Rabu, 06 April 2016

Ingatlah Allah

Saat engkau bisa mengingat nama Allah...
Saat  engkau bisa menyebut nama Allah...
Saat engkau bisa melibatkan Allah dalam tiap urusanmu...
Maka terimalah...
Semua itu suatu kehormatan untukmu...
Telah dikatakan dalam Al Qur'an, "Sebutlah Allah dengan Ar Rahman..."
Banyak yang sibuk memikirkan bagaimana kehidupanku di masa depan?
Bagaimana rumahku?
Bagaimana keluargaku?
Tapi pernahkah kita sekali saja memikirkan dan bertanya dalam diri,"Apakah lisanku dapat menyebut nama Allah di saat terakhirku?"
Semoga khusnul khatimah menjadi akhir tujuan hidup kita...

Wallahu a'lam bi shawab...

#oleh ustadz YM

Kamis, 17 Maret 2016

Boleh Jadi...

Boleh jadi...
Waktu yang kita butuhkan sudah cukup...
Cukup untuk membuat kita sama-sama belajar...
Belajar menerima dan melapangkan hati...
Menerima setiap skenarioNya...

Boleh jadi...
Hidup seperti sebuah permainan kartu...
Kali ini kita dapat kartu yang sama...
Dan memaksa kita sama-sama mengalah...

Boleh jadi...
Setelah kekalahan ini akan ada kemenangan di depan sana...
Bagaimana pun kita harus mengikuti semua aturan permainanNya bukan?

Boleh jadi...
Sekarang saatnya aku memulai langkahku yang baru...
Aku dengan jalan pilihanku...
Engkau dengan jalan pilihanmu...
Apakah kita akan bertemu lagi?
Entahlah...
Biarkan Allah yang menuntun langkahku...
Langkah yang akan membawaku dalam ridhoNya...

Boleh jadi...
Ini tulisanku yang terakhir tentang permainan hari ini...
Aku ingin menulis cerita yang baru...
Masih bersamamu...
Tapi dalam permainan yang baru...
Dan tentunya masih dalam aturan permainanNya...
Mungkin seperti dua sahabat yang baru bertemu lagi...
Dua sahabat yang ingin belajar dan berjalan beriringan untuk mendapatkan cintaNya...

#Tulisan ini untuk salah satu sahabat terbaikku yang sedang berproses menerima satu skenario Allah...
Teruslah berprasangka baik kepadaNya...
Semoga Allah memberimu yang terbaik... ^_^

Rabu, 02 Maret 2016

KAMU...

KAMU...

Kelak seperti apakah dirimu...
Aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu...

Kelak seperti apa engkau datang menjemputku...
Aku pun tak pernah bisa menjawab itu...

Kamu...
Yang selalu kusebut dalam setiap doa-doaku...
Agar datang disaat aku benar-benar sudah siap...

Kamu...
Yang selalu kuminta dalam doaku...
Agar menjemputku dengan cara yang indah...

Kamu...
Aku harus bertemu denganmu...
Untuk bisa berjumpa dengan cinta sejatiku...

Kamu...
Aku harus selalu siap menantimu...
Karena kehadiranmu tak pernah bisa kutebak...

Kamu...
Yang selalu saja membuatku terus belajar...
Untuk terus memantaskan diri...

Kamu...
Ya...
Akhir kehidupanku...
Entah bagaimana kelak engkau datang dalam hidupku...
Masih saja selalu menghantui kehidupanku...
Khusnul khatimah atau su'ul khatimah?

Kamu...
Kematianku...
Kepastian yang harus selalu kusiapkan...
Karena aku tak pernah tahu kapan engkau akan datang menjemputku...

Kamu...
Kematianku...
Satu-satunya jalan untuk bisa berjumpa dengan Rabb-ku...
Cita-cita bagi orang-orang yang merindukan perjumpaan dengan-Nya...

Kamu...
Entah bagaimana pun caranya kelak...
Tugasku hanyalah mempersiapkan semuanya...
Belajar, belajar, dan terus belajar...
Untuk menjadi lebih baik dihadapanNya...

Kamu...
Setiap kali mengingat tentangmu...
Aku selalu menyukai salah satu surat cinta dari Tuhanku...
Kalimat yang selalu membuatku semangat dan rindu untuk berjumpa dengan-Nya...
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhoiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku..."

# Angka yang bertambah, namun sejatinya kesempatan hidup yang semakin berkurang...

Onde-onde & Sarikaja

Sejak dulu, Bapak tak pernah membiasakan kami untuk merayakan ulang tahun. Menurut Beliau, hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Itulah sebabnya tak pernah ada perayaan ulang tahun, khususnya tiup lilin dalam keluarga.

Tapi Mama punya kebiasaan yang lain. Setiap kali ada moment penting atau bahagia, seperti anak atau cucunya yang milad, habis wisuda, kakak naik jabatan, dan moment bahagia lainnya, Mama selalu membuat dua kue ini. Kalau orang bugis bilangnya kue onde-onde (klepon) & kue sarikaja.

Duluuuu, aku pernah bertanya mengapa harus membuat kue ini. Takutnya kita melakukan sesuatu yang tak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Jawaban Mama sederhana. Sebenarnya menjelaskannya pake bahasa bugis, tapi sudah ditranslate.

"Ini ungkapan kebahagiaan seorang Ibu nak. Mama tidak punya maksud apa-apa. Tapi kamu harus tahu kalau ada doa seorang ibu dibalik kue ini. Kamu lihat proses pembuatan onde-onde ini? Lihatlah, dia berisi gula merah dan ketika dimasak pasti akan tenggelam karena berat. Tapi lama kelamaan dia akan mengapung, padahal gula merahnya masih ada di dalamnya. Maka hiduplah seperti itu. Seberat apapun masalahmu, jangan mau tenggelam dan tidak berbuat apa-apa. Tetaplah mengapung dan terus melanjutkan hidup. Hidupmu akan terasa ringan jika engkau menyerahkan semuanya kepada Allah.
Adapun kue sarikaja, kamu lihat permukaannya. Kalau sudah jadi, permukaannya akan bergelombang. Maka seperti itulah hidup, kita tak pernah tahu gelombang apa yang akan engkau hadapi dalam kehidupan. Apapun itu, maka hadapilah. Seperti rasanya yang manis, maka semua akan terasa manis jika engkau menjalaninya dengan sabar dan ikhlas."

Dan kemarin saat pulang dari kampus, Mama langsung memberiku kue ini dan mengalirlah semua doa-doanya untukku. Lagi-lagi hanya Allah yang bisa membalas semua kasih sayangmu. Aku tahu kalau Mama sudah mau pulang ke Sinjai jauh-jauh hari. Tapi hanya karena moment sekali dalam empat tahun itu, Mama rela menunggu dan berlama-lama di Makassar. Mama, semoga Allah selalu menjagamu dengan sebaik-baik penjagaanNya...

Teruntuk Mama dan Bapak, semoga kelak aku bisa membahagiakan dan membuatmu bangga dihadapan Allah...
Aamiin ya Rabbal 'alamin

Rabu, 24 Februari 2016

KACA SPION MASA LALU

Beberapa hari yang lalu ada mahasiswa yang datang dan meminta waktu saya sebentar. Karena lagi tidak mengajar, saya pun mengiyakan. Awalnya saya mengira dia akan meminta saran tentang tugas akhirnya. Soalnya akhir2 ini, beberapa mahasiswa meminta waktu untuk diskusi soal proposal skripsinya. Ternyata dia ingin meminta waktu untuk didengarkan ceritanya. Cerita tentang kehidupan pribadinya dan dia ingin berhijrah.

Sebelumnya saya sudah minta izin untuk membagi pengalamannya ke orang lain tanpa menyebutkan identitasnya. Disini saya tidak akan bercerita tentang masalahnya. Namun, saya tertarik saat dia mengatakan, "Kak, saya ingin hijrah seutuhnya. Bisakah saya menghapus semua masa laluku?"

Butuh waktu sejenak untuk mencari kata-kata yang tepat untuknya. Adik yang dikirimkan oleh Allah dihadapanku saat itu adalah seorang hamba yang sedang mendapat hidayah. Dia butuh penguatan untuk lepas dari semua bayang2 masa lalunya.

Adikku yang kucintai karena Allah...
Hidup itu seperti mengendarai sebuah kendaraan. Engkau harus tetap berjalan agar keseimbanganmu tetap terjaga. Apapun yang akan engkau hadapi, engkau harus selalu siap meskipun engkau tak pernah tahu seperti apa jalan yang sedang menunggumu di depan sana.

Jika hidup ibarat mengendarai sebuah kendaraan, maka kaca spion itu seperti masa lalumu. Sejauh apapun kamu melangkah, engkau akan tetap membutuhkannya. Namun, jangan terlalu sering melihat kaca spion karena engkau bisa terjatuh atau mencelakai orang lain. Cukup sesekali saja melihat kaca spion sebagai bahan pelajaran agar tak mengulang kesalahan yang sama. Jadi, jangan terlalu sering melihat masa lalumu karena bisa mengganggu fokusmu untuk meraih masa depanmu yang jauh lebih baik.

"Tapi saya ingin melepaskan kaca spion itu Kak?"

Adikku yang kucintai karena Allah...
Boleh jadi saat ini engkau masih merasakan rasa sakitnya. Tapi, yakinlah bahwa kelak engkau akan berterima kasih pada semua hal yang pernah ada di masa lalumu. Jadikanlah masa lalumu sebagai bahan pelajaran untuk anak cucumu kelak agar mereka tak mengulang kesalahan yang sama.

"Haruskah saya tetap menyimpan kaca spion itu Kak?"

Yapp, berikan dia tempat terbaik dalam kehidupanmu. Lapangkan hatimu untuk menerima bahwa masa lalu itu pernah hadir dalam hidupmu. Tunggulah sampai kelak engkau akan sangat berterima kasih kepada Allah karena telah mengirimkan guru kehidupan dalam hidupmu.

"Bagaimana jika masa laluku itu adalah kehadiran seorang laki-laki Kak? Saya ingin benar-benar lepas dan ingin seutuhnya hijrah Kak..."

Adikku yang kucintai karena Allah...
Siapa pun itu, entah dia laki-laki atau perempuan. Jika kaca spionmu itu adalah tentang seorang laki-laki yang pernah hadir dalam hidupmu, maka berikanlah dia tempat terbaik dalam kamus kehidupanmu. Agar kelak ketika anak cucumu hadir dan bertanya, maka engkau punya cukup referensi pengalaman tentang bagaimana menjadi seorang laki-laki yang baik. Jika anak cucumu adalah laki-laki, maka dia bisa belajar tentang bagaimana menjadi seorang calon suami dan calon ayah kelak untuk keluarganya. Jika anak cucumu adalah perempuan, maka dia bisa belajar tentang bagaimana memilih calon suami dan calon ayah untuk anak2nya kelak. Bukankah dia tetap menjadi guru kehidupanmu bukan?

"Jadi bagaimana caranya supaya saya bisa lepaskan semua masa laluku Kak?"
Lapangkan hatimu, luaskan hatimu, dan maafkan semuanya...

Adikku...
Tak ada yang kebetulan di muka bumi ini...
Semua sudah dalam skenario Allah, penulis cerita terbaik untuk kehidupanmu...
Pun begitu dengan orang-orang yang dikirimkan oleh Allah dalam hidupmu...
Mereka adalah guru kehidupan di Universitas Kehidupan...
Maka saat hidayah itu datang menyapamu...
Jagalah dia...
Dan mintalah selalu kepada Allah untuk ditetapkan di jalan cinta para pejuang...
Karena hanya Allah yang menggenggam hati-hati kita...
Wallahu a'lam bi shawab...

# terima kasih untuk seorang adik yang sudah berbagi dan semoga Allah menguatkan langkahmu untuk menjemput cintaNya Allah...

Sabtu, 23 Januari 2016

Aku, Kamu, dan Ibu Kita...

Aku menatap layar hp-ku. Sebuah nama muncul di layar. Telpon yang kutunggu.

Ya, aku sedang menunggu telponnya untuk membicarakan bagaimana akhir dari semuanya.

"Assalamu'alaikum", sapaku mengawali pembicaraan.

"Wa'alaikumussalam wr.wb", jawaban salam dari si penelpon.

Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya sampailah pada point penting pembicaraan kami. Aku pun memulai pembicaraan penting itu.

"Aku sudah bicara dengan Ibuku...", kataku memulai pembicaraan kami.

"Hhmmm, terus?"

"Jawabannya sama dengan ibu kamu. Kita belum bisa bersama saat ini. Kemungkinannya kecil jika kita harus bersama sekarang. Kecuali..."

"Kecuali apa?"

"Kecuali takdir memang mengatakan kalau kita ditakdirkan bersama..."

Tak ada suara dan hening beberapa saat. Hingga satu keputusan itu pun keluar dari lisanmu...

"Kamu akan dapat yang terbaik. Sekarang, biarkan aku mendekatkan diri kepada Allah..."

"Begitu?"

"Ya, biarkan Allah yang menunjukkan jalan kita berdua..."

"Tak akan ada yang berubah bukan?"

"In syaa Allah, silaturahim kita akan tetap terjalin..."

"Mungkin aku butuh waktu..."

"Berapa lama?"

"Entahlah. Tapi aku akan berusaha agar tak ada yang berubah..."

Pembicaraan itu pun akhirnya berakhir...
Tapi aku tak pernah tahu apakah kisahnya akan berakhir sampai disini...
*********************************************

Sepenggal kisah seorang sahabat terbaikku...
Dua orang yang pada akhirnya memutuskan bahwa ibu adalah segalanya...
Dan kembali kepada Allah adalah keputusan terbaik...
Entah bagaimana akhirnya...
Hanya waktu yang bisa menjawab...
Maaf jika aku menuliskannya di blog pribadiku...
Aku hanya ingin menuliskannya...
Berharap selalu yang terbaik untukmu...

Aku tiba-tiba menemukan tulisan dari Fahd Pahdpie yang menggambarkan kisah kalian berdua...
"Aku tahu ini absurd. Menyebalkan sekaligus memuakkan. Sebenarnya, mereka tak punya hak dan kewenangan apa-apa untuk mengatur-atur hidupku, apalagi mengatur masa depanku dan kamu. Namun, kita dilahirkan di tengah budaya saat seorang anak harus menghormati dan tak boleh menyakiti hati kedua orang tuanya. Sejak kecil, kita diajari tentang karma dan tata krama. Sejak kecil, kita ketakutan menjadi Malin Kundang yang durhaka dan begitu berdosa."

Ya...
Sampai kapan pun pintu surga itu masih ada pada ayah dan ibu...
Maka biarkan semuanya berjalan...
Biarlah waktu yang menjawab...
Kemana muara dari semua kisah ini akan berakhir...
Belajarlah untuk memantaskan diri...
Pastinya memantaskan diri dihadapan Allah...
Lagi-lagi biarkan waktu yang menjawab semuanya...
Jika memang takdir berpihak pada kalian, maka biarkan Allah yang mengatur dengan segala ketentuanNya...
Bukankah kita hidup untuk mencari keberkahan?
Lagi-lagi ini soal keyakinan...
Seberapa besar keyakinanmu kepada Allah...
Maka jagalah keyakinanmu kepadaNya...
Dan biarkan skenarioNya yang berjalan...

Banyak hal di dunia ini yang kadang-kadang terlihat tidak adil...
Ketika perkataan orang lain menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan kebahagiaannya...
Mungkin terlihat tak adil di mata manusia...
Tapi bukankah tinta itu sudah kering?
Semua takdir kehidupan seseorang telah tertuliskan...
Tugas kita hanyalah memainkan peran sebaik mungkin dihadapanNya...
Dan biarkan waktu yang akan menjawab semuanya...

Satu lagi tulisan menarik dari akun salah satu sahabat FB...
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan

Maka, percayalah..
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya

Tapi,
seberapa yakin kau padaNya
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya
seberapa besar kau merayuNya
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya,lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya.

Percayalah dengan ayat ini, "..Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (Q.S. Al-Baqoroh:216)

#Makassar, 23 Januari 2016
Lama gak nulis cerpen, finally memutuskan menulis cerita tentang salah satu sahabatku...
Semua doa terbaik untuk kalian...
Biarkan Allah yang menunjukkan jalan kalian berdua... ^_^

Jumat, 22 Januari 2016

AKU, HUJAN, DAN DOA-DOAKU...

Sejak aku mengetahui semua tentang dirimu...
Aku mulai belajar untuk menyukaimu...
Tak lagi mengutuk kehadiranmu...

Sejak aku mengetahui bahwa kehadiranmu adalah rahmat...
Aku mulai belajar untuk mencintaimu...
Tak lagi menjadikanmu sebagai kambing hitam untuk setiap kejadian yang kualami...

Sejak aku mengetahui bahwa begitu banyak yang mengharapkan kehadiranmu...
Aku mulai belajar untuk merindukanmu...
Karena aku sudah tahu...
Bahwa kehadiranmu adalah waktu terbaik untuk melantunkan semua harapan dan doa-doaku kepadaNya...

Setiap kali engkau hadir...
Aku selalu merasa dekat denganNya...
Seperti ingin menyapaku dengan lembut, "sudahkah engkau bersyukur hari ini?"

Setiap kali melihatmu dari tempat dimana kakiku berpijak...
Disaat itulah aku melangitkan semua harapan dan doa-doaku...

Setiap kali melihatmu jatuh dihadapanku...
Meresap ke tempat dimana kakiku berpijak...
Disaat itulah aku berharap doa-doaku pun meresap seperti dirimu yang menyatu dengan bumi...

Setiap kali melihatmu mengapus jejak yang telah kulewati...
Disaat itulah aku berharap pintu ampunan terbuka lebar untuk setiap dosa-dosa yang kubuat...

Setiap kali melihat orang-orang yang tersenyum karena kehadiranmu...
Disaat itulah aku menghadirkan wajah orang-orang yang telah dikirimkan oleh Allah untuk menjadi guru dalam kehidupanku...
Berharap doa pengikat hati semakin menguatkan ukhuwah di antara kami...

Aku...
Hujan...
Dan doa-doaku...
Boleh jadi salah satu doamu terkabul disaat kehadirannya...
Maka langitkanlah semua doa dan harapanmu...

#Makassar, 22 Januari 2016
Edisi menikmati hujan bersama anak-anak ideologisku... ^_^

NUTRISI UNTUK PASIEN COVID-19

    Pasca postingan tulisan pengalaman saya menghadapi Covid-19 di instagram  (@cerita_bonita), banyak teman yang DM dan japri bertanya ...