiap malam dibangunin tahajjud!!” HALOOOO, ANTUM SEHAT???  Kalau sudah ada pacaran islami, tunggu aja nanti ada mencuri islami, ghibah islami, tabarruj islami,dst.


Kedua, kalau ini saya dapat dari kajian seorang ustadz yang pernah menghabiskan waktunya di jazirah Arab. Nasehat Beliau seperti ini, “Ngga usah merasa bangga dengan menjadi seorang hafidz. Karena yang terpenting selain dari menghafalkan adalah MENGAMALKAN DAN MENGAJARKAN AL QUR’AN. Maka ngga usah merasa puas dengan menghafalkan Al Qur’an, karena di Arab Saudi penghafal Al Qur’an itu adalah sesuatu yang biasa karena disana memang sudah menjadi kebiasaan mereka. Yang susah sekarang ini adalah ketika ikhwa ditanya ANTUM SUDAH PUNYA BINAAN BERAPA ORANG? SUDAH PUNYA BINAAN BERAPA KELOMPOK? ” bagian ini silahkan disimpulkan sendiri ^_^


Ketiga, jodoh itu adalah cermin. Boleh jadi calon isteri si Ikhwan kemarin adalah juga seorang hafidzah atau boleh jadi salah satu syarat yang ada di proposal mereka adalah memang sudah hafal 30 juz. Nah, pertanyaannya sekarang sudah punya hafalan belum?


Keempat, maaf beribu maaf untuk point ini. Sahabatku,  ketika engkau memutuskan untuk HIJRAH, maka itu artinya ENGKAU SIAP MENINGGALKAN SEMUA HAL-HAL YANG BISA MELALAIKANMU DARI MENGINGAT ALLAH. Tanpa teman-teman sadari film-film drakor yang sampai membuat engkau begadang sampai ngga ada tidur adalah bagian dari GHAZWUL FIQR atau PERANG PEMIKIRAN untuk membuatmu jauh dari Al Qur’an. “Koq bisa?” Ketika nonton drakor, apakah waktu sholatmu terjaga? Saya hanya membayangkan ketika sekarang sudah terbiasa nonton drakor,kelak ketika engkau sudah menikah lalu anak-anakmu melihat aktivitasmu kebanyakan nonton drakor lalu kamu mimpi pengen punya anak penghafal Al Qur’an kayak Muzammil? Lagi-lagi saya nanya, “KAMU SEHAT?”

 “Tapi saya ngga bisa kak kalau tidak nonton korea?” Saya tahu bahwa proses hijrah itu butuh waktu,maka berproseslah cepat. Karena engkau sedang berhadapan dengan waktu yang bisa menikammu kapan aja. Siapa yang bisa menjamin bahwa engkau masih hidup esok hari? Biasanya kematian akan menjemput kita seperti kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Maka bayangkan jika malaikat Maut datang menjemputmu ketika engkau sedang menonton drama Korea. Pikirkanlah baik-baik kawan. Hidup itu tentang seni. Seni menyiapkan kematian terbaik dan terindah dimana Allah merindukanmu, penduduk langit senantiasa menggosipimu karena amalan kebaikanmu, dan jannahNya menantimu.


Ahh kamu Baper banget Boni sampai nulis kayak gini....
Iyaaa, saya emang Baper. Bapernya udah akut. BAPERnya, BARisan Pengikut Rasulullah. Itulah mengapa saya membuat tulisan ini. Please jagalah izzahmu ukhti, apalagi jika engkau sudah ngaji. Jika tak ada perubahan dalam diri kita, lalu apa bedanya dengan mereka yang ngga ngaji? Itulah konsekuensi dari sebuah proses HIJRAH. Meninggalkan semua kesenangan duniawi yang terlihat fana demi sebuah kehidupan yang abadi, di kampung surga. Bayangkan jika ada temanmu yang ingin mengikuti proses hijrahmu,lalu tiba-tiba membaca statusmu dan membuat dia merasa tak ada perbedaan kehidupanmu yang dulu dengan sekarang hingga akhirnya dia memutuskan untuk mundur. Dan untuk yang sedang berproses hijrah, jangan menyimpulkan tentang proses hijrah dari status teman-temanmu yang mungkin kemarin khilaf. Belajarlah islam dari Al Qur’an dan sunnah Rassulullah saw karena mereka pun sedang berproses untuk menjadi lebih baik. Sungguh hijrah itu adalah sebuah proses yang berkali-kali. Pertama mungkin hijrah dalam urusan memperbaiki pakaian. Selanjutnya mulai belajar untuk memperbaiki interaksi dengan lawan jenis, lalu belajar meninggalkan tontonan-tontonan yang melalaikan, dan seterusnya.


So, selamat meningkatkan kualitas diri. Semoga ramadhan kemarin masih menyisakan semangat dalam diri-diri kita untuk terus memperbaiki diri dihadapan Allah. Untuk yang baru berniat untuk hijrah,maka sungguh hidayah Allah sudah hadir maka jagalah dia. Sungguh dia sangat mahal. Abaikan komentar orang lain yang tidak suka dengan perubahan kebaikan dalam dirimu. Untuk yang sedang berproses dan diberikan ujian,maka ujian adalah bagian dari kasih sayang Allah untuk menguji seberapa besar cintamu kepada Allah. Untuk yang sedang melihat teman-temannya berproses untuk hijrah, please ngga usah komentar yang menjatuhkan. Sungguh engkau tak pernah tahu apa yang sudah dilaluinya hingga dia berani mengambil keputusan tersebut.


Terakhir, semoga tak ada lagi hari berkabung akhwat nasional karena persoalan yang kayak gini. Fokuslah memantaskan diri untuk Allah,maka Allah yang akan memperbaiki kehidupan masa depanmu. Dan sebaik-baik persiapan kehidupan adalah menyiapkan kehidupan yang khusnul khatimah. So, jaga postingan-postinganmu ya sob karena kelak setiap detik, setiap perbuatan, setiap kata yang engkau tulisakan akan dimintai pertanggungjawaban. Biasakan untuk cerita ke Allah sampai hal-hal yang sepele sekali pun. Seperti sahabat di zaman Rasulullah saw yang mengadukan sendalnya yang putus kepada Allah.


Wallahu a’lam bi shawab
#ditulis ketika sudah mendengarkan cerita proses hijrah seorang sahabat

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...