Rabu, 17 September 2014

Rindu...

Dia yang masih saja ada di sana...
Duduk terdiam...
Entah apa yang ada di kepalanya saat ini...
Dan aku pun hanya bisa terdiam...
Diam sembari menatapnya...
Ada rindu disana...
Rindu yang diciptakannya sendiri...
Rindu yang datang tiba-tiba dan enggan untuk pergi...

Akhirnya dia menyadari kehadiranku...
Namun tak satu pun kata-kata yang keluar dari bibirnya...
Lagi-lagi aku hanya menunggu sambil terus menatapnya...

Rindu itu sepertinya ingin berbicara...
Dia ingin menyampaikan semuanya...
Entah apa yang menghalanginya untuk berbicara...
Dan aku masih saja menunggu...
Hingga dia benar-benar siap menceritakan semuanya...

Ahhhh...
Aneh juga sih...
Engkau yang menciptakan rindu itu...
Lalu engkau memintanya pergi...
Tetapi itu pilihanmu...
Maka belajarlah bertanggung jawab...
Pada semua yang sudah engkau ciptakan sendiri...

Dan aku masih saja duduk terdiam...
Sembari menunggu kamu bercerita...
Kapan?
Entahlah...
Semoga dia tak sampai membunuhmu...

Senin, 18 Agustus 2014

Jawaban Lagi...

Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Aku bertanya berkali-kali pun, aku tak akan menemukan jawaban...
Mungkin karena pertanyaanku adalah pertanyaan yang tak pernah membutuhkan jawaban...
Dan aku memilih diam...
Hingga jawaban itu datang...
Karena tidak semua pertanyaan harus terjawab sekarang...

Kamis, 14 Agustus 2014

Untukmu Guru-guru Kecilku...

Setiap kali belajar, entah membaca atau belajar di kelas, aku selalu teringat wajah-wajah polos kalian. Mengingat setiap pola perilaku kalian dan menghubungkannya dengan teori2 yang kubaca. Tanpa kalian sadari, kalian telah menjadi guruku selama ini. Dan tanpa kalian sadari juga, kalianlah yang membuatku jatuh cinta dengan dunia yang dulunya sangat tidak kusukai, Pendidikan Anak.
Hingga Allah menghadirkan kalian satu persatu dan mengajariku betapa berharganya kalian untukku...
Kini...
Aku takut jika kelak ilmuku tak berguna untukmu...
Aku takut jika waktuku lebih banyak untuk mengurusi anak orang lain dan melupakan kalian...
Maaf jika belum bisa memberikan yang terbaik untukmu nak...
Namun, semua ini untukmu...
Dan aku mencintaimu lebih dari yang kalian tahu...
Anak-anakku yang selalu memanggilku Tante Boni...
I Love you coz Allah...

#Jakarta, 17 Agustus 2014

Rabu, 06 Agustus 2014

Terima Kasihku...

Bismillah...
Alhamdulillah, satu amanah telah terselesaikan. Tepatnya, 23 Juli 2014 adalah salah satu bagian cerita dalam hidupku.
Saat dosen membacakan nilai dan hasil ujianku, aku menangis...
Aku menangis bahagia dan bersyukur untuk semua nikmat yang diberikan oleh Allah untukku...
Aku menangis mengingat setiap kemudahan yang diberikan Allah untukku...
Aku menangis mengingat setiap pertolongan yang Allah berikan untukku...
Aku menangis mengingat nikmat yang diberikan oleh Allah untukku selama ini...

Banyak cerita hingga aku bisa sampai disini...
Tetapi aku selalu mengingat nasehat dosen pembimbingku, "setiap kepedihanmu, perjuanganmu, tangismu, cukup engkau dan Allah yang tahu. Perjuangan yang telah engkau lalui cukup menjadi cambuk buatmu agar menjadi lebih baik. Kepedihanmu biarlah menjadi kisah hidupmu yang kelak akan membuatmu tersenyum bahagia saat berhasil melewatinya..."

Yaaa, aku masih ingat semua nasehat itu...
Finally...
Terima kasih ya Allah untuk semuanya...
Terima kasih untuk setiap nikmat dan kemudahan yang Engkau berikan untukku...
Terima kasih membuatku kuat dengan ujian-ujianmu hingga aku bisa sampai disini...
Terima kasih telah mengirimkan orang-orang yang selalu mendukungku...
Terima kasih untuk semuanya Ya Rabb...
Hingga kadang aku bertanya, "Apakah ini nikmat atau musibah?"
Dan semua ini adalah ujian untukku...
Ujian seberapa besar rasa syukurku kepada-Mu...
Apakah aku menjadi hamba yang bersyukur atau kufur terhadap nikmat-Mu?
Ya Allah, ajari hamba untuk selalu menjadi hamba yang bersyukur...
Tuntun hamba ketika salah dalam melangkah...

Melalui tulisan ini juga aku pengen berterima kasih kepada seorang perempuan yang selalu mendoakanku, Mamaku yang selalu kucintai karena Allah...
Orang yang paling mengerti aku dan selalu memberikan semangatnya ketika aku jatuh...
Aku teringat saat semproku dibatalkan karena kalender akademik yang gak boleh lagi ada ujian, Beliau menelponku hampir setiap hari dan memberikanku semangat...
Aku masih ingat nasehatnya, "Allah tahu yang terbaik untukmu. Allah pasti punya rencana sampai sempromu diundur nak. In syaa Allah, tetap berprasangka baik sama Allah..."

Ahhh Mama...
Aku selalu bingung harus menuliskan apalagi untukmu...
Aku hanya ingin menyampaikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya untuk semuanya...
Ketika semua bingung menghadapi sikapku yang terlalu fokus menyelesaikan tugas akhirku, engkau hadir dan paling memahami situsi yang kuhadapi...
Semua yang kudapatkan hingga kini tak pernah lepas dari doa-doamu...
Dan kini kupersembahkan semuanya untukmu...
Semoga aku bisa menjadi salah satu anakmu yang bisa melihat senyum kebahagiaanmu...

Bapakku yang selalu kucintai karena Allah...
Kini aku semakin mengerti dengan semua nasehat-nasehatmu untukku. Aku selalu ingat keinginanmu, "Bapak ingin melihatmu memakai toga nak. Belajar baik-baik biar cepat selesai, jangan terlalu berleha-leha..."
Meskipun engkau tak pernah melihatku memakai toga, tetapi aku selalu berdoa semoga setiap ilmu yang kupelajari dan kuajarkan kelak akan menjadi amal jariyah untuk Bapak dan Mama.
Bapak, terima kasih untuk semuanya. Cukup Allah yang tahu betapa besar kerinduanku padamu...
Betapa aku ingin berlari memelukmu seperti dulu sambil membawa hasil ujianku...
Betapa aku ingin berlari memelukmu dan menagih janji-janjimu ketika aku berhasil mendapatkan nilai bagus di sekolah...
Dan aku rindu ketika engkau tersenyum menyambutku sambil berkata, "Sudah berterima kasih sama Allah?"
Bapak, terima kasih sudah memberiku kenangan masa kecil yang indah...
Meski aku belum sempat membalas setiap kebaikanmu, semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan-Nya...

Terima kasih untuk semua kakakku yang selalu memberiku semangat dan melantunkan doa-doanya untukku...
Terima kasih selalu ada ketika aku butuh semangat dari orang-orang yang kusayangi...
Banyak hal yang ingin kutuliskan sebagai ungkapan terima kasihku...
Namun, biarlah Allah yang membalas setiap kebaikan kakak...
Dengan sebaik-baik balasan dari Allah...

Terima kasih untuk sahabat-sahabatku yang selalu memberikan semangatnya...
Teman begadang, tertawa, menangis, berbagi, Besse dan Supi...
Semua kenangan akan perjuangan kita di saat terakhir akan tersimpan dengan baik...
Terima kasih sudah menguatkanku ketika aku merasa tak sanggup menyelesaikan semuanya...

Saudaraku dalam lingkaran kecil...
Terima kasih untuk semua doa-doa dan semangatnya...
Dan semua sahabat-sahabatku yang tak bisa kusebutkan satu persatu...
Semoga Allah membalas setiap kebaikan dan pengorbanan teman-teman dengan sebaik-baik balasannya...
Aamiin yra...

#Jakarta, 25 Agustus 2014

Minggu, 03 Agustus 2014

Karena Aku Harus Melawan Diriku Sendiri...

Kadang aku berpikir untuk mengambil langkah ekstrim...
Menuruti semua keinginanmu...
Melawan orang-orang yang kadang kuanggap sebagai penghalang...
Bahkan melawan diri sendiriku...

Hingga akhirnya aku memilih diam...
Sepertinya ada yang harus kuperbaiki dari langkah-langkahku...
Aku bukan melawan mereka...
Aku bukanlah berhadapan dengan manusia-manusia itu...
Aku sedang berhadapan dengan hatiku...

Yaa....
Hingga akhirnya aku memutuskan berdamai dengannya...
Ada yang berteriak disana dan berkata, " engkau sedang berhadapan dengan Tuhan-mu!!!!"
Tahukah engkau...
Aku hanya bisa menangis...
Aku pun tak tahu mengapa aku menangis...
Aku hanya menangis...
Ternyata semua diluar dugaanku...
Semuanya jauh lebih berat dari apa yang kubayangkan...
Tetapi seperti itulah kehidupan...
Semua harus berjalan...
Tak ada pilihan "CLEAR ALL" seperti yang ada di gadget-gadgetmu...
Tetapi aku masih punya tombol "PAUSE"...
Izinkan aku berhenti sejenak...
Hanya sejenak...
Aku ingin merenungi dan kembali menata semuanya...
Sayangnya tombol ini tak boleh kubiarkan lama-lama...
Putaran film orang-orang di sekitarku terus berjalan...
Aku tak mungkin berdiam lama dalam goa ini...
Dan aku kembali menekan tombol "PLAY"...
Kulanjutkan semua cerita ini...
Meski dengan merangkak...
Mengejar ketinggalan...

Kawan....
Tahukah engkau...
Aku memilih semua ini bukanlah hal yang mudah...
Aku harus berhadapan dengan musuh terbesarku...
DIRIKU SENDIRI!!!!
Yaaa....
Aku harus melawan keinginan diriku...
Dan aku harus bisa menaklukkannya...
Dan engkau tak perlu tahu seperti apa aku menaklukkan dia...
Sama seperti aku tak pernah mau tahu alur cerita filmmu...
Biarkan aku berjalan...
Kuhadapi semuanya dengan bekal keyakinanku...
Kalau Allah lebih tahu yang terbaik untukku...
Beginilah cara Allah mengajariku...
Beginilah cara Allah mendewasakanku...
Yaaaa......
Beginilah cara Allah...
Dan biarkan aku belajar menjalaninya...

Jakarta, 3 Agustus 2014

Rabu, 09 Juli 2014

Bumbu-bumbu Ramadhan

Bismillah...

Apa kabar saudaraku? Bagaiman kabar imanmu? Bagaimana kabar ramadhanmu?
Semoga hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Karena sungguh merugi jika hari kita sama saja dengan yang kemarin-kemarin, tidak ada perubahan yang lebih baik.

Melalui tulisan sederhana ini, izinkan saya sedikit berbagi tentang ramadhan tahun ini. Semoga bermanfaat buat teman-teman semua.

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti salah satu kajian ramadhan di kampus. Ada hal yang menarik ketika Sang ustadz menyampaikan taujihnya. Saya tertarik dengan kalimatnya, " akan banyak bumbu-bumbu yang disajikan di bulan ramadhan ini".

Sahabatku...
Bulan ramadhan tahun ini memang terasa special, kayak martabak special aja ya. Hehehe...
Gimana gak special, bulan ramadhan tahun ini bertepatan dengan dua moment yang paling ditunggu oleh orang-orang, khususnya di Indonesia. Pertama, agenda pemilihan calon pemimpin negara kita. Buat teman-teman yang jadi tim sukses atau pun aktif di dunia politik, pastinya akan terbagi pikirannya. Para simpatisan kedua calon pun harus bisa mengendalikan diri di sosmed. Banyak postingan yang bisa membuat kita terpancing, bahkan sampai harus memutuskan tali silaturahim dengan saudara atau teman. Jangan sampai hal ini terjadi di bulan ramadhan ini. Bukankah ramadhan mengajarkan kepada kita untuk lebih peduli dengan orang-orang sekitar, termasuk menjalin silaturahim dengan saudara.

Moment kedua yang paling ditunggu adalah piala dunia. Moment inilah yang paling ditunggu oleh para pencinta bola. Orang-orang yang menanti kehadirannya bukan hanya kaum adam, kaum hawa pun tidak mau ketinggalan. Bahkan orang-orang yang tadinya tidak suka bola, tiba-tiba jadi suka bola. Dan lagi-lagi moment ini hadir di bulan ramadhan. Orang-orang yang tadinya gak pernah tahajjud, tiba-tiba bisa bangun tengah malam. Tapi niatnya untuk nonton bola. Ada juga yang sudah niat bangun tengah malam, tetapi niatnya tetap untuk nonton bola. Lebih parah lagi, gara-gara nonton bola tengah malam sampai-sampai sholat shubuhnya kebablasan alias lewat. Bukan cuma sholat shubuhnya yang lewat, siangnya pun menjadi tidak produktif. Lebih banyak diisi dengan tidur hingga yang sunnah pun tak bisa dilakukan. Gimana mau melakukan yang sunnah, yang wajib aja lewat.

Kalau buat mahasiswa tingkat akhir, ada lagi bumbu ramadhan yang lain, Si Mr.T alias tesis. Kehadirannya sungguh membuat hampir semua perhatian kita tertuju kepadanya. Malam hari harus begadang kerjain revisi, siangnya kejar-kejaran dengan dosen. Alhamdulillah kalau langsung ACC, tapi kalau minta revisi lagi siap-siap dah begadang lagi. Saat ngerjain tesis, mikirin belum tilawah. Saat tilawah, mikirin tesis. Serba salah kan. Janjian dengan dosen pun kadang menjadi ujian tersendiri. Sudah bela-belain datang, malah dibatalin. Mau marah, lagi puasa. Lagi-lagi hanya bisa mengelus dada, bersabar, bersabar, dan bersabar. Yaaa, ramadhan ini bisa jadi sarana latihan buat teman-teman pejuang tugas akhir untuk menambah stok kesabarannya.
Bukankah kesabaran itu ada batasnya?
Ya, kesabaran emang ada batasnya. Batasnya adalah langit dan langit itu gak ada batasnya gan... ^_^

Masih ada nih bumbu lain di bulan ramadhan. Kalau bumbu yang satu ini biasanya disajikan buat teman-teman atau ibu-ibu yang suka nonton. Semua stasiun TV berlomba-lomba menayangkan acara-acara yang bisa menemani para penontonya berbuka dan bersantap sahur. Dari acara tabligh akbar, sinetron, hingga acara lawakan. Ada yang mengganjal di hati ane nih gan. Miris banget melihat teman-teman yang menghabiskan waktunya menonton acara-acara yang sama sekali gak ada manfaatnya. Setelah sahur dan menanti adzan shubuh, banyak yang mengisinya dengan menonton acara lawakan yang kadang menjadikan kekurangan orang sebagai bahan tertawaan. Mereka lupa bahwa dalam sahur itu ada keberkahan. Andai kita bisa mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti tilawah atau membaca buku-buku yang bisa menambah keilmuan dan rasa cinta kita kepada Allah. Bukan cuma saat sahur, menjelang berbuka pun kejadian tersebut kembali terulang. Ada lagi nih yang doyan nonton sinetron hingga berjam-jam. Saya jadi mikir aja nih kalau sinetronnya tayangnya 2 jam, lalu kita bisa mengisinya dengan tilawah. Teman-teman pasti bisa khatam dalam sebulan ini. Bukannya ane melarang teman-teman buat nonton, tetapi pintar-pintarlah memilih tontonan. Pilihlah tontonan bermanfaat yang bisa menambah wawasan dan rasa cinta kita kepada Allah.

Sahabatku yang kucintai karena Allah...
Tatkala ramadhan belum datang, kita begitu merindukan kehadirannya.
Dan ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk berjumpa, justru kita melewatkannya begitu saja.
Cobalah engkau ingat saudara-saudaramu yang pernah menemanimu di ramadhan tahun lalu?
Masihkah dia ada menemanimu saat ini?
Ataukah dia sudah tak ada karena Allah lebih dahulu memanggilnya dibanding dirimu?
Cobalah ingat kembali wajah orang-orang yang masih bisa engkau jumpai di ramadhan tahun kemarin dan sekarang tak bisa lagi bersamanya...
Mungkinkah dia orang tuamu...
Mungkinkah dia saudaramu...
Dan Allah masih memberi kita kesempatan untuk bertemu bulan yang penuh berkah ini.
Sudahkah kita mensyukuri nikmat kesempatan ini?
Lalu masih patutkah kita kufur terhadap nikmatnya?

Sahabatku yang kucintai karena Allah...
Masih ada kesempatan untuk memperbaiki ramadhan kita. Masih ada kesempatan untuk memaksimalkan ibadah-ibadah kita di bulan ramadhan ini. Manfaatkan waktu dengan banyak melakukan hal-hal yang disukai-Nya.

Ketika ada yang mengeluh, "Mengapa saya begitu susah melakukan ibadah di bulan ramadhan? Pengennya tidur terus!"
Sahabatku, sudahkah engkau meminta agar diberi kemudahan untuk beribadah? Sudahkah engkau meminta agar diberi kemudahan untuk melakukan kebaikan?
Terkadang kita melupakan bahwa Allah-lah Sang Pemilik hati dan raga kita. Allah-lah yang menggerakkan hati-hati kita untuk melakukan kebaikan. Allah jugalah yang mengatur setiap urusan kita. Jika engkau sudah meminta, maka paksalah dirimu untuk melakukan kebaikan. Yaaa, terkadang kita harus menyakiti diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Bukan hal yang mudah melawan kemalasan, apalagi jika disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Ketika keterpaksaan itu telah engkau lakukan, lama kelamaan akan lahir suatu kebiasaan. Kebiasaan inilah yang akan menumbuhkan rasa cinta, hingga terasa ada yang hilang jika kita tak melakukannya. Dan semua ini bisa kita latih di bulan ramadhan ini agar kita siap menghadapi 11 bulan berikutnya. Saya teringat dengan nasehat guru saya, "Jika engkau ingin mengetahui seperti apa kehidupanmu di 11 bulan berikutnya, maka lihatlah aktivitasmu di bulan ramadhan. Jika engkau berhasil mentarbiyah dirimu dengan banyak beribadah, maka in syaa Allah engkau bisa melewati 11 bulan berikutnya."

Alhamdulillah, hari ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati ramadhan bersama keluarga. Masih bisa menikmati ramadhan bersama orang-orang yang kita cintai. Masih bisa beribadah dengan tenang dan nyaman di bulan ramadhan. Pernahkah teman-teman memikirkan nasib saudara-saudara kita di Palestina? Mereka melewati ramadhan dalam suasana mencekam. Makanan untuk sahur dan berbuka pun seadanya, bahkan mungkin tak ada. Berkumpul dengan orang-orang yang dicintai pun tak bisa karena sudah ada yang syahid. Lalu bagaimana dengan kita yang diberikan banyak kemudahan untuk memanfaatkan moment ramadhan, tetapi malah membiarkannya berlalu begitu saja?

Sahabatku yang kucintai karena Allah...
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang menyenangkan. Tulisan ini adalah teguran buat saya pribadi dan saya bersyukur jika bisa juga bermanfaat buat teman-teman. Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita kembali betapa berharganya bulan ramadhan ini. Jangan sampai dia terlewat begitu saja dan kita tak bisa mendapatkan apa-apa. Dia berlalu begitu saja sama seperti bulan-bulan lainnya.

Wallahu a'lam bi shawab...
Maafkan Bonita yang masih terus belajar menjadi lebih baik...

#Jakarta, 9 Juli 2014

Senin, 07 Juli 2014

Manusia Biasa...

Bismillah...

Aku hanya manusia biasa...
Yang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana yang sangat peduli dengan kedekatanku dengan Tuhanku...
Aku hanya manusia biasa...
Yang tumbuh dalam keluarga yang sangat peduli dengan sopan santun dan tata krama...

Aku hanyalah seorang anak yang juga ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya...
Aku hanyalah seorang adik yang juga ingin belajar menjadi adik yang baik...

Aku hanyalah seorang perempuan yang ingin belajar menjadi muslimah yang taat...
Aku hanyalah seorang perempuan yang ingin belajar menjadi muslimah sholehah...
Aku hanyalah seorang perempuan yang kelak ingin menjadi penghuni syurga-Nya...

Lagi-lagi aku hanya manusia biasa...
Kamu tahu kan apa itu manusia biasa?
Manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa...
Manusia yang kadang bahkan sering melakukan kekhilafan...
Manusia yang lebih banyak lupanya daripada ingatnya...

Satu hal yang kusyukuri...
Aku punya Allah, Sang Maha Pengampun...
Allah, yang memaafkan setiap kekhilafan hamba-Nya...
Dan memberikanku kesempatan untuk menjadi lebih baik...

Jika yang engkau lihat hanya kesempurnaan, sungguh engkau sudah tertipu...
Sungguh semua itu hanya karena Allah masih menyayangiku dengan menutup aib-aibku...
Sekali saja aib itu terbuka dihadapanmu, mungkin engkau tak mau lagi bertemu denganku...
Melihat wajahku pun engkau sudah tak sudi...

Lagi-lagi aku hanya manusia biasa...
Manusia biasa yang sedang belajar cara mencintai Tuhan-nya...
Manusia biasa yang sedang belajar menjadi muslimah yang taat...
Manusia biasa yang sedang belajar menggapai ridho-Nya...

Aku tetap hanyalah seorang manusia biasa...
Manusia biasa yang lebih banyak khilafnya...
Namun ingin terus belajar untuk lebih baik dihadapan-Nya...
Apakah itu tak cukup?
Entahlah...

#Jakarta, 6 Juli 2014
Banyak orang yang suka menilai hanya dari apa yang dilihatnya dari luar...
Menilai dari apa yang tampak dihadapannya...
Mereka tak pernah tahu usaha yang dilakukan orang tersebut untuk menjadi seperti apa yang dilihatnya...
Memberikan penilaian sesuka hati...
Tanpa pernah tahu perjuangan yang telah dilewatinya untuk menjadi seperti sekarang...
Toh aku tak perlu peduli...
Karena aku tak akan pernah sanggup membuat orang suka dengan tindakan, keputusan atau pun prinsipku...

Teringat saat pertama kali hidayah itu datang menyapaku...
Memutuskan meninggalkan semuanya dan memulai dari awal...
Dan saat itulah sujud-sujud panjang menjadi sebuah kenikmatan tersendiri...
Menikmati saat mengadu kepada-Nya...
Kadang ingin mundur dan berhenti di tengah jalan...
Dan DIA mengirimkan orang-orang untuk menguatkanku...

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...